96% Pekerja Jepang Merasa Tidak Puas Dengan Gaji Tahunan Mereka

December 13, 2016 1:56 pm
96% Pekerja Jepang Merasa Tidak Puas Dengan Gaji Tahunan Mereka

Majalah Spa! melaksanakan sebuah survey pada tanggal 6 Desember lalu dengan responden para pekerja Jepang. Mereka mewawancara 100 pekerja berumur 35-49 tahun dengan gaji tahunan di bawah 4 juta Yen atau sekitar 461 juta Rupiah per tahunnya. 96% dari para pegawai tersebut menjawab “Tidak” saat ditanyakan “Apakah mereka puas dengan gaji mereka sekarang?

Iwasaki-san“, bukan nama sebenarnya; adalah seorang pegawai yang single di umur 47, dia menghasilkan 3,6 juta Yen per tahunnya dan mungkin dia tidak miskin bila dilihat dari kacamata orang biasa. Namun dia saat ini sudah bekerja di perusahaan yang sedang kesusahan, tidak pernah naik gaji selama 10 tahun, dan tidak melihat adanya harapan untuk naik gaji dalam waktu dekat. Dengan inflasi yang menyerang selama 10 tahun, saya yakin hal tersebut bisa membuat “Iwasaki-san” merasa kekurangan.

Perusahaan tempat dia bekerja adalah pengolah metal, terlalu kecil untuk bersaing di pasar dengan harga barang mentah yang selalu diimpor. Untuk bertahan, perusahaan tersebut menghemat uang dengan tidak meningkatkan gaji, dan menghapus kebijakan uang lembur bagi para pegawainya. Iwasaki biasanya bisa mendapat 3,6 juta Yen bila gaji pokoknya ditambah dengan uang lembur. Kehilangan uang tambahan tersebut memberikan pukulan telak kepada keuangan pribadinya, dia bahkan sudah menyerah untuk menikah karena keadaan ekonominya tersebut.

“Iwasaki-san” adalah contoh dari pekerja di perusahaan kecil dan menengah, menurut konsultan Shigeyuki Jo. “Pasar domestik (Jepang) sedang menyusut. Perusahaan yang bisa berjalan dengan baik adalah eksportir global.” Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri mencatat penjualan dari perusahaan kecil dan menengah turun 30 triliun Yen antara tahun 2011 sampai 2015. Dari tahun 2009 sampai 2015, perusahaan-perusahaan kecil tersebut juga memotong gaji karyawannya sampai 1,6 triliun Yen. “Iwasaki-san” dan kolega-koleganya adalah orang-orang yang paling merasakan dampaknya.



Namun nasib “Imoto-san” sepertinya bisa lebih buruk. 41 tahun beliau bekerja, sepertinya dia sudah berhasil kabur dari sebuah “burakku kigyou” (perusahaan hitam) untuk kembali terjebak di burakku kigyou lain. Lagi dan lagi siklus tersebut terus terulang. Burakku kigyou adalah perusahaan yang mengeksploitasi pegawainya tanpa belas kasih, jam kerja yang panjang dengan upah minimal.

“Imoto-san” pernah mencapai puncak karir dengan gaji tahunan 4,5 juta Yen, namun jam kerjanya tidak pernah berakhir. Tidak jarang “Imoto-san” harus bermalam di kantor beralaskan kardus yang kemudian membuat kondisi kesehatannya ambruk. Beliau kemudian mengambil cuti dan mendapatkan pekerjaan yang ‘lebih ringan’, namun gajinya pun turun jauh menjadi 3,3 juta Yen per tahun. “Imoto-san” memiliki seorang istri dan 3 orang anak, saat ini ketiga anaknya tidur dalam satu kamar. Saat ini, itu cukup untuknya, namun saat anak-anak tersebut beranjak dewasa, mereka harus punya kamar sendiri-sendiri dan mungkin “Imoto-san” harus tidur di dapur bersama istrinya.

Contoh ketiga adalah “Takahashi-san“, ayahnya menderita stroke yang membuatnya harus lumpuh dan tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. “Takahashi-san”, 41 tahun adalah seorang anak tunggal, dan mau tidak mau dia harus merawat ayahnya tersebut. Dia berhenti dari pekerjaannya dan mendapat pekerjaan baru yang dekat dengan rumah. Namun gajinya jatuh menjadi 3,3 juta Yen per tahun, lebih sedikit 2,5 juta Yen dari gaji sebelumnya.

Untungnya, atasan baru “Takahashi-san” adalah seseorang yang pengertian dan memperbolehkan Takahashi memiliki jam kerja yang fleksibel bila memungkinkan. Namun sebentar lagi sang atasan akan segera pensiun dan anaknya yang mementingkan efisiensi akan mengambil alih perusahaan tersebut. “Takahashi-san” bisa melihat akhir dari pekerjaannya di ujung tanduk, dan dia tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah dia jatuh dari tanduk tersebut.

Kalau kamu masih butuh ilustrasi mengenai seberapa beratnya hidup sebagai salaryman di Jepang, cobalah kamu ikuti akun Twitter black9arrows di bawah ini. Most of the times, the feels hits a bit too close to home.



Sumber: Japan Today
Gambar: 101thingsinjapan