[Midseason Review] Cross Ange

November 13, 2014 2:09 pm
[Midseason Review] Cross Ange

Entah tersambar apa (baca: tersambar profit dari Love Live), pada season ini Sunrise menayangkan empat anime mecha sekaligus, yaitu OVA Buddy Complex, G-Reconquista, Gundam Build Fighters Try, dan Cross Ange. Dari ke-empat seri tersebut, Cross Ange nampak sebagai sebuah seri yang paling belum pernah didengar. Meski begitu, Cross Ange sempat menarik beberapa perhatian dengan sutradara Mitsuo Fukuda (Gundam SEED & SEED Destiny), Mizuki Nana dan beberapa seiyuu ternama lainnya yang mengisi suara karakter-karakternya, musik oleh Shikata Akiko, dan juga desain kostum yang konyol “unik”. Lalu bagaimana dengan hasilnya? Setelah tayang sebanyak 6 episode, berikut pendapat kami.

Cross Ange menceritakan tentang Ange, atau Angelise, seorang putri yang rasis dari sebuah kerajaan di dunia di mana para manusia bisa menggunakan sihir yang bernama Light of Mana. Terdapat juga ras manusia yang disebut sebagai Norma, yaitu manusia perempuan yang tidak bisa menggunakan sihir, tetapi langsung menetralisir semua sihir yang mereka sentuh. Kaum Norma juga entah kenapa dibenci dan dianggap sangat rendah oleh semua manusia lainnya. Sayangnya Untungnya, Angelise ternyata juga adalah seorang Norma. Setelah identitasnya ketahuan, Ange kemudian disekap di sebuah pulau dan dibully diharuskan untuk menaiki robot raksasa untuk melawan naga D.R.A.G.O.N yang mengancam keamanan seluruh umat manusia (bingung? Saya juga).

Tokoh utama yang sangat menyebalkan

Mungkin Anda pernah membenci tokoh utama dari suatu anime. Mulai dari karena sifatnya menyebalkan, terlalu polos, terlalu dense, Mary Sue/Gary Stu, dan berbagai alasan lain yang berasal dari penulisan karakter yang kurang baik. Namun Saya cukup tidak percaya kalau tingkat menyebalkan dari karakter Ange (dan beberapa karakter lain) itu tidak disengaja. Bahkan bisa dibilang sifat-sifat yang dimiliki oleh Ange lebih cocok untuk ditaruh di karakter antagonis (itupun level rendah seperti midboss atau cecurut).

3erca1

Ange adalah seorang gadis rasis, bodoh, semaunya sendiri, tidak bisa menerima kenyataan, tidak menuruti perintah, dan berbagai sifat bermasalah lainnya. Saya sendiri terlepas tertawa terbahak-bahak di episode pertamanya ketika Ange berbicara kepada seorang ibu yang bayinya ditahan karena ternyata adalah seorang Norma seperti ini, “Lupakan anakmu dan buat saja yang baru, kali ini yang bukan monster ya”.

3erca2

Saya mengerti kalau tujuan penulisnya kemungkinan adalah memberikannya sebuah twist atau masalah yang berat yang kemudian merubah karakternya menjadi lebih baik (contoh seperti karakter Luke dari Tales of the Abyss). Namun segala tingkah laku Ange tidak membuat Saya berharap agar karakter Ange dapat menjadi baik, malah justru membuat Saya berharap agar Ange cepat-cepat mati atau menderita (dan pada akhirnya Saya malah menyoraki para musuh dan para karakter yang membully Ange, meski bullynya setingkat dengan tingkah laku anak SD). Meskipun karakter Ange sedikit berubah setelah episode 3, Ange tetap tidak menghormati orang lain, tidak mengikuti perintah, dan Ange yang dari awalnya tidak bisa ganti baju tanpa dibantu tiba-tiba menjadi ahli pisau dan juga pilot terbaik yang bisa mengalahkan semua musuh seorang diri.

