[JOI Music] Radwimps

November 29, 2016 11:00 am
[JOI Music] Radwimps

Jika kamu sudah menonton atau setidaknya tahu tentang Kimi no Na wa pasti kamu pernah mendengar nama Radwimps. Band ini melejit di kalangan pecinta anime di Indonesia berkat mengisi soundtrack film terbaru Makoto Shinkai yang super populer sampai-sampai berita tentang tanggal rilisnya di Indonesia menjadi berita dengan jumlah share terbanyak di Jurnal Otaku sepanjang November 2016.

Untuk menyambut rilisnya Kimi no Na wa di Indonesia dan dalam rangka perilisan album terbaru mereka “Human Bloom” (Ningen Kaika) JOI Music akan menghadirkan Radwimps sebagai band pilihan untuk minggu ini.

Grup asal perfektur Kanagawa ini terbentuk pada tahun 2001 oleh teman sewaktu personilnya masih duduk di kelas satu SMA. Formasi awal band ini adalah Akira Kuwahara (gitar), Yusuke Saiki (gitar), Kei Aso (bass), Akio Shibafuji (drum), dan Yojiro Noda (vokal). Noda mulai tertarik dengan musik setelah mendengar Oasis dan ia mulai menghapal lirik serta chord gitar Oasis. Ia diajak menjadi vokalis oleh temannya dan memilih nama Radwimps sebagai nama band. Radwimps terdiri dari dua kata yaitu “rad” yang berarti “unggul” dan wimp yang berarti “lemah” sehingga jika digabungkan menjadi kelemahan yang unggul atau “pengecut yang unggul”.

Era awal

Mereka memulai karir di Yokohama dan bermain untuk pertama kalinya di BB Street yang terletak di distrik Kannai pada 5 Februari 2002. Akira memilih untuk keluar dari SMA untuk fokus di karir band. Pada bulan Agustus dan September 2002 mereka mengikuti Yokohama High School Music Festival dan memenangkan hadiah utama berkat lagu “Moshi mo” yang bernada pop punk . “Moshi mo” menjadi single perdana mereka dan dirilis pada Mei 2003, single ini mereka rilis sendiri dan dicetak sebanyak 10 ribu kopi dengan harga 100 yen.

Nama mereka semakin terkenal di area Yokohama dan merilis album perdana mereka berjudul Radwimps melalui label indie Newtraxx dan dirilis pada 2 Juli 2003. Radwimps berisi 13 lagu yang mereka tulis sewaktu SMP dan berisikan lagu yang terinspirasi dari power pop 90’an, emo sampai melodic hardcore, bahkan sampai rapcore ala Limp Bizkit. Lirik yang ada di album ini benar-benar menggambarkan gejolak muda para personilnya saat itu yang tertuang pada lagu “Condom”, “Aimai”, dan “Samishii Boku”.

Era album kedua


Setelah mereka merilis album perdana mereka memutuskan untuk istirahat sejenak untuk fokus kepada ujian sekolah. Yusuke Saiki, Kei Aso, dan Akio Shibafumi meninggalkan band ini. Noda dan Akira memanggil teman mereka Satoshi Yamaguchi dan Yusuke Takeda untuk mengisi kekosongan pada drum dan bass. Mereka langsung merekam single kedua mereka “Kiseki” dengan personil barunya dan melaksanakan tur keliling Jepang selama tiga bulan.

Setelah tur berakhir mereka merilis album kedua mereka Radwimps 2: Hatten Tojo yang dirilis pada 8 Maret 2005. Mereka menambah sound funk rock ala Red Hot Chili Pepper pada lagu seperti  “Hikikomori Rollin’” dan emo pada “Kanashi” dengan lirik yang sangat youth tentang cinta yang tak tersampaikan. Yojiro menyampaikan kekecawannya atas album ini karena mereka merekam lagu satu-satu dan dikumpulkan sampai cukup untuk menjadi sebuah album, cara ini diakui Yojiro sangat melelahkan. Merasa tidak puas dengan album kedua mereka langsung merekam dan merilis album ketiga secepat mungkin.

Era album ketiga

Di tengah pengerjaan album kedua mereka mendapatkan kontrak rekaman dengan major label Toshiba EMI dan merilis single “25 kome no senshokutai” pada 23 November 2005 dibawah Toshiba EMI dan menunjukkan sisi pop rock mereka. Setelah menyelesaikan materi pada Desember 2005 mereka merilis album ketiga Radwimps 3: Mujinto ni Motte yang dirilis pada 15 Februari 2006 dengan sentuhan rapcore ala Limp Bizkit, Incubus dan Rage Against The Machine pada “Hekkushen”, “EDP (Tonde Hi ni Iru Natsu no Kimi)”, indie pop pada “September-san”, dan post-punk revival pada “4645”.

