Ahli Statistik Mengumpulkan Data Cerita yang Disukai Pembaca Wanita pada Manga

February 20, 2017 10:31 am
Ahli Statistik Mengumpulkan Data Cerita yang Disukai Pembaca Wanita pada Manga

Midori Makita adalah seorang ahli statistik. Hanya saja fokus risetnya ditujukan pada manga, dimana dia mengumpulkan data untuk mengetahui apa hal yang diinginkan para pembaca. Akhir-akhir ini risetnya berfokus pada manga Shoujo & Josei untuk mengetahui apa tema dan karakter yang populer di kalangan pembaca wanita.

Berbeda dengan peneliti yang lain yang mempublikasikan hasil riset di jurnal ilmiah, Makita mempublkasikan temuannya pada buku “Ren’ai Toukei” (Statistik Roman) yang bisa didapatkan di Comiket ataupun secara online.

doujin.png

Sampel data yang dikumpulkan riset ini adalah 356 cerita (sekitar 12.580 halaman) yang dipublikasikan di tahun 2016. Dia berkonsultasi dengan 4 majalah untuk anak, 8 majalah umum/semua umur, 13 majalah remaja, dan 4 majalah dewasa. Semua majalah tersebut tentunya ditargetkan untuk wanita, dan dia menemukan bahwa aspek umum dari semua cerita tersebut adalah “tekanan menjadi wanita”.

Makita menemukan bahwa target pasangan dari tokoh utama cerita (yang tentunya adalah perempuan) adalah laki-laki dengan “kualitas tinggi”, dengan kata lain laki-laki yang populer, ganteng, dan berbakat. Untuk laki-laki yang berbakat, 55% manga remaja, 54% manga anak, dan 34% manga semua umur memiliki tipe laki-laki semacam ini.

Sementara untuk protagonisnya, umumnya mereka memiliki inferiority complex yang berasal dari tekanan orang tua, kesulitan dalam bekerja, memiliki bentuk badan yang tidak ideal, dan kurangnya rasa percaya diri. Beberapa cerita memang menceritakan protagonis yang berbakat, namun bakat itu mengisolasi mereka ataupun “membuat mereka tidak dilihat sebagai wanita”. Makita menemukan 70% manga anak, 67% manga semua umur, dan 53% manga remaja memiliki protagonis dengan inferiority complex.

Makita berpendapat bahwa tren semacam ini diakibatkan oleh tekanan pada wanita di dunia nyata. Dia mengatakan “Di dunia modern, hidup wanita dipersulit oleh gaji rendah, promosi kerja, pernikahan, dan keluarga. Masalah yang dihadapi oleh para protagonis manga adalah masalah yang pembaca harap bisa diselesaikan.”

Makita juga melihat bahwa laki-laki akan lebih sering memuji sang protagonis seiring ceritanya berjalan. Dia melihat hal ini sebagai penekanan dari pola “Laki-laki yang sangat berbakat jatuh cinta pada perempuan yang biasa saja”. Penjelasan Makita dari tren ini adalah “Dengan dicintai oleh laki-laki berkualitas tinggi, pembaca merasa bahwa dia akan dihargai oleh masyarakat juga.”

graf.png

Frekuensi pujian dari sebuah cerita

Satu lagi aspek menarik yang ditemukan Makita adalah, para heroine cerita ini umumnya lebih pasif sementara pasangannya lebih proaktif. 93% manga dewasa, 89% manga remaja, 82% manga anak, dan 76% manga semua umur memiliki dinamika karakter semacam ini. Aspek yang mendukung temuan ini dapat dilihat pada jumlah pelukan pada cerita, dimana 44-81% perempuan dipeluk laki-laki sementara 12-24% pelukan dilakukan oleh perempuan. Popularitas dari kabe-don juga dikomentari Makita bahwa “Hal ini menunjukkan perempuan ingin dicintai sampai-sampai mereka terkejut dengan besar cinta tersebut, namun yang melakukan hal ini tentunya harus ganteng.”

Makita juga pada tahun 2015 telah melakukan riset pada manga BL. Dimana tipe karakter Uke lebih sering (54%) menjadi pemimpin hubungan tersebut dibandingkan karakter seme (39%). Cerita BL juga umumnya memiliki karakter dan hubungan yang lebih variatif dibandingkan shoujo manga, Makita berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh preferensi pembaca wanita yang bersedia menjadi “penonton” pada hubungan tersebut dan bukan sebagai karakter pelaku.

bl.png

Untuk mencari tahu faktor mana yang menentukan preferensi perempuan pada genre BL dan shoujo, Makita mengatakan bahwa “Manga shoujo/josei lebih merepresentasikan stres dari perempuan yang merasa tertekan dengan ekspektasi masyarakat. Sementara manga BL yang cenderung keberadaan karakter wanitanya minimalis memberi pelarian pada perempuan dimana mereka tidak harus tertekan menjadi perempuan.”

Sumber: ANN