Prinsip Cinta Yang Mengekang di Jepang Dari Yandere Hingga Menjadi Stalker

February 1, 2014 2:05 pm
Prinsip Cinta Yang Mengekang di Jepang Dari Yandere Hingga Menjadi Stalker

Saat ini prinsip percintaan yang dipegang oleh para anak-anak muda di Jepang agaknya sedikit berubah. Perubahan-perubahan tersebut mengakibatkan kecenderungan untuk menjadi stalker mulai bertambah.

Berdasarkan pendapat dari para siswa, akhir-akhir ini lebih mudah untuk mengekang pasangan melalui telepon selular, bahkan sudah banyak yang mengalaminya. Salah satunya caranya adalah “menghancurkan” telepon selular milik pasangan, antara lain dengan cara menghapus segala sesuatu  yang berhubungan dengan interaksi sang pacar dengan teman lawan jenisnya.

Bahkan, mereka sampai meng-forward e-mail dari lawan jenis tersebut kepada telepon selular mereka sendiri, untuk memeriksa isinya! Selain hal-hal tersebut, mereka juga membuat “aturan-aturan” yang mengikat seperti, “Kalau aku telepon atau e-mail, kamu harus balas dalam 10 menit, ya!” , yang harus dituruti oleh pasangan mereka.

Yang menjadi korbannya bukan hanya perempuan saja, bahkan ada juga cerita seorang laki-laki dengan mantan pacarnya (yang pada saat itu masih menjadi pacar), sebelum tidur diharuskan untuk berkirim pesan melalui aplikasi LINE, dan dia tidak diperbolehkan untuk tidur duluan sebelum pacarnya, karena apabila dia tidur duluan, besok paginya akan datang berpuluh-puluh pesan dari sang pacar, yang merupakan teror dari sang pacar. “Karenanya, saya tidak bisa tidur duluan, saya takut,” keluh anak laki-laki tersebut. Ida Hiroyuki, penulis buku tentang stalker dan kekerasan rumah tangga, mengatakan bahwa masyarakat pun menerima kenyataan ini sebagai suatu bentuk cinta.

Semuanya bermula dari efek media, antara lain seperti beberapa selebritis di televisi yang mengatakan,” Memiliki kontrol atas pacar atau istri adalah cinta.” Di game ataupun anime, juga terdapat karakter-karakter yang memiliki rasa posesif yang abnormal kepada pasangannya, atau lebih akrab kita kenal dengan sebutan Yandere. Karena hal-hal tersebut, maka terjadi persepsi yang berubah atas cinta, “Para anak-anak muda menganggap bahwa untuk mengekang sang pacar adalah salah satu bentuk dari perwujudan rasa cinta.”

Berdasarkan statistik di tahun 2005, terdapat kecenderungan peningkatan jumlah stalker untuk anak-anak yang masih berumur belasan. Yang mengerikan adalah sebagian kejadian-kejadian berasal dari pertemuan  di dunia virtual. 

Musim panas tahun lalu, kejadian yang terjadi di prefektur Kanagawa dimana seorang pemuda berumur 15 tahun ditangkap di depan rumah mantan pacarnya, dan tertangkap basah dengan pelanggaran pasal yang berhubungan dengan penyalahgunaan senjata.

Pertemuan pertama mereka berasal dari twitter dan selama kurang lebih 1 bulan hubungan mereka semuanya dilakukan secara jarak jauh melalui internet, lalu sang lelaki diputus sepihak. Pada saat sang lelaki pergi ke rumah sang pacar tersebut, ia ditangkap oleh kepolisian Kanagawa sebelum dia berbuat macam-macam.

Media jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Line, mempermudah seseorang untuk mengekang pasangannya selama 24 jam. Dari yang awalnya hanya merupakan pesan-pesan untuk menarik perhatian sang pacar, yang kemudian berubah menjadi pesan-pesan bernada ancaman, seperti, “kembalilah, kalau kau tidak kembali, mati saja” atau “akan kubunuh kau, lalu kita mati bersama”

Yang menakutkan adalah, para orang tua tidak mengetahui tentang hal ini,  sementara banyak hal berbahaya yang terjadi di dalam telepon genggam milik anak mereka.

Sumber : Dot Asahi