[Review] Cross Ange: Tenshi to Ryuu no Rondo

April 28, 2015 4:00 pm
[Review] Cross Ange: Tenshi to Ryuu no Rondo

*sigh* Tidak pernah saya bayangkan akan datang hari dimana saya akan merindukan episode baru Cross Ange minggu depan. Serius, no joke. Saya mengambil hukuman tanggung jawab menonton anime yang satu ini karena sepertinya sanity dari Bukan_Randy sudah habis tanpa sisa dimakannya. Untungnya saya pun tidak terlalu pilih-pilih dengan anime, if I enjoy it, I will watch it. Therefore, Cross Ange sekarang menjadi tanggungan saya untuk mereviewnya.

Juga, karena rekan-rekan yang lain sudah mulai banyak menelurkan 3 Eps Rule mereka, rasanya saya harus membuang review yang satu ini dulu sebelum melahirkan 3 Eps Rule lainnya. Disarankan bagi kamu untuk membaca Midseason Review Bukan_Randy dulu sebelum melanjutkan membaca review ini, karena akan sangat berat ke cerita cour kedua.

cross ange review joi (10)

Cross Ange, anime ini adalah sebuah comedy gold karya milik Mitsuo Fukuda yang tidak mengerti apa yang dinamakan dengan kontrol diri. I don’t even know what the hell happened in this anime. Mirip dengan Tengen Toppa Gurren Lagann, kamu tidak perlu berpikir saat menonton anime ini, namun bila TTGL membuatmu semangat dengan ledakan testosteronnya, Cross Ange akan membuatmu gila dengan kelakuan karakternya. So turn off your brain, don’t expect anything, and enjoy the ride.

Dalam cour kedua ini, Ange yang terlempar ke dunia asli yang penuh dengan D.R.A.G.O.N berhasil dibukakan matanya akan rencana licik Embryo yang ingin menjadi Tuhan. Dengan menghancurkan kedua dunia, dia akan menggabungkan sekaligus menciptakan dunia yang baru bersama Ange sebagai pengantinnya. Ange yang akhirnya bertemu dengan Salamandinay kini berada dalam persimpangan jalan, dimana dia terpaksa memilih apakah dia harus menyelamatkan dunia asli, atau membantu manusia di dunia paralel buatan Embryo yang juga kampung halamannya.

karakter review cross ange joi

Sekilas mengenai karakter-karakter utama yang memegang peran penting dalam anime review ini adalah:

  • Ange: Mantan putri raja yang tiba-tiba mengimut di akhir-akhir film karena rambutnya memanjang. Keras kepala, cepat marah, tsundere, dan tidak mau kalah.
  • Tusk: Ksatria VilkissAnge yang jatuh hati kepada Ange, sering kali menjadi lelaki malang yang tertimpa keberuntungan fanservice, akhirnya memiliki hubungan romantis dengan Ange.
  • Embryo: Antagonis utama dalam seri ini, seorang ilmuwan yang kecewa dengan umat manusia dan berambisi menciptakan manusia sempurna sampai memiliki God-complex. Most likely a virgin.
  • Mitsuo Fukuda: Penulis cerita sekaligus orang yang bertanggung jawab atas Cross Ange: Tenshi to Ryuu no Rondo. Nggak percaya? Baca saja hasil wawancaranya.

Anime ini, percaya atau tidak juga dianggap sebagai anime mecha, namun percayalah kalau mecha bukanlah poin utama dari anime ini. The point is, to see Ange raped at least half a dozen of times within the span of the whole anime.

It’s a rollercoaster of madness

Saya iri dengan orang-orang yang masih bisa mengatakan Cross Ange memiliki cerita yang bagus, karena jujur, saya tidak mengerti apa mau Fukuda dengan anime ini. Ceritanya searah tapi njelimet, terlalu banyak karakter tidak penting, dan tentunya, jumlah kain yang melekat pada badan Ange semakin berkurang tiap episodenya. Sepertinya Fukuda benar-benar melepaskan semua hasratnya dalam anime ini tanpa kontrol Sunrise, mungkin mereka sudah lepas tangan, apalagi terkadang kualitas animasinya seperti jet coaster, kadang diatas, kadang dibawah, kadang berputar-putar.

cross ange review joi (11)

Oke, mungkin Cross Ange masih punya cerita, kalau tidak bagaimana caranya sekarang saya bisa merindukannya. But some of the reasoning on this anime is just, stupid, verily. Misalnya, salah satu alasan kenapa Chris berkhianat ke kubu Embryo adalah karena Hilda dan Rosalie tidak mau menyelamatkannya. Terlebih, alasan Chris murka kepada keduanya adalah karena dia dilarang mengepang rambutnya di masa kecil. SERIOUSLY? How long have you endured that stupid grudge of yours, girl?

Beberapa dialog pun sepertinya tidak dipikirkan dengan matang, seperti misalnya saat Ange harus berhadapan dengan Embryo, dia terus-terusan mengatakan kalimat aneh seperti “Aku akan membunuhmu sampai kamu mati.” atau “Aku akan terus membunuhmu selamanya.” Saya tahu dialog “People die if they are killed” milik Shirou itu terkenal, tapi tolonglah Fukuda.

cross ange review joi

Mengenai animasinya sendiri, animasi Cross Ange pun memiliki catatan yang naik turun, kadang mereka diatas, kadang mereka di bawah. Yang pasti saya ketahui adalah detil gambarnya menjadi jauh lebih baik saat adegan yang memperlihatkan fanservice dan menjadi di bawah rata-rata saat menggambarkan adegan normal. Fukuda pun tidak bisa berhenti menggunakan stock footage yang terus diulang, dan diulang, dan diulang, dan diulang lagi.

