[Dropped] Shoujo-tachi wa Kouya wo Mezasu

February 21, 2016 6:56 pm
[Dropped] Shoujo-tachi wa Kouya wo Mezasu

Kalau biasanya JOI me-review seri-seri yang sudah ditonton, kali ini rubriknya sedikit beda. Bukan review supaya kamu menonton anime-nya, tapi rubrik [Dropped] ini adalah review kenapa kami sampai berhenti menonton anime tersebut. Tapi saya juga tahu kalau selera setiap orang berbeda-beda dan kami juga tidak bisa memaksa kamu untuk berhenti menonton acara yang kamu suka. Bahkan bukan tidak mungkin kamu bisa meyakinkan kami untuk memberikan seri kesukaanmu kesempatan kedua kalau alasannya cukup rasional.

Seri yang pertama membuat kami hilang harapan adalah Shoujo-tachi wa Kouya wo Mezasu, atau yang biasa disingkat dengan sebutan ShokoMeza. Anime ini merupakan salah satu anime yang paling ditunggu oleh Nugrahadi, karena memang dia sedikit maniak sama Minato Soft. Namun sayang ternyata bahkan dia tidak bisa bertahan menonton anime ini.

Kenapa? Berikut adalah penjelasan kami:

Ini kualitas level apa sih?

Hal pertama yang selalu saya sayangkan dari ShokoMeza adalah kualitasnya, entah apakah mereka memang sengaja membuatnya seperti itu. Setiap kali saya melihat episode baru dari anime ini, resolusi gambarnya selalu terlihat sedikit aneh, rasanya seperti gambar besar yang dikecilkan tapi rasionya salah. Ditambah warnanya yang pastel mungkin disengaja, namun rasanya jadi seperti pelit warna menurut saya.

JOI -dropped shokomeza (5)

Selain itu gambar-gambar mereka pun terasa low budget, dengan minimnya detil dan animasi yang agak bland di episode ke 6 yang seharusnya dikerjakan dengan baik karena termasuk episode fanservice. Saya pun merasa garis wajah mereka digambar dengan terlalu tipis, seperti dengan pensil, jadi kurang tegas dan ada rasa anime ini ditayangkan padahal statusnya masih draft.

Dramanya gak jelas

Di artikel 3 Eps Rule, Nugra berkata kalau dramanya bakal berat, dan menurut saya memang berat sih. Berat untuk dicerna karena gak jelas mau fokus kemana. Sudah berjalan 6 episode tidak ada perkembangan berarti terhadap game yang akan mereka buat. Malah lebih banyak fokus ke cekcok tidak penting antara Kuroda dan Andou. Sudah begitu tiba-tiba diberikan episode fanservice yang berujung ke drama cinta segiduaratus dengan janji, “sekarang akan muncul lebih banyak konflik lagi.

JOI -dropped shokomeza (4)

Anime sudah jalan 6 episode, cerita belum benar-benar ‘jalan’, drama masih gak jelas, tapi masih mau ditambah konflik-konflik lain, no thank you.

Unbearable characters

Pada awalnya, Andou adalah salah satu karakter yang membuat saya bertahan untuk menonton anime ini, dengan harapan dia bisa menjadi best girl dalam seri yang satu ini. Namun tidak, hanya berselang 2 episode saja dia berhasil menjadi karakter menyebalkan dengan ego setinggi langit yang dengan sukses membuat kami menyesali harapan kami. Even if she does apologize to Kuroda later on, the damage has been done. Bagi saya karakter Andou sudah tidak terselamatkan lagi.

