Pada Tahun 2016 Jepang Hanya Menerima 28 Pengungsi

February 10, 2017 1:52 pm
Pada Tahun 2016 Jepang Hanya Menerima 28 Pengungsi

Selang beberapa hari setelah pengumuman resmi pemerintah Jepang mengenai penerimaan pengungsi Suriah sebagai peserta pertukaran pelajar, sebuah laporan mengenai pengungsi yang diterima oleh Jepang pada tahun 2016 dipublikasikan.

asylum

Berdasarkan laporan pencari suaka yang dipublikasikan pemerintah Jepang pada hari ini, tercatat hanya 28 pengungsi yang diterima oleh Jepang pada tahun 2016. Hal ini mengesankan bahwa Jepang tertutup untuk para pencari suaka. Pada tahun 2016 sekitar 10.901 orang mencari suaka di Jepang, jumlah ini meningkat 44% dari tahun sebelumnya dimana pada saat itu Jepang hanya menerima 27 pengungsi saja.

Tercatat tujuh pengungsi asal Afganistan, empat dari Ethiopia, dan tiga dari Eritrea. Namun belum jelas apakah ada pengungsi asal Suriah yang mencari suaka atau mendapatkan suaka di Jepang. Imigrasi asing merupakan hal yang kontroversial di Jepang, karena penduduknya menghargai keseragaman budaya dan ras, walaupun demografinya semakin tua dan jumlah penduduk usia produktif terus menurun.

Walaupun telah memberikan donasi yang cukup banyak untuk organisasi internasional, Jepang tetap enggan mengendurkan aturan mengenai pencari suaka atau memperbolehkan imigran bekerja sebagai buruh pada sektor industri. Human Rights Watch mengatakan, pada bulan lalu perlakuan Jepang terhadap pencari suaka sangat buruk, dimana seharusnya Jepang menerima lebih banyak buruh asing dan menguatkan perlindungan terhadap buruh asing.

Rendahnya penerimaan pengungsi di Jepang berbanding terbalik dengan negara-negara Eropa lainnya, dimana tercatat pada tahun lalu ratusan bahkan ribuan pencari suaka tiba dari negara-negara yang hancur karena peperangan seperti Suriah, Irak, dan Eritrea. Jerman sendiri menerima sekitar 745.545 pengungsi sebagaimana data yang ditunjukkan oleh Kementrian Dalam Negeri, dan disaat bersamaan Berlin mengabulkan lebih dari 256.000 permintaan suaka.

Antara Januari dan September 2016, Jepang tercatat sebagai negara keempat pemberi donasi terbesar kepada Komisi Pengungsi Perserikatan Bangsa-bangsa dengan jumlah donasi 165 juta dolar Amerika (sekitar 2,2 triliun rupiah). Bahkan Perdana Menteri Shinzo Abe menjanjikan mendonasikan 2,8 miliar dolar Amerika (sekitar 37 triliun rupiah) untuk membantu krisis pengungsi selama tiga tahun sejak 2016. Jepang juga akan menerima sekitar 150 pelajar Suriah, bersama keluarga mereka, dibawah program pertukaran pelajar.

Namun tetap saja, badan advokat pengungsi dan organisasi hak asasi manusia mengritik Jepang dalam hal penerimaan pengungsi. Kementerian Hukum yang menangani permasalahan pengungsi menolak berkomentar sebelum mereka melakukan pengumuman resmi ke publik. Tercatat pada tahun lalu, pencari suaka asal Indonesia menduduki peringkat teratas disusul oleh Nepal, Filipina, dan Turki dengan jumlah 97 orang walau mereka tidak dikategorikan sebagai pengungsi namun mendapatkan ijin tinggal dengan alasan kemanusiaan.

“Aturan mengenai pengungsi di Jepang sangatlah ketat,” ujar Suleyman Yucel, 32 tahun, seorang pencari suaka asal Turki yang telah tiga kali ditolak saat mengajukan permohonan suaka pada bulan April 2016. Seperti kebanyakan pencari suaka lainnya, Yucel dilarang untuk bekerja dan hidup dalam keterbatasan. “Jepang telah memutuskan hidup saya, dan saya tidak punya pilihan atas apa yang akan terjadi pada diri saya,” lanjut Yucel.

Menurut sebuah investigasi Reuters yang dilakukan pada tahun lalu menunjukkan bahwa bagaimana para pencari suaka bekerja pada bidang konstruksi infrastruktur ditengah kurangnya jumlah pekerja bangunan asli Jepang. Jepang tengah menghadapi krisis kekurangan buruh terburuk sejak tahun 1991, para pembuat kebijakan tengah berupaya untuk bisa membawa lebih banyak tenaga kerja asing ke Jepang.

Pada bulan Desember, pemerintah Jepang memperluas batasan sistem penerimaan pekerja baru dari negara berkembang, dan juga menciptakan status visa baru untuk para perawat dan pengasuh.

Sumber: JapanToday