Apa Kata Mereka Tentang AFA ID 2016

September 22, 2016 6:00 pm
Apa Kata Mereka Tentang AFA ID 2016

Gelaran Anime Festival Asia Indonesia 2016 memang sudah lewat, namun kenangannya akan terus terasa di hati. Secara pribadi, saya smemenangkan Ichiban Kuji dan mendengarkan Bless4 menyanyi, ditambah saat mereka membawakan lagu Sousei no Aquarion akan menjadi pengalaman yang terus terbawa. Namun saya yakin kamu semua punya pengalaman yang berbeda-beda mengenai acara tersebut.

Ingin mengetahui beberapa pendapat yang berbeda-beda dari para pengunjung, saya pun mulai mewawancara sebagian pengunjung yang datang ke acara tersebut. Di antaranya saya ingin bertanya mengenai kesan dan pesan mereka di acara kali ini, dan apa yang dapat mereka sarankan untuk acara di tahun depan.

DSC02663Yang pertama saya mewawancara Aji yang saat di acara AFA cosplay sebagai Gudao dari game Fate/Grand Order. Aji tidak sempat datang ke AFA ID 2015, sehingga dia memakai AFA 2014 sebagai patokannya.

“Lucu aja sih, begitu datang di hari ketiga kami disambut blackout 2 kali, tidak pernah blackout sebelumnya. Kalau dari acaranya, rasanya kok makin menyusut, dan hype-nya juga makin turun. Somehow barang-barang di booth-booth yang menarik juga tidak sebanyak dulu. Untuk saran ke depannya, mungkin lebih seperti harapan ya, semoga tiketnya tidak naik lagi harganya haha.”

DSC02651

Yang kedua merupakan seorang pengunjung muda yang bernama Arie, saya mewawancara dia di hari kedua saat acara sedang berada di puncak keramaian.

“Jujur aja saya merasa turun, terlalu sumpek sampai tidak bisa melihat apa-apa. Booth exhibition juga terlihat tidak tertata, ruwet. Maaf-maaf saja ya, jadi seperti kembali ke AFA yang pertama.”

“Untuk tahun depan, saya punya 3 saran, yang pertama supaya jangan diadakan di JI Expo karena aksesnya susah. Yang kedua harus belajar dari AFA kedua, di JCC itu paling rapih posisinya. Lalu yang ketiga, jalur untuk pembelian tiket dan antri masuk jangan dibedakan, karena membuat bingung orang-orang.”

Miftah, yang ternyata seorang pilot ternyata memiliki pendapat yang berbeda dengan yang lain. Dia ingin supaya dalam gelaran AFA ID juga diramaikan dengan booth komunitas supaya lebih ramai.

“Untuk tempatnya saya rasa lebih baik daripada yang dulu, karena penempatan antara satu stand dengan lainnya terasa lebih lengang. Cuma ada beberapa kesempatan dimana para staf terkesan tidak friendly dan galak. Untuk masalah lain mungkin admin FB-nya walaupun memang banyak yang mencela AFA ID tahun ini, tapi jangan sampai menyuruh orang untuk tidak usah datang.

Omong-omong soal community, mungkin ada baiknya AFA membuka stand khusus untuk para komunitas, hari ini semua terlihat cuma stand jualan saja. Kalau ada komunitas, bisa menarik pengunjung jadi mereka bisa melihat seperti apa sih barang yang baru saja mereka beli.”

Lalu saya juga mewawancara Kosa, seorang pengunjung di hari kedua yang juga ingin supaya AFA kembali diadakan di JCC.

“Kualitas sih agak turun, mungkin itu yang bisa bikin acaranya jadi sedikit lebih lega jadi lebih bisa dinikmati. Tapi sejujurnya lebih suka AFA di JCC, tiap section ada ruangannya sendiri. Konser di ruang A, exhibition di ruang inti, Creators Hub di ruang yang berbeda lagi. Memang terpisah-pisah, tapi pasarnya tidak mengganggu jalannya orang lain.”

DSC02638

Memang salah satu kendala paling besar AFA adalah penuh sesaknya orang saat sedang berada di puncak keramaian. Banyak orang yang ingin mencari tempat untuk duduk sembari makan atau sekedar berkumpul bersama teman.

Saya sendiri juga ingin AFA kembali dilaksanakan di JCC, karena memang tempatnya yang lebih nyaman dan mudah untuk dicapai dengan kendaraan. Walaupun mungkin kalau sedang penuh, jauh lebih crowded daripada JI Expo.

Kami juga mewawancarai Shawn Chin, Managing Director dari SOZO dengan berbagai pertanyaan yang sering diutarakan pendatang seperti pemilihan lokasi, penyesuaian harga tiket, dan penentuan artis ataupun perusahaan yang didatangkan.

Kalau kamu sendiri, apakah kamu puas dengan AFA tahun ini? Apakah kamu juga punya kesan atau saran untuk AFA tahun depan?