Manga Dragon Zakura Akan Diremake Oleh Artis Indonesia

September 5, 2013 12:00 am
Manga Dragon Zakura Akan Diremake Oleh Artis Indonesia

Sama seperti di Jepang, di Indonesia sekarang ini, semakin banyak permasalahan yang dihadapi anak-anak SMP dan SMU dalam mengerjakan ujian masuk ke sekolah lanjutan. Melihat adanya kemiripan di sana, TG Rights Studio Co. akan bekerjasama dengan grup Kompas Gramedia untuk membuat remake dari manga Dragon Zakura.

dragon-zakura-01Dragon Zakura adalah manga yang menceritakan tentang sekumpulan pelajar yang dianggap gagal (dengan rata-rata nilai 36), tetapi mendapatkan latihan spesial dari sang guru, Kenji Sakuragi, yang profesi utamanya sebenarnya adalah pengacara, untuk membuat mereka bisa masuk ke Universitas Tokyo, sekaligus juga menyelamatkan sekolah yang sudah mau bangkrut. Manga ini dikarang oleh Norifusa Mita dan diserialisasi dari tahun 2003 sampai 2007, dan juga dibuatkan film live action TV series pada tahun 2005, serta drama Korea pada tahun 2010 dengan judul “Master of Study”. Penjualan manganya juga cukup tinggi, yaitu sekitar 6 juta kopi, akankah versi Indonesianya nanti sesukses ini?

dragonzakuraaVersi Live Action diperankan oleh Hiroshi Abe sebagai Kenji Sakuragi.

Versi indonesianya akan dikerjakan oleh kartunis Indonesia (yang namanya belum diketahui), dan Universitas Tokyo juga akan diganti menjadi sekolah lokal.

Desain pemeran utama untuk versi Indonesianya dapat dilihat seperti di kanan , dan sepertinya akan bernama… Donny?

dragon

Rencananya, komik dalam bentuk digital akan dirilis pada bulan September, disusul dengan buku komik pada awal tahun depan. Selain Dragon Zakura ini, TG Rights Studio dan Kompas Gramedia juga memiliki tujuan untuk membuat lebih banyak lagi remake dari manga-manga Jepang dan juga adaptasi untuk film dan TV mereka.

“Karena tes ujian masuk juga menjadi semakin kompetitif di Indonesia, kami menyimpulkan bahwa akan lebih mudah meraih hati pembaca di sana. Kami juga berharap permintaan untuk hak penjualan atas jimat untuk ujian, pedoman belajar dan juga materi-materi lain,” jelas salah satu member TG Rights Studio.

“Dasar dari ceritanya akan tetap sama, tetapi akan diadaptasi untuk lebih masuk ke situasi sosial setempat, seperti contohnya kebanyakan orang memakai metode transportasi sepeda motor. Selain itu, akan dimasukkan juga hal-hal yang bersifat budaya, seperti terdapat perbedaan tingkah laku orang-orang setempat, tergantung dari mana tempat asal mereka.”

Sumber : Asahi Shimbun