[AFA ID 2014 Interview] Pengarang, Produser, & Editor Black Bullet

August 25, 2014 8:32 pm
[AFA ID 2014 Interview] Pengarang, Produser, & Editor Black Bullet

Black Bullet adalah salah satu anime season lalu yang memiliki tema unik dan dan konsep yang menarik. Pada AFAID 2014 kemarin, dan AFA juga membawakan orang-orang yang berperan penting dalam membawakan kisah Black Bullet ini, yaitu Shiden Kanzaki, pengarang Black Bullet; Mitsutoshi Ogura, produser anime Black Bullet; dan Yasutaka Kurosaki, editor Black Bullet. Pada AFAID 2014 yang lalu, kami berkesempatan untuk melakukan interview dengan mereka, berikut hasil interviewnya.

kanzaki
Q: Untuk Ogura-san, menurut Anda bagaimana adaptasi anime Black Bullet dibandingkan dengan novel sumbernya?

Ogura (O): Dibandingkan dengan animenya, novelnya menjelaskan cukup banyak tentang setting dunianya, tetapi di animenya lebih berfokus ke bagaimana Rentaro dan Enju bertahan hidup.

Q: Untuk Kanzaki-san, Apa arah tujuan dari cerita Black Bullet? Beberapa bagian terasa berat namun beberapa bagian juga terasa ringan dan ceria.

Kanzaki (Ka): Entah menjawab pertanyaannya atau tidak, tetapi di novelnya ada beberapa bagian yang berbeda dari animenya. Salah satu topik yang diambil oleh novelnya adalah tentang diskriminasi, dan mungkin ini juga yang menyebabkannya terkesan berat. Sementara di animenya, seperti yang Ogura-san bilang, kita lebih memfokuskan di cerita sang tokoh utama.

Q: Untuk Kanzaki-san, dari mana sumber inspirasi untuk Black Bullet?

Ka: Saya mendapatkan beberapa ide dari film, salah satunya dari film Hollywood, seperti Life is Beautiful dan semacamnya.

Q: Dan apa sumber ide dari Gastrea?

Ka: Kalau ditanyakan makhluk apa yang paling menakutkan, sebenarnya banyak makhluk bukan manusia yang cukup menakutkan, seperti gagak, serangga, dan lain-lainnya. Tetapi bagaimanapun juga rasanya manusia takut terhadap mayat manusia, karena itu tema horror seperti zombie cukup terkenal. Karena itu Saya membawakan point-point kuat dari zombie dan juga memberikan alasan kuat agar para gadis-gadis bertarung.

Q: Apa hal yang paling sulit saat mengadaptasi Black Bullet ke anime?

O: Di setting novelnya, ceritanya mengambil setting di daerah Tokyo, dan di adaptasi animenya, kami mengambil detil peta dan lokasi sesungguhnya untuk menampilkan Tokyo sebaik mungkin.

AD3I-1
Mitsutoshi Ogura (produser) dan Yasutaka Kurosaki (editor)

Q: Untuk Kanzaki-san, banyak pembaca kami yang menanyakan “Bagaimana kamu bisa membunuh gadis-gadis imut itu!?”. Apakah Anda mengincar reaksi seperti itu?

Ka: Hahahahaha. Tidak sih. Karakter-karakter yang mati itu mati karena ada plot yang ingin kami ceritakan, bukan karena Saya sekedar mengincar reaksi heboh saja.

O: Sebagai pembuat anime, kami sendiri tidak ingin membunuh karakter-karakternya. Mereka semua imut hahaha. Ada beberapa anime yang menaruh karakternya dalam situasi berbahaya, tetapi berkat kasih sayang pembuat, mereka terselamatkan. Di dunia Black Bullet, kita tidak memberikan toleransi. Dan para gadis-gadis kecil di Black Bullet lebih kuat daripada orang dewasa biasa. Itulah yang ingin kita sampaikan ke penonton, itulah tema Black Bullet.

Q: Di animenya terasa kematian karakter membuat karakter Enju berkembang menjadi lebih tangguh, apakah memang itu tujuannya?

O: Kami menggambarkan Enju dan Rentaro sebagai pasangan yang saling melengkapi, di mana Enju menutupi kelemahan Rentaro dan juga sebaliknya. Dan ini tidak hanya untuk Rentaro saja, seperti misalnya Kagetane dan Kohina, dan juga initiator & promoter lainnya.

Q: Tetapi tidak semua initiator & promoter seperti itu ya?

Ka: Berbagai macam pasangan memiliki relasi yang berbeda-beda.

O: Ah ya ya, ada pasangan yang seperti keluarga, ada juga yang hanya sekedar relasi kerja bisnis. Tetapi satu hal yang sama untuk tiap pasangan initiator & promoter adalah mereka semua memiliki koneksi masing-masing.

Q: Untuk Kanzaki-san, salah satu karya Anda sebelumnya, “Koi no Cupid”, isinya lebih ringan dan temanya adalah love comedy. Anda lebih suka menulis yang mana?

Ka: Sebelum Saya merilis “Koi no Cupid”, Saya juga merilis karya debut yang berjudul “Marginal”, dan bisa dibilang “Marginal” lebih mendekati Black Bullet karena ada tema hidup dan matinya. Jika ditanya Saya lebih ingin menulis yang mana, Saya merasa tema Black Bullet dan Marginal lebih pas dengan ciri khas Saya.

Q: Siapa karakter favorit Anda di Black Bullet?

Ka: Sebagai penulis, Saya tidak bisa memilih untuk menyukai satu karakter lebih dari yang lain.

O: Enju, karena dia mengalami berbagai kesulitan dan berkembang melaluinya, dan juga dia membantu Rentaro dan juga kuat menahan berbagai beban. Rasanya karakter seperti ini jarang ditemukan di anime-anime lain.

Kurosaki (Ku): Tina, perbedaan sifat saat sedang bertarung dan saat sedang santainya imut.

Q: Apakah Anda mau hidup di dunia Black Bullet?

O: Hahahahaha. Pingin sih, tapi setelah dipikir-pikir, sebaiknya tidak deh. Tapi kalau mengetuk lubang pintu got, akan keluar gadis kecil ya…

Ka: Hmm, bagaimana ya. Aku menulisnya, tapi rasanya Aku tidak mau tinggal di sana hahaha.

O: Justru malah menulis dunia yang tidak diinginkan ya. Yah, tapi kalau ada Enju sih boleh juga ya.

Ka: Rasanya ini pertanyaan yang sering dipikirkan oleh pengarangnya “Shingeki no Kyojin” juga.

Ku: Aku ingin bertarung sebagai Promoter dan mendapatkan gadis imut sebagai Initiatorku hahahaha.

Itulah hasil interview kami dan media-media lain dengan pengarang, produser, dan editor dari Black Bullet. Masih ada banyak interview-interview lain dari AFAID 2014 termasuk staff anime lain dan juga artis-artis lain. Special thanks to AFA Channel, SG Cafe, & Ani-Culture.