Musik rock Jepang yang pada saat itu dipengaruhi oleh rapcore, hip hop dan pop punk menjadi alasan album ketiga mereka berhasil duduk di posisi 13 di minggu pertamanya. Sebuah pencapaian tertinggi untuk band tersebut pada saat itu.

Era album keempat

Setelah mereka menyelesaikan tur dan promo album ketiga, mereka masih mempunyai banyak ide yang belum tersalurkan di album ketiga. Maka dari itu mereka lagsung kembali masuk studio dan mengerjakan album keempat Radwimps 4: Okazu no Gohan. Album ini dirilis pada 6 Desember 2006 dan hanya berselang sepuluh bulan dari album ketiga mereka. Yoda membuat album keempatnya jauh lebih eksperimental daripada karya mereka sebelumnya dan ingin menyeimbangkan lirik serta image yang dihadirkan.

Warna baru dalam musik Radwimps dapat didengar pada “Futarigoto”, “Yuushinron”, dan “Setsuna Rensa” yang perlahan menjauh dari rapcore tapi tetap masih bernuansa Radwimps. Album ini membuka jalan bagi Radwimps menjadi salah satu band rock papan atas di Jepang karena berhasil terjual sebanyak 345 ribu kopi dan duduk di posisi kelima di minggu pertamanya. Video klip dari “Yuushinron” berhasil mendapatkan penghargaan pada gelaran Space Shower Music 2007 bidang “Best Art Direction Video”.

Era album kelima

Radwimps memilih rehat setelah mengeluarkan dua album dalam setahun. Mereka kembali lagi dengan mengeluarkan single “Order Made” yang bermakna dalam mengenai manusia dengan penciptanya lengkap dengan lirik yang puitis. Berkat formula ini “Order Made” berhasil menjadi nomor satu di Jepang dan menjadi single terlaris mereka saat itu. Video klip lagu ini juga mendapat penghargaan MTV Video Music Awards dan Space Shower Music Video Awards 2008 kategori “Best Rock Video”.

Radwimps merilis album kelima mereka Altocolony no Teiri pada 11 Maret 2009 dan menjadi titik balik musik mereka. Sebagai bukti perubahan dari Radwimps mereka tidak menamai album mereka dengan nomor setelah nama Radwimps seperti empat album sebelumnya. Evolusi sound terjadi di album ini dan mereka bermain jauh lebih eksperimental dari sebelumnya seperti “Oshakashama” yang terinspirasi dari math rock dan post punk, “Nanoka” yang menampilkan 16 suara mengulangi bagian chorus, dan “Order Made” yang lebih folky. Album ini berhasil duduk di posisi kedua dan terjual sebanyak 343 ribu kopi serta mendapat sertifikasi Platinum. Altocolony juga dipuji oleh media Jepang dan internasional berkat kedinamisan melodi dari masing-masing lagu, vokal Noda yang semakin terasah, serta lirik yang out of the box untuk musik major saat itu.

Era album keenam

Setelah menyelesaikan tur dan promo untuk album Altocolony no Teiri mereka tidak melakukan kegiatan apapun selama enam bulan dan Noda memilih untuk ke studio sendiri membuat demo. Ketika mengerjakan album keenam Noda merasa terbebani dengan album sebelumnya terutama di bagian lirik. Untuk itu dia membuat album keenam ini lebih bebas dan tidak seperfeksionis pada Altocolony no Teiri. Strategi back to basic mereka terapkan pada “Zettai Zetsumei” yang menjadi nama album keenam mereka.

Noda menggambarkan album ini adalah high energy album dan terbukti di beberapa single seperti “Dada” yang seolah kembali ke musik di awal karir mereka sambil berbicara soal nihilisme dan kematian dimana dia mengambil contoh bahwa bumi harus diselamatkan karena global warming tetapi orang tidak mengambil tindakan meski mereka tahu hal tersebut. “Dada” menjadi lagu tertajam yang pernah mereka buat dan menjadi lagu nomor satu kedua mereka di Jepang. Radwimps bereksperimen dengan berbagai macam genre di album ini seperti hip hop pada “G-Koi” dan jazz pada “Pi”. Zettai Zetsumei dirilis pada 9 Maret 2011 dan duduk di posisi kedua. Album ini terjual sebanyak 261 ribu kopi dan mendapat sertifikasi Platinum.     

Era album ketujuh dan proyek solo Yojiro Noda

Radwimps ditanya oleh presiden manajemen mereka perihal album ketujuh mereka dan Noda hanya bisa menjawab untuk menunggu sebentar karena ia sedang mengumpulkan feel agar bisa mengerjakan album baru. Noda mempunyai gairah yang kuat untuk mengerjakan album ini dan ia berharap agar gairah tersebut dapat beresonansi dengan pendengarnya. Ketika kejadian gempa Tohoku yang menelan banyak jiwa terjadi mereka sedang dalam tur album baru dan tempat yang nantinya mereka kunjungi terkena dampak dari gempa tersebut. Noda merasa sedih dan putus asa ketika mengetahui kabar tersebut dan mereka langsung mengganti konsep album dimana rasa putus asa bercampur dengan rasa semangat untuk merefleksikan apa yang terjadi selama dua tahun terakhir.

