Developer Ternama Jepang Bicarakan Game AAA, Masa Depan Industri Game Jepang

September 3, 2015 4:44 pm
Developer Ternama Jepang Bicarakan Game AAA, Masa Depan Industri Game Jepang

Majalah Famitsu baru saja mengadakan wawancara dengan sejumlah developer ternama dari Jepang yang membahas tentang industri game di Jepang.

Wawancaranya yang panjang tersebut membahas tentang kondisi game AAA di Jepang, dan komentar tentang masa depan industrinya. Untungnya rangkuman dari masing-masing developer telah disiapkan oleh Hokanko-Alt.

famitsu-wawancara-dev-jepang-1

Developer yang diwawancara adalah:

(Dari kiri ke kanan)

  • Cygames: Toeishi Ashihara
  • Platinum Games: Hideki Kamiya
  • Square Enix: Yohinori Kitase
  • Koei Tecmo: Akihiro Suzuki
  • Sega: Toshihiro Nagoshi
  • Koei Tecmo: Yosuke Hayashi
  • Bandai Namco: Katsuhiro Harada
  • CyberConnect2: Hiroshi Matsuyama

Toeishi Ashihara (Cygames)

  • Biasanya terkenal membuat game mobile, tapi baru saja mendirikan studio baru di Osaka yang dikhususkan untuk membuat game PS4. Sebagian besar staff-nya tumbuh bersama konsol, jadi dia tidak merasa aneh.
  • Tetapi tidak melihat studio ini menjadi sumber pemasukan utama mereka.
  • Tidak berencana membawa game mobile ke PS4.
  • Menggunakan engine game buatan sendiri.
  • Mempertimbangkan untuk menghadirkan game free-to-play.

Hideki Kamiya (Platinum Games)

  • Dengan Scalebound, dia mencoba untuk menghadirkan dunia yang luas dan photorealistic yang beberapa generasi lebih maju dari yang dulu dia coba di Okami.
  • Sangat tertarik dengan virtual reality.

Yoshinori Kitase (Square Enix)

  • Forum seperti 2ch suka membagi game menjadi kategori seperti “game HD,” “MMO,” atau “game online.” Meski Mobius Final Fantasy adalah game mobile, tetapi sebenarnya sekelas dengan game AAA karena teknologi yang digunakan tidak berbeda jauh dengan Final Fantasy XII.
  • Internal Square Enix mulai ramai ketika mereka mendapatkan dev kit PS4 untuk pertama kalinya dan mulai memikirkan apa saja yang bisa mereka lakukan.
  • Ketika membuat game AAA, Square Enix mempertimbangkan kelebihan masing-masing tim dan membaginya secara adil.
  • Square Enix percaya mereka harus membuat game mobile berkualitas tinggi atau mereka akan ketinggalan.
  • Meski PS4 sukses di luar Jepang, kondisi bisa berubah seketika. Ada kemungkinan kalian bisa melihat pengumuman game Final Fantasy baru di mobile conference.
  • Hasil terbaik dari menyuruh tim mereka untuk membuat game AAA seperti Final Fantasy XIII adalah membuat banyak orang ingin memainkan game AAA. Merujuk hal tersebut, mereka menganggap Mobius Final Fantasy.
  • Memperkirakan kekuatan smartphone akan setara dengan PS3 dalam waktu 6 bulan hingga 1 tahun, tetapi kapasitas baterai dan suhu ponsel adalah masalah besar.
  • Bukan hanya kekuatan saja, tetapi smartphone memiliki beberapa limitasi layaknya konsol.
  • Square Enix bisa menghasilkan grafis yang indah di Mobius Final Fantasy berkat apa yang telah mereka pelajari ketika membuat Final Fantasy XIII.
  • Ada perbedaan besar apa yang mereka bisa lakukan dengan membuat game mobile dengan Unity ketika mengerjakan Mobius Final Fantasy. Ada dua area yang membuat Mobius FF berbeda dengan game-game mobile lainnya: material dan shader. Kitase juga menyoroti tentang kualitas rambut karakter, dan berbagai trik pengembangan lainnya. Budget-nya jauh lebih kecil dari game konsol pada umumnya, jadi mereka ragu-ragu ketika membeli tools. Contohnya, yang mengerjakan background hanya satu orang, sedangkan yang mengerjakan desain karakter tiga orang.
  • Khawatir dengan tren game yang menuju ke dunia open-world yang sangat realistis. Menggunakan arah yang sama akan sangat sulit.
  • Ada topik yang mengatakan developer Barat akan menguasai pasar game mobile jika mereka benar-benar serius.
  • Sangat menyukai FIFA 15.
  • Telah memperhatikan developer China selama beberapa waktu terakhir dan merasa mereka sangat kuat.
  • Khawatir akan investasi dalam game AAA ke depannya di Jepang.
  • Presiden Square Enix Yosuke Matsuda merasa dengan adanya Mobius Final Fantasy di mobile, dan Final Fantasy XIV, Kingdom Hearts III, dan Final Fantasy VII Remake di sisi konsol, mereka akan memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan game AAA di Jepang.
  • Tidak hanya pada dalam penjualan saja, tetapi juga mereka harus membuktikan bahwa game-game AAA ada nilainya.
  • Percaya bahwa Mobius Final Fantasy bisa membuktikan kepada orang-orang bahwa game AAA bukan hanya ada di konsol saja.
  • Ingin menggunakan iklan untuk mengejutkan orang-orang yang tidak terlalu tertarik pada game.
  • Tetsuya Nomura dan timnya masih mengerjakan visi mereka untuk apa yang ingin mereka hadirkan di Final Fantasy VII Remake. Walau mereka sudah melihat progres visualnya, mereka masih sibuk memikirkan sistem pertarungan dan hal lainnya.
  • Mereka tidak menolak untuk merubah sistem pertarungan, tetapi mereka harus menentukan arahannya.
  • Biasanya kalau membuat ulang game RPG, game-nya berubah menjadi Action RPG. Tetapi mereka ingin mempertahankan “feeling” yang ada di Final Fantasy VII sambil mencari cara untuk mengejutkan fansnya.

