Psikolog Jepang Mengasumsikan Hubungan Antara Pelaku Pelecehan Dengan Karakter Moe

October 9, 2015 5:20 pm
Psikolog Jepang Mengasumsikan Hubungan Antara Pelaku Pelecehan Dengan Karakter Moe

Moefikasi karakter memang merupakan cara pemasaran yang efektif dewasa ini di Jepang. Mulai dari kapal perang sampai maskot provinsi dibuat moe supaya menarik perhatian massa, terutama mereka dengan jenis kelamin pria. Namun, menurut seorang psikolog sekaligus psikiater Jepang, hal ini dapat menjadi bumerang bagi mereka yang menyukainya.

Rika Kayama, psikolog yang menulis sebuah kolom di Tokyo Shimbun yang disebut Fuwatto Life (“Lembutnya Hidup”) pada tanggal 22 September lalu. Dalam tulisannya, Kayama membahas mengenai bagaimana pemaparan karakter moe secara konstan berpengaruh menimbulkan hasrat seseorang untuk melakukan pelecehan seksual.

Tulisan dalam kolom Fuwatto Life tersebut berjudul “Apakah Karakter Wanita Tidak Bersalah?” menuliskan kalau karakter moe sudah dianggap lumrah di Jepang; dia melihatnya sebagai sarana mempromosikan kota melalui maskot moe. Kayama mengakui, kebanyakan orang akan menganggap mereka imut, namun banyak dari karakter tersebut yang digambarkan dengan sedikit seksi dan tingkat sensualitas yang cukup tinggi.

Mereka tidak akan mendapatkan perhatian kalau mereka tidak sedikit seksi,” kata perwakilan resmi salah satu kota tersebut. Namun Kayama juga memikirkan apakah sensualitas tersebut memiliki efek psikologis baik kepada gadis muda yang akan tumbuh dengan maskot tersebut sebagai model, dan pria dewasa yang melihatnya.

Kayama sadar kalau mayoritas orang lain juga sadar karakter tersebut adalah fiksi, “namun ada beberapa yang berpikir kalau melihat gadis kecil dan berpikir mereka itu seksi adalah hal yang biasa. Gadis lain akan menerimaku dengan senyuman tak peduli bagaimana aku melihat mereka.” Dia menyimpulkan delusi dari karakter moe akan membuat beberapa orang menganggap wanita lain sebagai objek seksual, dan berujung pada pelecehan.

Kamu mungkin akan tertawa dan berkata, Tidak ada orang seperti itu. (Menyukai)Karakter moe itu berbeda dari kejahatan lain. Tapi aku selalu gelisah bila melihat karakter moe memenuhi berbagai macam daerah.”

Tentu saja, kolom tersebut menuai banyak reaksi negatif dari para netizen. Netizen Jepang mengkritik artikel tersebut tidak begitu persuasif, dan kebanyakan hanya merefleksikan pandangan pribadi Kayama terhadap masalah tersebut. Kayama juga tidak memberikan bukti ataupun data empiris mengenai fenomena penggemar anime atau manga apa yang mendukung hipotesis tersebut.

Beberapa netizen memiliki spekulasi bahwa Kayama membahas mengenai maskot Megu Aoshima, maskot baru provinsi Shima di prefektur Mie. Maskot tersebut dianggap melecehkan para penyelam mutiara tua yang tentunya, gambarannya jauh berbeda dari maskot mereka yang masih belia.

sumber: ANN