Kota Sakai Kini Mengambil Inisiatif Untuk Menutupi Majalah Dewasa di Pertokoan

February 19, 2016 2:12 pm
Kota Sakai Kini Mengambil Inisiatif Untuk Menutupi Majalah Dewasa di Pertokoan

Industri hiburan dewasa sangat berkembang di Jepang, dapat dilihat dari banyaknya variasi hiburan tersebut. Mulai dari hiburan di media 2D seperti majalah dan manga, sampai ke hiburan 3D seperti bar dan love hotel. Walaupun di mata beberapa orang bisnis tersebut sangatlah vulgar, namun bagi mereka hiburan tersebut legal selama mereka menuruti peraturan-peraturan yang berlaku.

JOI - kota Sakai menutupi majalah mesum (2) Kota Sakai

Kota Sakai, adalah sebuah kota di Osaka yang ingin mencanangkan sebuah peraturan baru untuk mengontrol industri tersebut. Mereka tidak akan melarang industri tersebut beroperasi, namun mereka mengusulkan untuk menutupi majalah-majalah dewasa di pertokoan supaya tidak terlihat oleh anak-anak, karena menurut mereka majalah-majalah tersebut akan merusak mereka yang berumur di bawah 18 tahun.

Kota Sakai berencana bekerja sama dengan convenience store di daerahnya untuk melapisi majalah-majalah dewasa tersebut dengan sampul plastik semi transparan. Mereka juga akan memasang sekat plastik untuk menutupi gambar sampul namun tetap memperlihatkan judulnya. Sebuah langkah yang cukup baik mengingat banyak convenience store di Jepang yang memisahkan majalah normal dengan majalah dewasa hanya dengan secarik kertas bertuliskan “Untuk Dewasa“.

Pemerintah setempat juga mengatakan majalah tersebut terlalu mudah dilihat oleh siapapun yang masuk ke dalam toko. Hal ini akan menyebabkan masalah karena perbuatan tersebut tidak begitu mendidik serta mengingat mulai banyaknya turis yang mengunjungi kota tersebut.

JOI - kota Sakai menutupi majalah mesum (3)

Saat ini pemerintah setempat sudah menghubungi beberapa convenience store dan berharap masyarakat akan segera tahu mengenai peraturan baru tersebut. Mereka berharap pada tahun fiskal baru yang dimulai pada bulan April peraturan tersebut sudah bisa dijalankan.

Proyek ini adalah salah satu bagian dari Sakai Safety Program yang bertujuan membuat lingkungan kota Sakai lebih ramah kepada wanita dan anak-anak. Mereka juga sudah meminta anggaran sebesar 950.000 Yen atau sekitar Rp 100 juta untuk melaksanakan proyek tersebut.

Mungkin inilah solusi terbaik bagi Jepang dalam melakukan penyensoran, sembari mempertahankan industri dan tenaga kerja yang bergantung ke pekerjaan tersebut, mereka tidak sekedar melarang saja.

sumber: Japan Today
gambar: TTAC, SinfulKissing