famitsu-wawancara-dev-jepang-2

Akihiro Suzuki (Koei Tecmo)

  • Bahagia karena kekuatan PS4 dapat digunakan dengan mudah.
  • Mereka akan menghentikan game cross-gen (rilis di PS3 dan PS4) apabila sudah memungkinkan untuk membuat di generasi terkini saja.
  • Tim internal mereka tidak hanya membuat engine game saja, tetapi juga meneliti berbagai teknologi untuk game-game yang akan datang. Berharap bisa membuat tembusan teknologi.
  • Menganggap skema kontrol antara mobile dan konsol terlalu berbeda jadi merasa keduanya tidak akan bersatu.

Toshihiro Nagoshi (Sega)

  • Sangat berterimakasih karena PS4 memiliki banyak kekuatan yang bisa digunakan dengan cukup mudah. Masalah terbesar dalam membuat game saat ini ada di sisi bisnis, bukan di sisi pembuatan.
  • Para developer tidak memiliki perkiraan kapan jumlah orang yang pindah ke generasi terkini sudah cukup hingga mereka bisa meninggalkan game cross-gen.
  • Kekuatan yang dihadirkan PS4 memungkinkan mereka untuk membuat game yang benar-benar indah dan fluid, tetapi memerlukan banyak uang sehingga menghadirkan banyak perasaan tidak enak. Pada akhirnya, mereka tidak ingin kalian khawatir atas hal tersebut dan hanya menikmati game-nya saja.
  • Meski grafis PS4 sangat indah jika dibandingkan dengan PS3, Nagoshi merasa perbedaannya tidak terlalu jauh.
  • Meski mereka memiliki rencana untuk merilis game di PS4 saja, mereka belum memiliki rencana yang konkrit.
  • Mereka memperkirakan penjualan di Asia akan dua kali lipat dari penjualan di Jepang, dan kondisi akhirnya akan berubah.
  • Seri Yakuza adalah game yang benar-benar ditujukan untuk Jepang. Jadi kalian tidak bisa menaruh harapan pada game yang benar-benar ditujukan untuk Jepang.
  • Kita harus menganggap konsol high-end adalah sesuatu yang diperlukan agar kita bisa maju.
  • Dalam dunia dimana terdapat PC dan smartphone, konsol game berada di posisi yang unik di tengahnya.
  • Tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi 10 tahun lagi tetapi merasa tidak ada jalan yang mudah bagi konsol game.

