[Midseason Review] Miss Monochrome

December 23, 2013 9:00 am
[Midseason Review] Miss Monochrome

Yui Horie, pengisi suara yang cukup terkenal yang sebelumnya pernah mengisi Chie Satonaka dari Persona 4 dan Hanekawa Tsubasa dari Monogatari Series, sebenarnya memiliki “maskot virtual” yang dinamakan “Miss Monochrome” yang ditampilkan pada konser-konsernya. Kini maskotnya diangkat menjadi sebuah seri anime.

Kalau hanya sekadar melihat konsep ini, mungkin kesan yang ditangkap itu hanya “Ah, cuma tie-in/cash-in sederhana buat promosiin Yui Horie” (yang mana memang sempat jadi media promosi figur Nendoroidnya), atau “Ah, paling-paling isinya sangat generik dan standar”. Tapi di luar dugaan, Miss Monochrome bisa menjadi anime yang menarik.

Android yang ingin menjadi idol

monoidol
Anime ini menceritakan tentang Monochrome (diisi oleh Yui Horie), sebuah android yang ingin menjadi idol, dan ini nampak jelas di tiap episodenya. Monochrome terus berjuang untuk mengambil langkah-langkah untuk menjadi seorang idol. Tetapi pada akhir episode, Monochrome biasanya akan mendapat sesuatu yang benar-benar berbeda/tidak ada hubungan dengan menjadi idol. Itu karena…

Twist yang gila

monohogan
Kalau harus disebut hal yang paling berkesan dari anime Miss Monochrome (selain suara Yui Horie yang sangat cocok untuk karakter android yang tidak berekspresi tetapi lucu), twist yang seringkali di luar dugaan di kebanyakan episodenya menjadi ciri khas dari anime Miss Monochrome ini. Twist-twistnya begitu gila, sampai bisa dibilang “fresh” karena saking gilanya, twist tersebut tidak pernah ditemukan di anime-anime lainnya.

Memang tidak semua episodenya memiliki twist yang benar-benar lucu, tapi cukup terasa alur cerita Miss Monochrome ini benar-benar ingin “beda dari yang lain”.

Salah satu episodenya menunjukkan Monochrome tidak sengaja menjadi juara dunia gulat karena ia ingin mengadakan event salaman dengan idol. Kesannya aneh/tidak masuk akal? Itulah tingkat twist-twist yang ada di anime Miss Monochrome ini.

Singkatnya episode

monochrometime
Tiap episode hanya berdurasi 4 menit, termasuk ending creditsnya. Akibatnya, tiap episodenya hanya berfokus di satu twist saja. Semua episode terasa seperti sebuah pengenalan masalah, perjuangan, klimaks, dan satu konklusi yang dirangkum dalam waktu 3 menit. Mungkin bisa dibilang kalau satu episodenya bisa diibaratkan sebagai sebuah komik 4koma (4 panel) yang diceritakan sepanjang 3 menit tersebut.

Verdict: WATCH

Dari episode pertamanya, Miss Monochrome berhasil mengejutkan saya dengan twist yang benar-benar “LOLOMGWTF”. Meski sayangnya ada beberapa episode yang twistnya kurang mengundang tawa. Tapi dengan waktu tayang yang singkat, tidak ada salahnya untuk mengikuti seri ini sampai selesai.