“Toilennale” Pameran Seni Toilet di Oita Jepang

June 26, 2014 9:09 pm
“Toilennale” Pameran Seni Toilet di Oita Jepang

Satu lagi pameran yang unik akan hadir di Jepang, kali ini sebuah kota bernama Oita yang terletak di barat daya Jepang berharap mereka akan bisa menjadi tuan rumah pertama untuk Toilennale – festival seni toilet, di musim panas yang akan datang.

Mungkin bagi kalian terdengar aneh tapi kota ini benar-benar bersemangat untuk merealisasikannya, seperti dikutip dari Quartz mereka tengah membayar seniman dan desainer untuk mengubah 12 toilet umum di kota tersebut menjadi sebuah karya instalasi seni dengan patung-patung, mural dan display interaktif lainnya. Selain itu aksi teatrikal juga akan diadakan didalam kamar mandi yang terletak di toko-toko dan tempat umum bersama dengan pameran koleksi toilet yang diciptakan oleh seniman luar di seluruh area pusat kota. Sebagai cinderamata, kota ini berencana untuk menjual replika dari “Fountain“, karya seni terkenal buatan Marchel Duchamp.

Fountain 1917, replica 1964 by Marcel Duchamp 1887-1968
sumber – Tate.com

Bagi kalian yang sudah pernah berkunjung ke Jepang pasti mengerti betapa perhatiannya penduduk Jepang dengan toilet, tidak jarang kita mendapati toilet-toilet yang dilengkapi dengan peralatan yang canggih. Tidak mengherankan apabila kota Oita sangat berniat untuk mengadakan acara unik satu ini karena Toto, perusahaan produksi toilet terbesar di Jepang, memiliki sebuah pabrik di kota tersebut. Selain itu di taman Wakakusa yang terletak di Oita, sebuah toilet umum yang dilengkapi dengan display interaktif sudah menjadi semacam atraksi lokal.

toilennale-1

“Tujuan dari festival ini adalah menjadikan pusat kota Oita seperti museum seni modern dan marginal, serta memberikan turis kesempatan untuk mengenal lebih dekat Oita melalui seni dan kamar mandi,” jelas Oita. Menjelang promosi Toilennale dewan kota telah meneliti masa lalu Oita untuk mencari segala sesuatu yang berkaitan dengan Toilet. “Kami berharap untuk menemukan reruntuhan kuno kamar mandi bergaya barat pertama di Jepang, tapi tidak ada reruntuhan seperti itu di Oita,” kata Sato.

sumber: Quartz