Di Desa Jepang Ini Boneka Mengantikan Penduduk Yang Semakin Berkurang

January 8, 2015 6:36 pm
Di Desa Jepang Ini Boneka Mengantikan Penduduk Yang Semakin Berkurang

Anak-anak yang duduk di meja sebuah kelas, guru yang mengajar di depan mereka; sekelompok orang tua yang menunggu bus; di tepi sungai, anak laki-laki dengan topi baseball sedang bersender di kayu bakar. Dari kejauhan, pemandangan tersebut terlihat seperti layaknya sebuah kehidupan di sebuah desa di Jepang, namun jika kamu mendekat kamu akan berpendapat lain.

boneka-1

Boneka! Ya boneka, ternyata semua pemandangan diatas adalah boneka yang ada di sebuah Desa di Jepang untuk mengingatkan bahwa komunitas pedesaan seperti itu, beserta ribuan lainnya di seluruh Jepang, sedang berada di ambang kepunahan.

ayano-1

Pembuat boneka-boneka tersebut, Tsukimi Ayano, mengatakan bahwa pada awalnya boneka-boneka tersebut dibuat sebagai orang-orangan sawah. Namun tidak lama kemudian, Ayano menggunakan boneka berukuran manusia tersebut untuk menggantikan tetangga yang sudah meninggal atau pindah dari Nagoro, yang terletak di pulau barat daya Shikoku. Saat ini Ayano berusia 65 tahun dan merupakan salah satu penduduk paling muda di desa tersebut.

Di Desa Nagoro terdapat sekitar 160 boneka semacam itu, jumlah yang jauh lebih banyak ketimbang penduduk manusianya yang saat ini hanya ditinggali 35 penduduk. “Mereka memunculkan kenangan kembali, terutama mereka yang dibuat berdasarkan orang-orang yang telah meninggal,” ujar Ayano.

boneka-3

Tidak hanya di Nagoro, memang sudah diperkirakan bahwa populasi Jepang akan menurun hingga dibawah 100 juta penduduk pada tahun 2046 dan akan mencapai dibawah 45 juta pada tahun 2105. Pada tahun 2060, diperkirakan empat dari sepuluh penduduk Jepang akan berusia diatas 65 tahun. Pemerintah Jepang juga memperkirakan bahwa menurunnya kelahiran dan penuaan penduduk membuat lebih dari 10.000 desa di Jepang berjuang menghadapi penurunan penduduk.

“Meskipun aku mengiginkan desa ini hidup kembali, aku harus menerima bahwa hal tersebut tidak akan terjadi,” ujar Ayano. “Dalam 10 hingga 20 tahun, tidak akan ada yang tersisa disini.” Ayano memutuskan untuk kembali ke desa Nagoro untuk merawat ayahnya. Ibunya, yang saat ini masih ada dalam wujud boneka, meninggal pada usia 56 tahun.

sumber: The Guardian, gambar: New York Post