famitsu-wawancara-dev-jepang-3

Yosuke Hayashi (Koei Tecmo)

  • Ketika memutuskan untuk membuat game konsol atau mobile, mereka memilih konsol. Dan meski ke depannya mereka akan membuat game mobile, konsol adalah keahlian mereka.
  • Sangat mudah untuk membuat game konsol generasi terkini.
  • Masing-masing tim development membawa hasil penelitian mereka dan membaginya ke tim lain melalui divisi riset internal. Pada akhirnya, hal ini nanti akan berujung pada sebuah game baru dari tim yang baru.
  • Mereka harus mengambil langkah yang sistematis agar bisa bersaing dengan game-game Barat.
  • Ada beberapa game eksklusif PS4 yang sedang dikerjakan, tetapi kalian baru bisa melihatnya setelah 2016. Mereka perlahan-lahan menambahkan fitur baru yang tidak bisa dilakukan di game cross-gen.

Katsuhiro Harada (Bandai Namco)

  • Benar-benar terinspirasi dengan apa saja yang dia bisa lakukan di konsol baru.
  • Ambil langkah lebih dulu dalam melakukan sesuatu dengan Project Morpheus karena generasi sekarang berhasil menghadirkan VR.
  • Jumlah game AAA yang biayanya mencapai ratusan juta dolar di Barat bertambah, tetapi menurun di Jepang.
  • Judul game Jepang yang tidak hanya sukses di Jepang saja tetapi juga di seluruh dunia kelihatannya terbatas pada seri game yang sudah lama berjalan.
  • Dalam 10 tahun terakhir, developer Jepang terlihat tidak lagi memiliki semangat untuk bersaing secara global ketika membuat game baru.
  • Sulit untuk membuat orang-orang yang suka bermain di smartphone menjadi suka bermain game konsol tradisional. Kita harus membuat mereka berpikir mereka lebih suka bermain dengan controller.
  • Bisa membuat game berbasis controller yang membuat banyak orang ingin memainkannya akan menentukan apakah touch control akan menggantikan controller ke depannya.
  • Semakin sulit untuk melihat peningkatan di grafis. Konsol generasi kini grafisnya setara dengan apa yang bisa dilakukan PC high-end 5 atau 6 tahun yang lalu.
  • Teknologi grafis akhir-akhir ini mulai stabil jadi sekarang art design yang bagus menjadi semakin penting.
  • Sulit untuk menjelaskan dengan mudah apa kehebatan VR.
  • Akhir-akhir ini melihat game mobile dengan grafis yang bagus lebih sukses. Mungkin berkat sesuai dengan permintaan konsumen.
  • Game fighting tidak ada banyak perubahan, tetapi network play dan turnamen menghadirkan kemungkinan baru.
  • Ingin terus mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan VR.

Hiroshi Matsuyama (CyberConnect2)

  • Mereka sempat memperlihatkan sebuah versi dari Naruto Shippuden: Ultimate Ninja Storm 4 dalam acara internal. Tetapi karena tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengerjakannya, mereka memutuskan untuk memundurkan rilisnya.
  • Awalnya akan sulit melihat apa perbedaan di versi PS4, tetapi grafis dan sistem barunya memungkinkan game-nya benar-benar bersinar dan hidup.
  • Memperkirakan industri game Jepang tidak bisa lagi berada di puncak, jadi mereka harus mencari cara baru untuk menghadapi tantangan.
  • Meski orang-orang selalu membawa smartphone, mereka masih menonton serial dan film di TV. Jadi kalau benar-benar dipikirkan, dia merasa tidak ada perubahan besar.
  • Mereka sedang mengerjakan tiga game baru, tetapi tidak semuanya bergaya anime. Satu game bergaya shonen manga dengan grafis photorealistic, satu game adalah jawaban dari game bergaya anime tipikal, dan yang terakhir adalah bukan keduanya, tetapi mereka mempertimbangkan untuk menggunakan gaya anime yang populer dengan anak-anak SMP.
  • Mereka memperhatikan VR dengan seksama.
  • Orang-orang yang bekerja di industri bukanlah tipe orang yang hanya bermain di smartphone. Tolong percaya bahwa mereka ingin konsol rumahan sukses dan memungkinkan mereka untuk terus membuat mimpi mereka menjadi kenyataan.

Sumber: Niche Gamer