Pengajar di Jepang Menganggap LINE Membuat Generasi Muda Melupakan Bahasa

March 31, 2017 3:43 pm
Pengajar di Jepang Menganggap LINE Membuat Generasi Muda Melupakan Bahasa

LINE adalah salah satu aplikasi messenger yang paling populer di Jepang, dan tentunya salah satu yang paling dikenal selain Twitter. Banyak pengguna LINE yang tergila-gila dengan LINE sticker, karena kemudahan memakainya untuk mengekspresikan sesuatu, dan membuat chat dengan orang lain terasa lebih lucu. Tidak jarang juga seri anime mengiklankan seri mereka dengan membuat LINE sticker.

Namun menurut salah satu pengajar Jepang, Kohei Yano memberitahu Shukan Kinyobi pada tanggal 3 Maret lalu kalau aplikasi seperti LINE dianggap membodohi penggunanya dan mengancam kelestarian dari bahasa Jepang sendiri.

JOI - LINE membuat bodoh (2)

Yano adalah seorang pendiri dari sebuah bimbingan belajar, dan mempublikasikan sebuah buku yang berjudul “LINE membuat anak-anak jadi bodoh, dan mengancam bahasa Jepang menuju kehancuran“. Satu hal yang disadari oleh Yano adalah anak-anak usia SMP dan SMA yang menggunakan LINE menghambat kemampuan menggunakan kosa kata mereka sendiri.

Sejak 5 tahun lalu, tepat saat LINE dibuat, kosa kata menjadi memburuk. Salah satu contohnya adalah penggunaan kata “Kimoi” yang berasal dari “Kimochi ga warui” saat seseorang mengekspresikan ketidaknyamanannya menjadi mudah digunakan dalam segala situasi. Sepertinya generasi muda jadi lebih susah untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dengan lebih detil. Hal ini menjadi masalah saat di kelas saat mereka tidak mengerti sesuatu, tapi tidak mengekspresikan hal itu. Hal ini menunjukkan kurangnya kemauan generasi muda untuk berpikir kritis, sehingga jarang mereka membuat argumen atau bertanya lebih dalam di kelas.

Hal lain yang menunjukkan menurunnya kemampuan para murid untuk menggunakan bahasa adalah meningkatnya penggunaan media sosial yang mematikan kreativitas. Karena sekarang banyak generasi muda yang hanya mengerti apa yang tersurat, dan susah memahami sesuatu yang tersirat, seperti puisi.

Terlebih lagi, anak-anak, yang hanya menggunakan smartphone saja tidak bisa menggunakan komputer.” menurut Yano. “Mereka bahkan tidak bisa memakai keyboard, yang mereka anggap repot karena harus menekan beberapa tombol untuk membuat sesuatu dari ketidakadaan.”

JOI - LINE membuat bodoh (3)

Yano kemudian menjelaskan salah satu solusi yang sudah dipikirkannya, yaitu seorang murid harus belajar menulis kembali, membacakannya kepada orang ketiga, dan bertanya apakah tulisan tersebut dapat dipahami atau tidak.

Saya tidak bisa menyangkal kalau penggunaan LINE sticker memang mempermudah komunikasi, seperti membalas “oke” atau “lol” di akhir pembicaraan. Tapi agak berlebihan bila dibilang budaya ini membuat orang-orang jadi bodoh. Apalagi dianggap tidak bisa menggunakan komputer, saat komputer merupakan hal yang sangat mendasar di era ini.

Apakah menurutmu penggunaan LINE membuatmu menjadi bodoh?

Sumber: Japan Today
Header: The Bridge