JOI -dropped shokomeza (2)

Karakter-karakter lainnya pun membuat saya sebal sendiri, karena:

  • Buntarou: Pemeran utama yang cukup generik, sebenarnya tidak terlalu menyebalkan, dia dan Kuroda adalah 2 karakter yang saya anggap paling normal dalam seri ini. Sayangnya entah kenapa dia mulai aneh sejak datang ke Akiba, namun tidak cukup untuk membuatnya jadi ‘berwarna’.
  • Kuroda: Beberapa menganggapnya perpaduan antara Senjougahara dan Yukinon, karakter yang terlalu serius ini tadinya saya harap bisa menjadi penyelamat ShokoMeza. Sayang ternyata dia tidak seharusnya dilepaskan ke masyarakat karena yang nyangkut di kepalanya hanyalah visual novel saja. Dia juga tidak bisa berinteraksi dengan orang lain dengan normal.
  • Yuuki: Gadis pendiam yang satu ini sebenarnya punya potensi besar menjadi gadis terimut dalam seri ini. Namun sifatnya yang terlalu pemalu membuatnya terlalu tertutup sampai ke poin akhirnya saya tidak terlalu peduli dengannya.
  • Atomu: Dear God please save this pathetic guy and give him a girlfriend, mungkin awalnya lumayan lucu melihat dia terus mengutuk riajuu, tapi lama-lama bosan juga karena dia tidak memiliki pengkarakteran yang lain.
  • Yuuka: Sampai sekarang karakter yang satu ini tidak ada gunanya, selama game mereka belum jadi peran Yuuka tidak akan ada. Saya melihatnya hanya sebagai benalu yang setiap hari mengganggu kerja teman-temannya dengan tingkah kekanakan dan mulutnya yang tidak bisa berhenti ngomong. Would you shut up already?

Nope, gak ada karakter yang benar-benar bisa disukai dalam anime ini, mentok-mentok paling Kuroda, itupun kalau kamu kebetulan tergila-gila dengan Yukinon. Sisanya sih terima kasih saja ya, maaf karena saya tidak cukup sabar menghadapi kalian tetapi memang pengkarakteran anime ini seburuk itu.

Saya dan Nugra setuju kalau anime ini pantas untuk di-drop karena pengkarakterannya yang begitu buruk, hubungan setiap karakter tidak tergambarkan dengan jelas dan tidak terfokusnya perkembangan cerita ini. Kalau anime ini hanya diberi waktu 12 episode untuk tayang, dan sampai ke episode ke 6 bahkan skenario buatan Bunta masih ngawang antara ada dan tiada. Saya rasa begitu pula dengan masa depan anime ini, antara ada dan tiada~.

JOI -dropped shokomeza (1)I really want to give Kuroda a chance, I really do.

Other staff’s opinion

Etherlite:  Jujur saya tidak tahu saya bisa bersikap netral dengan anime ini atau tidak. Expectation saya sudah terlalu tinggi karena Takahiro IV sebelumnya sudah menelurkan Akame ga Kill dan Yuuki Yuuna wa Yuusha de aru (ini anime favorit saya). Meskipun saya sudah tahu dari awal kalau temanya adalah bikin game, dalam lubuk hati saya, saya masih berharap akan banyak twist dan despair. Nyatanya? Nol besar, Drama ga penting, karakter-karakter yang sama sekali tidak menarik atau malah menyebalkan, animasi yang below par. Saya sudah memberikan toleransi 6 episode untuk seri ini, dan saya rasa sudah cukup. [DROPPED]

Kaptain: Yap, akhirnya terjadi juga. Karya Romeo Tanaka yang mengecewakan. Jujur saja gaya penulisan dia cuma terasa di episode satu dan untuk episode selanjutnya sama sekali nggak terasa. Saya cuma tahan sampai Episode 5, dimana kesabaran dan toleransi yang mulai ambruk sejak episode 3 habis total gara-gara Teruha Andou. You don’t mess with a team project without everyone else knowing about it, dan anime ini dengan lancang mengatakan kalau dia seharusnya tidak disalahkan.

Skrip yang membosankan, penyutradaan yang sangat buruk, kualitas produksi yang pas-pasan, dan karakter berkualitas rendah yang rasanya tidak pantas ditulis oleh penulis sekelas Romeo Tanaka & Takahiro. Setidaknya, satu hal yang saya hargai adalah seri ini sadar kalau begitu seorang penulis terhalang oleh writer block, you will have to trudge through it no matter how painful and tiring it is.