Dua Wanita Korban Tragedi 9/11 dan Pembunuhan Menjadi Tenaga Medis untuk Korban Nuklir Fukushima

March 8, 2017 8:21 pm
Dua Wanita Korban Tragedi 9/11 dan Pembunuhan Menjadi Tenaga Medis untuk Korban Nuklir Fukushima

Setiap bulannya, Harumi Sugiyama dan Yumiko Hongo mengunjungi sebuah apartemen di Tokyo untuk mengakomodir orang-orang yang mengungsi dari insiden nuklir Fukushima tahun 2011. Keduanya menjadi tenaga medis untuk mendengarkan kehidupan sehari-hari, keluh kesah, atau kesedihan para korban.

Keduanya merupakan spesialis perawatan mental yang bertugas untuk membantu orang-orang untuk mengurangi penderitaan yang mereka alami melalui konseling. Keduanya melakukan hal ini bukan karena kemampuan mereka yang telah diakui secara profesional namun juga pengalaman menyedihkan yang telah dialami oleh keduanya.

Sugiyama, 51 tahun, menghadapi kematian suami yang berusia 34 tahun pada saat serangan teror 11 September 2001 di Amerika Serikat sementara Hongo, 51 tahun, kehilangan putrinya yang berusia 7 tahun pada saat aksi penusukan di sebuah SD di prefektur Osaka pada tahun yang sama.

Enam tahun telah berlalu sejak insiden nuklir Fukushima, keduanya percaya bahwa menyembuhkan permasalahan emosional setiap individu membutuhkan proses yang panjang, dan keduanya berharap bisa terus menjadi bagian dari tenaga medis yang membantu para pengungsi dalam menghadapi permasalahan yang mereka alami, seperti yang telah mereka rasakan saat dibantu oleh orang lain untuk bisa keluar dari kesedihan.

“Pada kasus yang saya alami, hal itu menenangkan emosi saya karena ada seseorang yang mendengarkan pikiran dan perasaan serta terus berada di dekat saya. Saya pikir bantuan semacam ini dibutuhkan oleh orang-orang yang berada dalam kesedihan yang hebat, yang tidak bisa disembuhkan oleh obat-obatan,” ucap Hongo, dimana menurut dirinya penyembuhan mental berbasis konseling itu penting.

Layanan konseling oleh tenaga medis profesional bersertifikat oleh Asosiasi Perawatan Mental dimulai pada November 2012 di apartemen Shinonome di Koto, yang telah melayani fasilitas pengungsian terbesar di Tokyo untuk para korban bencana gempa bumi, tsunami, dan nuklir yang terjadi pada Maret 2011. Sugiyama telah menjadi konselor sejak awal sementara Hongo bergabung setelah dirinya pindah ke Osaka dari Tokyo pada tahun 2015.

Saat berdialog dengan para pengungsi, keduanya tidak akan menceritakan latar belakang pribadi mereka kecuali jika diminta dan hanya fokus untuk menerima rasa sakit dan rasa emosi klien mereka, dimana rasa sakit tersebut terkadang tidak bisa dilihat oleh mata. Aktivitas keduanya tidak melibatkan bantuan medis pemberian obat.

“Saya mengetahui bahwa para pengungsi tengah melawan kehilangan yang mereka alami saat mereka membicarakan mengenai kehidupan sehari-hari mereka. Sebagai contoh, saat mereka membeli sayuran hal itu mengingatkan mereka saat mereka terbiasa menanam sayur-sayuran di rumah mereka, dimana mereka sudah tidak dapat lagi melakukan aktivitas tersebut,” ucap Hongo.

Insiden nuklir Fukushima merupakan hasil dari melelehnya inti nuklir pada tiga reaktor nuklir dan kontaminasi nuklir menyebar ke berbagai daerah. Bersamaan dengan bencana alam lainnya, menyebabkan lebih dari 160.000 warga Fukushima direlokasi ke tempat lain.

Jumlah pengungsi yang mendapatkan jasa konseling di apartemen Shinonome menurun, dimana beberapa orang telah kembali ke prefektur Fukushima atau pindah ke tempat lain, berdasarkan informasi yang diberikan oleh Asosiasi Perawatan Mental.

Tapi asosiasi tersebut merasa perlu untuk meneruskan kegiatan mereka, dimana banyak tenaga suka rela yang telah bekerja selama bertahun-tahun. Namun untuk sekarang ini, terdapat kasus dimana para pengungsi yang sebelum tidak pernah meminta bantuan konseling tiba-tiba menginginkan bantuan konseling.

