[Review] Parasyte: Part 2

June 7, 2015 3:03 pm
[Review] Parasyte: Part 2

Penggemar seri Parasyte tentunya sudah menunggu-nunggu kapan film live-action adaptasi manga tahun 80-an ini akhirnya ditayangkan di Indonesia. Karena itu, pada tanggal 10 Juni mendatang jangan lupa untuk menontonnya di Blitz Megaplex ya. JOI mendapatkan kesempatan dari Moxienotion untuk menonton film ini lebih dulu pada tanggal 3 Juni kemarin, dan kini saatnya saya melakukan review mengenai film ini.

Harap diingat bahwa saya tidak pernah menonton animenya, membaca manganya, bahkan saya pun belum menonton film Parasyte: Part 1. Untungnya, bekerja di JOI memberikan saya cukup bekal untuk mengerti premis ceritanya, dan saya ditemani oleh Nugrahadi yang juga penggemar seri tersebut; sehingga saya tidak terlalu hilang arah saat menontonnya. Jadi review ini benar-benar datang dari saya yang purely ingin menikmati film tersebut.

What can I say about it, it’s thoroughly enjoyable, bila tidak menghitung beberapa perubahan yang mereka lakukan di filmnya, menurut Nugra. Film ini menggabungkan efek-efek komputer yang luar biasa, drama-drama yang kuat, serta cerita yang solid. Untuk me-refresh ingatan, ada baiknya kamu membaca review film Parasyte: Part 1 tulisan Dedemit terlebih dahulu.

Trypophobia? Berhati-hatilah saat menontonnya

Trypophobia adalah sebuah ketakutan terhadap benda-benda dengan pola lubang tidak beraturan, banyak gambar-gambar yang menjijikkan ini beredar di internet terkadang membuat bulu kuduk saya merinding sendiri. Saya pun tidak lepas dari hal tersebut saat beberapa kali melihat organ dalam parasyte di film ini. Grafik komputer yang ditawarkan memang sangat luar biasa, sehingga tidak hanya terlihat mirip dengan aslinya; namun juga sangat halus sehingga pergerakan rongga-rongga parasyte ini terlihat dengan jelas.

JOI review parasyte part 2 (3)

Mungkin trypophobia saya tidak mencapai level ekstrim, karena saya tidak sampai kemudian teriak atau harus keluar dari ruang bioskop. Setidaknya saya tahu ada beberapa kali saya merasa sedikit mual, tapi saya tetap harus melayangkan pujian pada divisi grafik komputer mereka.

I didn’t sign up for feels

Pada awalnya, saya berharap menonton sebuah film dengan genre aksi dan horor, seperti yang sudah saya perkirakan sebelum menyaksikan film ini. Namun ternyata drama-drama yang diperlihatkan dalam film ini malah lebih membuat saya tertarik dibandingkan dengan elemen horor dan aksinya. Saat ini saya menyesal belum membaca source materialnya sebelum menonton Parasyte: Part 2.

JOI review parasyte part 2

Beberapa kali saya dibuat terenyuh dengan adegan-adegan sedih dalam film ini, seperti misalnya saat Tamiya Ryoko menyadai perasaannya yang sudah mulai menyatu dengan manusia, saat jurnalis Kuramori mengalami musibah terlibat lebih jauh dengan Parasyte, dan juga saat Migi dikalahkan oleh Goto pertama kalinya. Saya tahu, itu memang spoiler, namun saya menekannya seminim mungkin dan saya yakin yang sudah membaca manganya pasti tahu apa yang saya bicarakan.

Pacing yang cukup baik

Mengingat Parasyte harus memadatkan 10 volume manga ke dalam 2 episode film layar lebar, saya merasa film ini memiliki pace yang cukup baik. Menurut Nugra, film ini melewati 3 arc besar dari manganya, namun sepertinya tetap mengikuti jalan ceritanya walau dengan sedikit perubahan. Jujur, saya yang tadinya tidak mengharapkan apa-apa menjadi tertarik dengan seri ini. Pantat saya kejepit di kursi dan mata saya tidak bisa lepas dari layar bioskop.

JOI review parasyte part 2 (2)

Parasyte will entertain you for hours, well, setidaknya untuk durasi hampir 2 jam menyuguhkan film yang pacingnya terus berada di atas. Hampir tidak ada adegan yang membuat saya bosan karena sepertinya satu adegan akan menjelaskan adegan yang lain. Digabungkan dengan akting para pemain dan ekspresi Shinichi yang kerap kali mengundang senyuman, apalagi saat mempertanyakan kelakuan Migi.

Conclusion: It’s a good watch

It’s a really good watch, please do enjoy it to your hearts content. Saya yakin pasti banyak yang kecewa karena film ini tidak sepenuhnya mengikuti manga source materialnya. Memadatkan 10 volume manga ke dalam 2 episode berdurasi 4 jam bukanlah hal yang mudah, modifikasi cerita akan terjadi di kanan dan kiri sudah pasti tidak terhindarkan. Pasti akan ada yang kecewa dengan film ini. Saya tidak akan heran bila kamu akan membandingkan antara film ini dengan source materialnya.

Namun sudah pasti keduanya tak akan sama, menurut pendapat saya Parasyte: Part 2 tetap entertaining dengan caranya sendiri. Even Kotaku’s reviewer had a change in mind.