Anime dan Manga Terhindar Dari UU Perlindungan Anak Yang Baru Di Jepang

June 19, 2014 4:20 pm
Anime dan Manga Terhindar Dari UU Perlindungan Anak Yang Baru Di Jepang

Kalau mau melirik material pornografi anak yang paling kental di dunia, kita mungkin akan melirik Jepang yang dengan budaya Enjou Kousai (prostitusi remaja di bawah umur) yang kuat, gravure loli yang sah-sah saja, dan berbagai anime dan manga yang secara eksplisit memperlihatkan anak dibawah umur terlibat kegiatan seksual dan saya tak perlu menyebutkan bagaimana hal-hal tersebut dijual dengan bebas di toko-toko di sana. Wajar, karena hingga beberapa waktu lalu Jepang tidak punya undang-undang yang melarang kepemilikan material pornografi anak dibawah umur. Tapi akhirnya undang-undang tersebut tembus dan berlaku efektif mulai sekarang.

Parlemen Jepang akhirnya memberlakukan undang-undang yang menyatakan bahwa orang yang terbukti memiliki gambar eksplisit dari anak dibawah umur terancam dipenjara atau denda sebesar sekitar 1 juta yen pada hari Rabu lalu. Ini merupakan kemajuan karena selama ini yang dilarang hanyalah produksi dan distribusi, orang yang memilikinya (membeli, mengkopi, dll) bisa lolos dari jeratan hukum. Tapi akhirnya hal tersebut akan berubah, setelah 10 tahun dikumandangkan oleh berbagai lapisan aktivis.

Yang menarik, anime manga tetap sama sekali tidak terpengaruh oleh undang-undang baru ini, mau seberapapun eksplisitnya mereka. Anime dan manga loli, hentai ataupun tidak, sehardcore apapun tetap akan dapat dijual bebas di toko-toko di Jepang. Melegakan? Mungkin iya bagi para penikmat dan kreator, tapi tidak bagi para pihak yang berbeda pandangan. Sebuah laporan langsung dari CNN merangkum kasus ini beserta pendapat dari berbagai orang.

Salah satunya adalah anggota legislatif Jepang Masatada Tsuchiya, ia percaya bahwa kepemilikan dari material pornografi anak, asli ataupun manga tetap dapat berujung pada kejahatan anak. Ia menyebutkan satu kasus di Jepang dimana seorang pemuda menusuk seorang gadis berusia 7 tahun berkali-kali, dan saat digeledah ditemukan banyak material pornografi anak, tapi itu semua manga dan anime. Menurutnya itu cukup membuktikan bahwa anime dan manga seperti itu tidak pantas dikategorikan dalam “kebebasan berekpresi” dan seharusnya dilarang.

Namun salah satu mangaka yang sejak beberapa tahun lalu sangat vokal dalam menyuarakan aspirasi industri anime manga, Ken Akamatsu tidak setuju. Ia menilai bahwa pemberlakuan peraturan seperti itu akan sangat merusak industri kreasi animanga. Para mangaka akan jadi takut untuk menggambar karena takut bahwa apa yang mereka gambar ternyata melanggar peraturan. Lebih jauh lagi ia menambahkan bahwa ada batas jelas antara anak di dunia nyata dan manga. Saat seorang anak di manga (maaf) diperkosa, misalnya, sama sekali tak ada anak di dunia nyata yang disakiti, semua itu hanya imajinasi. Tidak seperti pornografi anak yang benar-benar menyakiti anak kecil.

82c230fc623307141bdd6138472611d61363011470_full

“Tak ada bukti nyata bahwa anime dan manga adalah faktor penyebab utama dari kejahatan terhadap anak. Jika memang ada dan terbukti, kamipun siap bekerjasama” Tambahnya.

Salah satu aktivis melihat hal lain dari anime dan manga sejenis, ia berpendapat bahwa tidak hanya sebagai motivasi untuk pelaku, material seperti ini bisa saja ditunjukkan ke anak kecil sebagai media indoktrinasi agar si anak beranggapan bahwa itu hal yang lumrah. “Mereka bisa mengatakan ‘ini loh yang harus kita lakukan’ ke anak sambil menunjukkan material seperti itu”.

Jepang memang salah satu negara teraman di dunia, tapi dalam kasus perlindungan anak, bisa dibilang Jepang salah satu negara paling lemah, dengan jumlah kasus serupa naik sekitar 20% dari tahun 2011 ke 2012. Dan sekitar 1500 kasus ditutup. Meskipun sekali lagi tidak ada bukti nyata bahwa kasus pornografi anak dan animanga itu berhubungan satu sama lain.

Untuk sementara bisa disimpulkan bahwa anime dan manga akan tetap aman dari jeratan hukum dan sebenarnya mungkin tidak masalah jika ada pertimbangan seperti itu, toh yang punya dan menentukan standarnya adalah masyarakat Jepang, yang tiap hari, kapanpun dan dimanapun terpapar oleh material seperti itu. Karena jika kita kembali ke video tadi, buku yang diambil dan disensor oleh reporter CNN tadi hanya manga shonen biasa dan bahkan bukan hentai!

10459003_745363978836257_820889512233037706_o

Intinya biarlah yang mengerti yang mengerjakan dan memutuskan. Jepang juga bukannya negara barbar tanpa peraturan, buktinya mereka tetap megusahakan aturan ketat agar buku atau material dewasa tetap hanya bisa dibeli dan diakses oleh orang dewasa.

Sumber: CNN
Terima Kasih Bramantyo Bimo atas info tambahannya.