‘Noragami Aragoto’ Tuai Kontroversi, Gunakan Potongan Adzan Dalam Soundtrack

December 2, 2015 11:32 am
‘Noragami Aragoto’ Tuai Kontroversi, Gunakan Potongan Adzan Dalam Soundtrack

Salah satu anime yang populer musim ini dengan cerita dan karakternya yang menarik, Noragami Aragoto beberapa waktu belakangan tampak memenuhi berbagai media sosial. Bukan karena spoiler, tapi karena sebuah kontroversi yang tidak diduga; salah satu lagu soundtrack-nya terdengar menggunakan Adzan!

Dalam BGM yang berjudul “Push Button” gubahan Taku Iwasaki, terdengar beberapa ayat yang sering dikumandangkan dari Masjid dan TV nasional tiap sore ini. Kamu bisa mulai mendengar potongan tersebut, nyaris tertutup di belakang lapisan berbagai nada dan hentakan di menit 00:13,

[[Semua video lagu tersebut tampak sudah menghilang dari Youtube. Silakan tunggu album OST-nya keluar nanti untuk menikmatinya lagi]]

Bagi yang non-Muslim, berikut ayat lengkap Adzan yang dikumandangkan tiap hari. Bagian yang dipakai dan terdengar dalam Noragami ditebalkan/di-bold:

Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali)
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”

Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah”

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)
“Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”

Hayya ‘alash sholah (2 kali)
“Mari menunaikan salat”

Hayya ‘alal falah (2 kali)
“Mari meraih kemenangan”

Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali)
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”

Lailaha ilallah (2 kali)
“Tiada Tuhan selain Allah”

BGM itu dapat terdengar di beberapa episode Noragami Aragoto, diantaranya episode 1 dan episode 6. Memang menggunakan elemen religi sebagai bahan cerita atau konten bukan suatu hal asing di dunia storytelling modern, meskipun yang lebih sering digunakan adalah Kristen, Buddha, dan beberapa agama atau kepercayaan lain. Sampai saat ini Islam tetap jarang, atau bahkan nyaris tidak pernah disentuh karena satu dan lain hal.

Siapa tahu Iwasaki “terinspirasi” oleh keindahan Adzan saat mendengarnya dikumandangkan dan berniat membagi keindahan itu kepada pada penonton Noragami? Tapi mengingat Noragami adalah cerita bertema Budhisme di Jepang, pantaskah?