Seorang pria berusia 61 tahun, yang meninggalkan rumahnya yang berjarak sekitar 22 kilometer dari area reaktor nuklir Fukushima; mengatakan bahwa dirinya kerap mengutarakan buruknya penanganan pengungsi untuk meluapkan rasa frustasinya dalam dialog yang ia lakukan dengan Sugiyama.

“Saya terbakar emosi pada saat itu… tapi sekarang saya merasa cukup tenang karena konseling ini,” kata pria tersebut, setelah dirinya berdialog dengan Sugiyama selama 30 menit pada akhir Februari lalu di sebuah ruangan yang dikhususkan untuk konseling di apartemen Shinonome.

Dialog mereka pada saat itu kebanyakan merupakan obrolan yang meringankan hati karena pria tersebut cukup familiar dengan Sugiyama. Namun ada momen dimana keduanya berbagi perasaan terdalam mereka saat pria tersebut menanyai Sugiyama mengenai perasaan Sugiyama terhadap serangan teror 11 September.

“Nyaris mustahil untuk melupakan segalanya dan pergi ke tahap selanjutnya namun saya merasa pada saat ini banyak orang seperti dirimu yang juga mengalami peristiwa tersebut,” jawab Sugiyama, dan pria tersebut setuju.

Sugiyama memiliki sertifikat sebagai spesialis perawatan mental pada tahun 2010, dimana dirinya berharap bisa menghadirkan tipe bantuan yang sama yang ia terima di Amerika Serikat pada saat dirinya mencari suaminya yang hilang, Yoichi Sugiyama, seorang bankir yang tengah bekerja di menara kembar World Trade Center pada saat serangan terjadi.

“Saat tidak dapat menemukan nama suami saya (dari berbagai daftar orang-orang yang dibawa ke rumah sakit), saya menangis saat itu juga. Tiba-tiba seorang wanita yang tampaknya sukarelawan perawatan mental menghampiri saya walau saya orang asing dan warga negara lain, bertanya apakah saya baik-baik saya dan merangkul pundak saya,” ucap Sugiyama, dimana pada saat itu dirinya tengah hamil.

“Sambil memeluk pundak saya, dia membawa saya keluar dan memberikan info untuk menghubungi dirinya… Saat itu saya merasa dirinya ada untuk diri saya dan saya tidak akan melupakan hal tersebut begitu saja,” tambah Sugiyama.

Sugiyama juga merasa bahwa perawatan mental lebih mudah diakses di Amerika Serikat, sukarelawan dan perawat sering menanyakan apakah dirinya membutuhkan bantuan. Sementara di Jepang, banyak orang yang tidak mencari bantuan semacam ini kecuali para korban telah terdesak.

“Para korban bencana sering berucap kepada saya, ‘Tidak seharusnya saya komplain saat orang orang lain tengah melewati kesulitan yang lebih besar.’ Tapi saya berpikir bahwa kita perlu menciptakan lingkungan dimana setiap orang merasa nyaman membicarakan permasalahan yang mereka alami demi kenyamanan mental mereka,” ujar Sugiyama.

Hongo yang menjadi spesialis perawatan mental pada tahun 2005 mengatakan bahwa dirinya tidak menyangka akan melakukan sesuatu yang luar biasa dan menyalurkan kembali bantuan serupa yang pernah dirinya terima di masa lalu.

“Saya kehilangan kepercayaan terhadap orang lain (setelah anak saya, Yuki, terbunuh). Tapi saya juga diselamatkan oleh orang terus berada bersama saya dimana sekarang saya merasa berhutang budi kepada mereka karena bisa menjadi saya yang sekarang,” ucap Hongo, yang juga banyak belajar mengenai penanganan mental, dimana dirinya ingin bisa membantu orang-orang untuk bisa mengatasi rasa duka akibat ditinggal orang yang dicintai.

Hongo berkata bahwa ada suatu momen dimana dia berpikir untuk mengakhiri hidupnya di tengah rasa sedih akibat kehilangan anak perempuannya. Namun dirinya diingatkan mengenai nilai kehidupan saat dirinya melihat jejak darah sepanjang 39 meter yang ditinggalkan Yuki yang menjadi tanda bagaimana Yuki melawan hingga nafas terakhirnya setelah ditusuk oleh pelaku.

Hongo menghitung ada 68 langkah sepanjang jejak darah yang ditinggalkan oleh Yuki.

“68 langkah yang ditinggalkan Yuki menunjukkan kepada saya bahwa setiap orang kekuatan yang sama untuk terus hidup. Saya berharap bisa menawarkan bantuan kepada orang lain, mempercayai kekuatan yang dimiliki oleh setiap orang,” ucap Hongo.

Sumber: JapanToday

Header: Kanechi