Aoki Hagane no Arpeggio Bermain Di Lautan Dangkal

January 6, 2014 1:00 pm
Aoki Hagane no Arpeggio Bermain Di Lautan Dangkal

Dibandingkan dengan manga-nya yang penuh intrik dan politik, versi animenya terlihat seperti tontonan anak-anak.

Saya penggemar manga Arpeggio, ide kapal moe dalam wujud Takao yang tsundere menempel ketat di kepala saya, yang juga membuat saya kecanduan Kancolle. Tapi selain moe, Arpeggio juga menyuguhkan berbagai dimensi cerita yang dalam dan intens selain pertempuran kapal futuristik keren setengah Transformer yang bisa berubah jadi meriam besar.

arpeggio-ep2-iona-grav-gun

Animenya membuat saya HYPE, dengan ekspektasi yang besar karena akan divisualisasikan dengan full CG. Saya menampik pandangan skeptis orang yang khawatir bahwa 3D CG bagi karakter itu ide buruk. Saya pikir tak apa-apa, toh saya juga cari pertempuran kapalnya yang memang harus divisualisasikan dengan 3D CG agar bisa bagus.

Tapi saya diingatkan bahwa realita itu tidak seindah dan semulus body Iona (kapal selamnya).

The Good – Musik
Komposer Monster Hunter mengeluarkan taringnya disini. BGM saat battle terasa intens dan memperkuat battlenya dengan baik.

714213-aoki_hagane_no_arpeggio_ars_nova___03___large_32

Tanpa Rathalos, tapi disini kita mendapat Takao, Haruna, Kirishima dan Kongou sebagai sosok yang memerlukan lagu battle yang bagus. Masato Koda tidak mengecewakan sama sekali.

The Mixed – (Not So)Great Visual
Keputusan Sanzigen selaku studio animasi utamanya untuk menyajikan Arpeggio dengan full 3D CG bisa dibilang setengah tepat, terutama dengan banyaknya adegan dengan kapal yang butuh detail tinggi yang bisa dilakukan dengan lebih mudah dengan CG. Seluruh aspek kapal dari tato hingga transformasi menjadi Graviton Canon digambarkan dengan baik dan detil. sebuah fanservice bagi para penggemar sci-fi dan mekanik.

700989-aoki_hagane_no_arpeggio_ars_nova___02___large_17

Meskipun banyak yang menyayangkan 3D CG untuk para karakter, saya kira hasil jadinya tidak buruk-buruk amat. Memang terasa datar di beberapa adegan, tapi setidaknya tidak seburuk yang saya perkirakan. Tapi memang, animasi 2D tradisional tetap yang terbaik.

The Worst – Pangkas Sana-Sini
Melihat adaptasi Ars Nova membuat saya merasa seperti melihat adaptasi novel bagus menjadi film picisan ala Hollywood. Jujur, saya menonton dengan harapan tinggi akan visual battle-nya dan sudah mengira ceritanya akan dipermak agar sesuai dengan anime. Tapi bahkan dengan standar saya yang sangat rendah akan cerita, saya bisa bilang saya sangat benci adaptasi cerita Ars Nova. Berubah 170 derajat!

qrn4cx3

Mana Chihaya Shouzou? Mana Zordan Stark? Mana pertarungan kubu politik Blue Steel vs Red Steel vs Admiralty Code fanatik vs North Japan Alliance yang menarik itu!?

The HATE – Star Wars Episode
Tidak tahu apa maksudnya, tapi episode terakhir sangat amat mengingatkan saya akan beberapa elemen dari Star Wars Episode VI: Return Of The Jedi

Kemunculan Deathstar! Oh wow!;

deathstar

dan adegan Darth Vader vs Luke

starwars

Hahahaha!
Nope.

Hilangnya banyak sekali karakter penting dan penyederhanaan cerita yang benar-benar dangkal. Akhirnya Ars Nova menjadi “sekadar” cerita shonen dengan ending “Mari Kita Berteman”.

Ars Nova adalah adaptasi yang buruk, hampir jadi sangat buruk jika bukan karena musik yang hebat dan visual yang keren. Jika belum membaca manga-nya, anime ini masih dalam taraf “bisa diterima”. Tapi jika kamu adalah penggemar manga-nya dan tujuanmu bukan untuk melihat adegan dere Takao, anime ini tidak pantas ditonton.