Fanservice berlebihan tanpa makna

Dari awal melihat desain kostum pilotnya di materi-materi promosinya, Saya sudah bisa menebak kalau seri ini akan lebih menekankan fanservice dibandingkan seri Sunrise pada umumnya. Namun, ternyata tingkat fanservice di anime ini berada jauh di atas dugaan Saya. Tiap episodenya, Ange akan tampil telanjang setidaknya satu kali. Tidak hanya itu, karakter-karakter lain yang ditampilkan di sex dungeon pulau tempat cerita ini berlangsung pun dipenuhi oleh karakter yang nampaknya berada dalam musim kawin permanen. Berbagai macam konten seksual pun ditampilkan secara implisit dan eksplisit.

3erca3

Hal inipun tidak terbantu dengan kemunculan satu dari sedikit karakter laki-laki yang ada di anime ini, Kira Yamato dengan suara Setsuna F. Seiei Tusk. Kemunculannya di episode 5 memperkencang tingkat kemesuman anime ini, termasuk salah satunya dengan “tanpa sengaja” mendarat di selangkangan Ange sebanyak 3 kali dalam 1 episode (Apa ini, To-Love-Ru?). Hal-hal ini malah memberikan kesan seakan-akan para staf anime ini berteriak “Hei, tolong buatkan doujinshi H dari anime ini!!” (fun fact: saat ini fanart Cross Ange di Pixiv masih sangat sedikit, terutama bila dibandingkan dengan anime Sunrise lainnya yang juga sedang tayang di season ini).

3erca4

Segala keburukan dari Gundam SEED

Nampaknya Fukuda masih belum bisa melepaskan diri dari karyanya yang paling terkenal 12 tahun yang lalu, termasuk segala macam keburukannya. Singkatan yang terkesan dipaksakan? Ada. Adegan battle yang diulang-ulang? Ada. Cewek telanjang di video opening? Ada. Siluet mecha tokoh utama yang mirip dengan suatu mecha tokoh utama lainnya? Ada. Cameo senjata-senjata dari Gundam SEED (dan entah kenapa, Voltus V)? Ada.

Setelah lebih dari satu dekade, Fukuda nampak tidak berkembang, atau malah makin menurun dengan kualitas cerita yang sangat buruk, karakter-karakter yang menjengkelkan, pelanggaran hukum fisika di berbagai sisi, hingga plot-plot yang membuat Saya bertanya-tanya apakah sebenarnya naskah asli anime ini ditujukan untuk anime H ketimbang TV series. Entah apakah nanti juga akan ada atau tidak satu lagi keburukan Gundam SEED di anime ini, yaitu episode recap.

Verdict: Pudding/10

Saya tidak mengerti apa poin bagus dari anime ini selain bagian preview episode berikutnya di mana Mizuki Nana nampaknya malah menyampaikan keluh kesahnya mengenai anime ini. Bahkan musik komposisi Shikata Akiko dan OP, ED, dan insert song yang dinyanyikan oleh Mizuki Nana di anime ini tidak terdengar spesial. Ditambah lagi anime yang akan tayang sepanjang 2 cour ini malah dipenuhi dengan filler mulai dari episode 4, dan nampaknya dananya juga semakin sedikit/dialihkan dengan semakin banyak pengulangan adegan dan kualitas gambar yang terus memburuk.

3erca6

Anime ini tidak direkomendasikan untuk ditonton, kecuali jika Anda sebegitu inginnya mendengar Mizuki Nana mendesah sampai Anda rela mengorbankan kewarasan Anda untuk menghadapi berbagai kebodohan yang Saya sebut di atas dan juga yang tidak disebut di atas karena tidak bisa ditulis tanpa membuat Saya berteriak-teriak sembari mengeluarkan sumpah serapah.

3erca5

Kondisi mental Saya setelah menonton Cross Ange sampai episode 6 bagaikan pudding yang tersambar petir