Makoto Shinkai: “Saya Tidak Mau Menang Oscar dan Tolong Berhenti Menonton Kimi no Na wa”

December 28, 2016 12:51 pm
Makoto Shinkai: “Saya Tidak Mau Menang Oscar dan Tolong Berhenti Menonton Kimi no Na wa”

Dari pertengahan Agustus sampai akhir tahun 2016 orang-orang di Jepang tergila-gila dengan film buatan Makoto Shinkai berjudul Kimi no Na wa. Film ini berhasil meraup pendapatan sebanyak 20 miliar yen (sekitar 2,5 triliun rupiah) dan berada di posisi kedua film Jepang terlaris sepanjang masa.

Tetapi hal tersebut ternyata mengganggu Makoto Shinkai.

Dalam wawancaranya dengan AFP ia menyatakan bahwa orang-orang harus berhenti menonton Kimi no Na wa. “Hal ini sudah tidak sehat” sambung Makoto Shinkai. Film Kimi no Na wa masuk menjadi calon nominasi film animasi terbaik dalam gelaran Oscar 2017 tetapi Shinkai tidak berharap filmnya akan menang.

Ia menjelaskan bahwa ia ingin menyudahi segala hal yang berhubungan dengan Kimi no Na wa dan kembali mengerjakan proyek animasi terbarunya yang menceritakan remaja Jepang. Tetapi usaha Shinkai tampaknya sulit karena film ini sudah diputar di seluruh dunia dan meraih kesuksesan yang luar biasa di Asia dan membawa banyak penghargaan di negara Eropa dan Amerika Serikat.

Setidaknya ada satu dari tujuh orang Jepang yang menonton film yang bercerita tentang pertukaran tubuh antara remaja perempuan desa dengan remaja laki-laki kota besar yang dikaitkan dengan tragedi meteor yang menimpa Bumi.

Berkat kesuksesan filmnya, Shinkai sering dijuluki sebagai penerus Hayao Miyazaki. Hal tersebut malah membuat Shinkai semakin tidak nyaman.

“Saya senang ketika ada yang menyebut nama saya dan Miyazaki dalam topik yang sama. Rasanya seperti mimpi. Tapi saya tahu bahwa mereka melebih-lebihkan ‘Kimi no Na wa’ karena saya tidak se-level dengan Miyazaki. Sejujurnya saya tidak mau Miyazaki melihat film tersebut karena banyak cacat di sana.” tutur Shinkai.

Kimi no Na wa Tidak Sesempurna Itu

Meski Kimi no Na wa mendapat ulasan yang luar biasa dari mana mana, Shinkai berseikeras bahwa filmnya tidak sebagus itu. “Banyak hal yang tidak bisa kita lakukan.”, kata Shinkai sambil menjelaskan bahwa tim animator yang dipimpin oleh murid Miyazaki, Masahi Ando ingin terus bekerja tetapi uang yang dikucurkan semakin menipis sehingga terpaksa dihentikan untuk beberapa saat.

“Untuk saya film ini tidak komplit dan tidak seimbang. Plot-nya bagus tapi film ini tidak sempurna. Dua tahun tidaklah cukup”

Tetapi Shinkai tahu bahwa filmnya akan menjadi besar ketika ditayangkan pertama kali di Los Angeles sebelum diputar di Jepang. “Para penonton tertawa lalu mereka menangis. Tentunya, saya senang ketika hal tersebut terjadi tetapi saya juga takut bahwa saya bekerja terlalu bagus dan saya berkata kepada diri sendiri ‘Sial, mungkin ini terlalu bagus’.”

Kekuatan dari Kimi no Na wa adalah cerita pertukaran tubuh antara Mitsuha dan Taki, dimana Mitsuha kaget menjadi laki-laki dan Taki terus meraba-raba payudara Mitsuha.

“Saya ingin berbicara tentang seksualitas dengan cara yang lucu”, kata Shinkai.

Film ini juga memadukan keindahan daerah pegunungan Nagano tempat Shinkai tumbuh dan Tokyo yang sangat modern. Film ini juga bercerita tentang para remaja yang ingin ke kota besar tetapi masih takjub dengan tradisi tradisional Jepang yang sudah tua.

“Film ini bercerita tentang ingatan tetapi juga tentang hilangnya ingatan. Ini tentang ingatan individu dan ingatan bersama, melupakan beberapa moralitas dan tradisi”.

Ia tahu bahwa ia akan terus dibandingkan dengan Miyazaki selamanya tetapi ia bersikeras bahwa filmnya berbeda dengan film Miyazaki. Buktinya ia memilih band alternative rock Radwimps untuk mengisi soundtrack film ini ketimbang komposer tua dengan segala musik orkestranya.

Shinkai juga bercerita tentang Ando dan ia berkata bahwa Ando tidak membuat film ini menjadi film Ghibli meski ia anak didik Miyazaki.

“Saya tidak pernah merasakan pengaruh artistik Miyazaki dari Ando. Jika ada pengaruh Miyazaki mungkin itu dari cara ia bekerja. Ketika Ando datang ke studio dia langsung mengambil pena bahkan sebelum mengambil segelas teh dan dia terus duduk sampai kereta terakhir di malam hari. Dia jarang makan dan hanya makan kepalan nasi di meja bahkan dia jarang ke toilet. Ketika saya melihatnya bekerja saya berkata kepada diri saya sendiri mungkin ini cara kerja orang-orang di Studio Ghibli”.

Sumber: AFP