Akhirnya saya dapat mengatakan ada character development

cross ange review joi (9)

Perkembangan karakter dapat dibilang sangatlah minim di cour pertama anime ini, Ange tetaplah seorang putri raja yang sombong dan tinggi hati. Namun di cour keduaya, Ange berubah menjadi putri raja yang sombong dan tinggi hati, peduli dengan teman dan mudah menarik pelatuk pistol. Oh, dan rambut Ange secara magis tumbuh menjadi panjang di beberapa episode terakhir, membuatnya sedikit imut dan menambah sedikit kenikmatan dalam menontonnya.

Di sisi lain, mungkin hal tersebut bukanlah sebuah perkembangan karakter, mungkin saja karakter lain yang malah mengalami regresi. Banyak karakter yang kemudian bertingkah lebih konyol, seperti Hilda yang tiba-tiba jadi dere, Tusk yang terus-terusan bergeser karakternya dari Yuuki Rito menjadi Kira Yamato, dan tentunya Salia yang setiap episode level menyebalkannya menjadi semakin tinggi.

cross ange review joi (4)

Itu belum menghitung makin banyaknya karakter-karakter cannon fodder tidak penting yang terkadang diberikan nama walaupun keberadaannya sangat tidak signifikan.

Fanservice? Masih banyak, banget, gak keitung

cross ange review joi (8)

Karena Fukuda tidak mengerti apa itu moe, dia secara terang-terangan membuat buah pekerjaannya ini menjadi anime ero. Rasanya tiada episode yang terlewat tanpa baju Ange secara magis tiba-tiba menghilang, entah karena kecelakaan atau dirobek oleh Embryo. Beberapa fanservice yang disuguhkan oleh anime ini antara lain:

  • Baju Ange magically disappears? Check
  • Random grope from Hilda? Check
  • Tentacle vine rape? Check
  • Embryo rapeface? Check
  • Sinar dewa penghalang Valhalla? Check
  • Nana Mizuki moaning for your pleasure? Check
  • Selangkangan Ange mendarat ke muka Tusk? Check Check Check Check Check

cross ange review joi (2)

Selain fanservice dalam bentuk visual, mereka pun menyuguhkan fanservice dalam bentuk audio dan dialog. Saya tidak mengerti kenapa Tusk terus-terusan membanggakan aksinya menggagahi Ange selama 3 hari dan 3 malam di depan Embryo. Walaupun hal tersebut menyebabkan Embryo galau dan reaksinya, yang pastinya adalah reaksi seorang perjaka, sangat menyenangkan untuk dilihat.

Fukuda is being Fukuda

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, film ini mungkin sebuah penggambaran ide-ide gila dari Mitsuo Fukuda. Pernyataannya mengenai membuat anime ero benar-benar diwujudkan, hampir semua karakternya wanita, dan adapun 2 karakter pria yang vital terhadap seri ini, keduanya dibuat mesum luar dan dalam.

Saya membayangkan Tusk adalah sebuah metafora Fukuda akan dirinya sendiri yang diproyeksikan dalam anime ini. Mungkin Tusk adalah mimpi Fukuda, mengingat betapa besar cinta Tusk pada Ange, dan betapa besar cinta Fukuda kepada Ange juga. Dia menggambarkan Tusk seperti seorang pangeran berkuda putih yang sangat setia dan selalu siap memberikan segalanya bagi Ange.

cross ange review joi (3)

Di lain pihak, Embryo mungkin adalah gambaran Fukuda akan para otaku yang haus belaian dan bernafsu ingin memiliki Ange untuk mereka sendiri. Mereka yang giat mencari waifu. Karena itu dia gambarkan Embryo sebagai sosok yang tidak bisa mati, dapat memperbanyak diri seenak jidatnya dan keras kepala. Namun di akhir cerita, Tusk (Fukuda) berhasil membuktikan bahwa dialah yang paling pantas untuk memiliki waifu seperti Ange.

Harap diingat 2 paragraf diatas adalah opini, tolong jangan dianggap serius.

Conclusion: Don’t think, feel.

cross ange review joi (6)

Scratch that, don’t even feel it, just… don’t watch it. Bagi kamu yang dapat menonton anime tanpa berpikir, atau memiliki toleransi yang super tinggi, atau memang sejak awal sudah masochist, menonton anime ini bisa menjadi sangat menyenangkan. Kamu akan menemukan banyak sekali kekonyolan dalam anime ini, dan mungkin kamu tidak akan bisa berhenti berkomentar. Tapi jangan sekali-kali memikirkan kekonyolan yang ada dalam anime ini, kamu hanya akan menambah beban stress di kepala, dan mungkin kamu akan ikut-ikutan sarap.

But once you get past all that, menonton anime ini seperti menaiki roller coaster, it’s fun while it last, and it’s freaking wild. Sebenarnya banyak aksi mecha yang terdapat dalam anime ini, namun karena penggunaan stock footage yang berlebihan dan kurang lebih karena itu aksinya jadi membosankan, saya jadi lupa anime ini sebenarnya anime mecha, mungkin.

Is it recommended?

Sepertinya susah merekomendasikan anime ini untuk ditonton, selain keliaran anime ini, kamu yang sangat kritis terhadap anime pasti akan menemukan kepalamu overheat setelah setiap episode. Karena itulah Bukan_Randy terpaksa memilih kesehatan jiwanya dibandingkan menonton anime ini. Namun bagi kamu yang tidak kenal takut, toleran, dan masochist, tidak ada salahnya untuk mencoba.

Karena, setidaknya ada satu alasan kuat untuk menonton anime ini, mendengarkan suara lemas Nana Mizuki yang digagahi oleh Tamura Yukari.

cross ange review joi (7)
Likeaboss.jpg