[Review] Kimi no Na wa

September 29, 2016 5:00 pm
[Review] Kimi no Na wa

Setelah lihat banyak berita mengenai lakunya “Kimi no Na wa,” pastinya kalian makin penasaran dengan film terbaru dari Makoto Shinkai ini. Bahkan mungkin ada di antara kalian yang meminta beberapa bioskop di Indonesia untuk menayangkan film ini agar bisa dinikmati dalam layar besar.

Mungkin di antara kalian yang sadar bahwa saya menghilang selama 2 pekan kemarin. Selama 2 pekan kemarin, saya pergi ke Jepang untuk meliput Tokyo Game Show 2016, menonton konser Nana Mizuki, dan juga menikmati berbagai keindahan dan makanan Jepang. Tentunya saya menggunakan kesempatan ini untuk menonton Kimi no Na wa yang laku keras di Jepang.

Kisah Khas Makoto Shinkai

Dari sinopsis saja, kalian bisa tahu bahwa Kimi no Na wa menghadirkan cerita khas Makoto Shinkai tentang sepasang remaja laki-laki dan perempuan yang sulit untuk bertemu. Kimi no Na wa mengisahkan Taki yang tinggal di Tokyo dan Mitsuha yang tinggal di suatu desa. Ketika tidur, kadang tubuh mereka berdua tertukar. Hal ini membuat kehidupan mereka pun menjadi kacau karena kelakuan yang berbeda ketika bertukar tubuh. Karena itu, mereka berdua pun berjanji untuk mencatat seluruh kegiatan demi menjaga kehidupan mereka masing-masing.

review-kimi-no-na-wa-5

Sebisa mungkin saya tidak ingin memberi spoiler agar kalian bisa menonton film ini dengan puas. Dari segi durasi, film ini cukup panjang yaitu berdurasi 1 jam 46 menit. Durasinya lebih panjang dari Kumo no Mukou, Yakusoku no Basho dan lebih pendek dari Hoshi wo Ou Kodomo. Meski begitu, Makoto Shinkai sepertinya sudah belajar dari film-film yang dia kerjakan sebelumnya. Meski durasinya panjang, pacing kali ini jauh lebih baik sehingga membuat penonton tidak bosan.

Meski kali ini durasinya cukup panjang, Shinkai menggunakan seluruh waktunya dengan efisien untuk membuat kalian menjadi lebih dekat dengan Taki dan Mitsuha. Ceritanya pun disampaikan dari masing-masing sisi karakter, jadi kalian tahu bagaimana kehidupan di sekitar masing-masing karakter utama dan bagaimana pertukaran tubuh mulai mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

review-kimi-no-na-wa-1

Berkat ini, Kimi no Na wa benar-benar menghadirkan cerita yang lebih baik karena Shinkai menghabiskan waktu lebih banyak untuk kedua karakter utama sehingga penonton menjadi lebih peduli dengan keduanya dan penasaran bagaimana nasib mereka berdua di akhir film ini.

Penanganan karakter dan pacing cerita yang lebih baik ini membuat Kimi no Na wa menjadi lebih baik dibandingkan film-film Shinkai sebelumnya. Karya-karya Shinkai yang paling dikenal adalah Hoshi no Koe, Byousoku 5 cm, dan Kotonoha no Niwa. Ketiganya lebih sukses karena berdurasi lebih pendek yang sudah biasa ditangani oleh Shinkai. Sedangkan untuk Kumo no Mukou, Yakusoku no Basho dan Hoshi wo Ou Kodomo kurang begitu terkenal. Menurut saya pribadi, masalah yang ada dalam kedua film itu adalah penggunaan waktu yang kurang efisien untuk membuat kita peduli dengan karakter-karakternya.

Kualitas Animasi yang Tidak Perlu Diragukan

Selain cerita yang bikin kalian galau, anime yang dikerjakan oleh Makoto Shinkai selalu berupa eye-candy. Tentu Kimi no Na wa menghadirkan animasi yang sangat indah. Meski tema kali ini bukan hujan seperti di Kotonoha no Niwa, Kimi no Na wa masih menghadirkan adegan hujan yang sangat menakjubkan. Gerakan karakter pun sangat mulus, terutama pada saat adegan yang berhubungan dengan Mitsuha dan desanya.

review-kimi-no-na-wa-4

Meski sudah menghadirkan animasi yang indah, detil gambar pun tidak dilupakan. Masing-masing adegan terlihat dengan jelas dan kalian bisa mengenali seluruh obyek dengan mudah. Bahkan, pada saat di bagian akhir film-nya, teman saya yang ikut nonton mengenal daerahnya yang katanya berada di dekat kantornya di Jepang.

Verdict: Harus Nonton Lagi/10

Kenapa film ini bisa sangat laku di Jepang? Ternyata setelah menonton film ini saya jadi mengerti. Hype-nya sendiri pun tidak bohong. Pada awalnya, saya dan teman-teman ingin menonton siang hari atau malam, tetapi ternyata sudah penuh. Jadi terpaksa harus menonton jam pertama yaitu pada pukul 09:40. Meski jamnya masih pagi, ternyata penayangan pada jam pertama pun dipenuhi oleh penonton.

review-kimi-no-na-wa-3

Kalau kalian merasa review ini kurang detil, saya mohon maaf. Saya sendiri sebenarnya ingin menulis lebih detil tetapi takut spoiler karena saya merasa ini adalah karya terbaik Makoto Shinkai sejauh ini. Jadi saya ingin kalian bisa menonton film ini tanpa terlalu tahu banyak informasi mengenai filmnya agar kalian bisa menikmati filmnya secara maksimal. Pacing dan karakter jauh lebih baik dan menarik membuat film yang berdurasi hampir 2 jam ini tidak terasa selama itu. Saking bagusnya, saya ingin menonton film ini lagi, baik di bioskop atau dalam bentuk Blu-ray. Mudah-mudahan bioskop-bioskop di Indonesia ada yang mau menayangkan film ini.