Setelah proses pengerjaan album memakan satu tahun Radwimps muncul dengan album ketujuh Batsu to Maru to Tsumi to yang dirilis pada 11 Desember 2013 dan menjadi album pertama mereka dibawah bendera Universal Music setelah EMI Music diakuisi oleh Universal Music pada tahun 2013.

Album ini jauh lebih alternative rock dan lebih kalem dari album sebelumnya seperti “Kaishin no Ichigeki” yang bernuansa alt.rock dengan permainan power pop, “Aianbaiburu” bermain dengan musik indie pop 90’an serta “Gochuu Shintai” yang berisi tentang pertarungan antara Buddha dan Tuhan yang disajikan dengan musik yang experimental dengan lirik yang menyentil manusia modern yang semakin hari semakin bejat. Nomor-nomor mellow juga banyak bermunculan di album ini sebagai bentuk rasa prihatin mereka terhadap kejadian gempa tersebut. Album ini juga dirilis di Inggris dibawah Wrasse Records dan menjadi album pertama mereka yang dirilis secara internasional.

Ketika mengerjakan album ketujuh mereka, Noda disibukkan oleh karir solonya dengan nama illion. Noda memilih solo karir untuk mengembangkan musiknya ke seluruh dunia dan hal tersebut bukan tujuan utama Radwimps. Ia merilis debut albumnya sebagai illion berjudul Ubu pada 25 Februari 2013  dan P.Y.L pada Oktober 2016. illion mendapat atensi positif oleh media musik Inggris seperti NME yang menyebut Noda adalah “Thom Yorke versi Jepang”. Dalam proyek solonya Noda memainkan musik experimental electro dimana ia mencampurkan electro, chamber pop, glitch, dan IDM.

Era Kimi no Na wa dan album kedelapan

Ketika Makoto Shinkai mengerjakan film terbarunya berjudul Kimi no Na wa Ia ditanya oleh produsernya perihal siapa yang akan mengisi musik untuk film tersebut dan ia memilih Radwimps karena suka dengan musiknya. Radwimps menyetujui tawaran dari Shinkai dan ikut ke dalam proyek film ini dari awal produksi. Tidak seperti karya Radwimps sebelumnya dimana Noda mendominasi pengerjaan lagu, Akira dan Yusuke juga ikut membuat beberapa komposisi yang ada di album ini.

Album soundtrack ini dirilis pada 24 Agustus 2016 dua hari sebelum tanggal filmnya rilis. Seperti filmnya album ini juga laris manis di pasaran, soundtrack ini duduk di posisi pertama Oricon Album Chart selama dua minggu berturut-turut dengan total penjualan sebanyak 337 ribu kopi per November 2016 dan menjadi album terlaris sepanjang bulan Oktober dan September 2016.

Album ini juga menjadi jawara selama empat minggu berturut-turut di Billboard JAPAN Hot Albums. Lagu “Zenzenzense” yang muncul sebagai insert song dalam film ini menjadi juara di Billboard JAPAN Hot Animation sepanjang 11 minggu dan telah ditonton sebanyak 73 juta kali di YouTube dalam waktu hanya tiga bulan membuat “Zenzenzense” menjadi lagu Jepang kedua setelah Pikotaro dengan “PPAP” yang menyentuh 70 juta view di YouTube dalam waktu singkat. Video klip dari “Zenzenzense” juga berhasil masuk ke posisi 100 di tangga lagu video klip dunia versi YouTube dan bertahan selama tiga belas minggu. Radwimps juga mencatat rekor sebagai artis Jepang pertama yang keempat lagunya berada di posisi 1 – 4 di iTunes Japan dan Billboard Japan dalam waktu yang bersamaan dan bertahan selama dua minggu berkat “Zenzenzense”, “Yumetourou”, “Nandemonaiya”, dan “Sparkle” yang ada dalam album soundtrack ini.

Tidak mau kehilangan momentum dari prestasi yang ditorehkan dalam Kimi no Na wa mereka langsung merilis album kedelapan mereka berjudul Human Bloom (Ningen Kaika dalam bahasa Jepang) yang telah dirilis pada 23 November 2016 kemarin dan menampilkan dua lagu dari Kimi no Na wa dalam bentuk original version yaitu “Zenzenzense” dan “Sparkle”. Sebanyak 14 lagu muncul dalam album baru mereka dan menampilkan single mereka sebelumnya “I Novel” dan “Kigou Toshite”. Album ini terjual sebanyak 100 ribu kopi selama dua hari di Jepang dan dirilis international secara digital.