Netizen Merilis Teori tentang Alasan Kenapa Game Rilis Belakangan di Jepang

December 22, 2016 4:27 pm
Netizen Merilis Teori tentang Alasan Kenapa Game Rilis Belakangan di Jepang

Saat sebuah game rilis secara global, tidak semua negara bisa langsung memperoleh game tersebut karena berbagai alasan, baik karena proses lokalisasi, kesediaan platform negara tersebut, ataupun proses pemasaran yang berbeda. Gamer Jepang seringkali harus menunggu lebih lama untuk memainkan sebuah game dibandingkan negeri lain, bahkan untuk game buatan negara itu sendiri.

Saat Pokemon Go kemarin dirilis, Jepang selaku negara asal game tersebut malah harus menunggu berminggu-minggu untuk bisa memainkannya. Pemain di barat bisa memainkan game ini beberapa minggu lebih awal (dan lebih cepat lagi lewat jalur alternatif) dan alasan terjadinya keputusan ini pun kurang jelas.

Beberapa teori pun dibuat untuk menjelaskan kenapa game rilis belakangan di Jepang. Yoko Taro, kreator dari seri Drakengard & Nier; mempublikasikan sebuah teori tentang fenomena ini:


Saya pernah mendengar sebuah teori dan saya rasa saya setuju dengannya. Gamer Jepang cenderung memberi sebuah game skor terendah bila ada satu hal pun yang membuatnya tidak senang. Hal ini menurunkan rating keseluruhan game dan membuatnya kurang menjual di pasar global. Namun bila rating game tersebut tinggi di negara lain, rating di Jepang juga akan ikut naik juga. Ini alasan pengembang lebih suka merilis game di luar negeri lebih dahulu.

Tentu saja perilaku seperti score-bombing dan memberi kritik yang sangat vokal pada aspek sebuah game adalah sesuatu yang biasa dilakukan gamer, dimanapun negaranya. Hanya saja netizen lain mencoba membandingkan frekuensi pemberian skor tiap negara di kolom ulasan milik Amazon. Sampel yang digunakan adalah dua game populer yang baru saja dirilis, Final Fantasy XV dan Pokemon Sun.



Seperti yang bisa kalian lihat, gamer Jepang cenderung lebih sering memberikan skor rendah pada sebuah game, dibandingkan dengan negara lain yang lebih dermawan dalam memberikan skor tinggi.

Beberapa netizen memberikan masukan mengenai teori ini:

“Benar juga, banyak review mobage Jepang yang isinya kurang lebih ‘nggak gratis, 1 bintang’ atau ‘bosenin, 1 bintang’”

“Jadi Pokemon GO terlambat datang karena mereka tidak ingin skor awalnya diturunkan gamer Jepang”

“Idenya masuk akal, susah rasanya game ini bisa populer bila rilis di Jepang lebih dulu”

“Mungkin gamer luar ingin hal yang berbeda dari sebuah game?”

“Singkatnya, jangan percaya skor rendah dari gamer Jepang atau jangan percaya skor tinggi dari gamer barat. Ujung-ujungnya hanya kita sendiri yang bisa menilai sebuah game”

Ada kemungkinan pandangan pesimistis gamer Jepang ini diakibatkan oleh pemberian skor dan ulasan Famitsu yang cenderung terlalu “dermawan”, dan jarangnya ada reviewer/blogger/vlogger Jepang yang mengulas game secara langsung dibandingkan dengan pasar barat. Bagaimana cara kalian menilai sebuah game?

Sumber: Rocketnews