Seorang Pria Asal Tokyo Menangkan Tuntutan 40 Juta Yen untuk Jaket yang Cacat

December 7, 2016 4:31 pm
Seorang Pria Asal Tokyo Menangkan Tuntutan 40 Juta Yen untuk Jaket yang Cacat

Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 2 Desember kemarin hakim Yoshio Sawana dari pengadilan distrik Tokyo mewajibkan Theory, sebuah produsen fashion; untuk membayar denda senilai 40 juta Yen (sekitar 4,7 Milyar Rupiah) kepada seorang pria Tokyo berusia 40 tahun atas sebuah jaket musim dingin yang cacat.

Menurut pengakuan pria tersebut, jaket yang memiliki tali karet yang berada pada bagian penutup kepala memiliki pengencang pada ujungnya. Pada suatu hari, pengencang tersebut tersangkut pada bagian lengan jas milik pria tersebut sehingga tali karet tersebut tertarik lalu secara mendadak bagian pengencang tersebut terlepas dan terlempar mengenai mata kiri pria tersebut.

Berikut ini gambar pengencang tali yang dimaksud:
cord-lock

Pria tersebut menglaim bahwa efek dari sentakan pengencang tersebut mengakibatkan katarak pada bagian mata kiri sehingga membutuhkan penanganan medis. Sebelumnya, pria ini meminta kompensasi sebesar 100 Juta Yen (sekitar 12 Milyar Rupiah) kepada pengadilan distrik Tokyo, namun Theory membela diri dengan mengatakan bahwa pengencang tali karet merupakan produk umum yang digunakan oleh semua produsen atau merek fashion hingga saat ini, dan tidak sepantasnya disebut sebagai cacat produksi.

Namun Hakim Sawano berkata lain, dia berpendapat bahwa tali yang panjang, elastis, dan memiliki pengencang plastik tersebut dapat melukai mata dan muka. Pria tersebut pun diberi kompensasi sebesar 40 Juta Yen oleh pihak Theory.

Fast Retailing, selaku perusahaan induk Theory dan beberapa merek kenamaan lainnya seperti Uniqlo, menolak berkomentar hingga hasil keputusan pengadilan ditinjau ulang. Namun, para pembaca berita dengan senang hati mengomentari kasus ini, tak sedikit pula yang tidak bersimpati terhadap korban, sementara beberapa orang merasa khawatir perkara serupa akan meningkat di Jepang.

“Tali karet sangat menakutkan!”
“Seorang pria berusia 40 tahun mengenakan pakaian dengan tali karet?”
“Kalau dipikir lagi, kita tidak butuh tali karet di penutup kepala, ya kan?”
“Ini merupakan jenis pengadilan yang kerap kamu temui di Amerika.”
“Tampaknya kita menjadi seperti Amerika, dan secara pribadi saya lebih memilih tali karet di penutup kepala jaket saya.”
“Apa katarak begitu buruk sehingga kamu bisa mendapatkan 40 juta yen?”
“Aku tak melihat jaket yang dimaksud, tapi jika mereka mendeskripsikannya sebagai “cacat struktural” maka diluar sana ada ribuan jaket yang cacat.”

Sebagaimana komentar terakhir, walaupun pihak pengadilan secara teknis menpertanyakan tingkat keamanan tali tersebut, hal ini membentuk preseden yang buruk. Bila Theory menggunakan tali nilon yang kaku para pemakai jaket malah beresiko tercekik.

Pada saat pria tersebut memilih untuk membeli jaket yang dilengkapi dengan tali karet, seharusnya ia tahu dan menyadari resiko bahwa tali tersebut dapat tertarik atau tersangkut. Tentunya, kecelakaan seperti ini sepatutnya disalahkan pada kecerobohan pengguna dan bukan pada “cacat” produk.

Nasi telah menjadi bubur. Jaket-jaket buatan Theory yang serupa telah ditarik dari pasaran untuk menghindari kasus serupa. Nampaknya Theory harus berpikir keras untuk menggunakan alat lain sebagai pengganti pengencang tali pada jaket-jaket yang akan mereka produksi berikutnya.

Sumber: Rocketnews