Petisi Boikot ‘Death Note’ Buatan Netflix Mencapai Jepang, Netizen Jepang Bereaksi

April 3, 2017 1:57 pm
Petisi Boikot ‘Death Note’ Buatan Netflix Mencapai Jepang, Netizen Jepang Bereaksi

Belum lama ini, tepatnya tanggal 22 Maret lalu, media streaming terkemuka Netflix menayangkan sebuah trailer adaptasi seri yang pernah fenomenal beberapa tahun silam. Apalagi kalau bukan Death Note. Ya, karya karangan Tsugumi Oba and Takeshi Obata yang sangat diminati oleh para otaku diseluruh dunia ini mendapatkan adaptasi berupa serial live-action oleh Netflix yang akan ditayangkan pada bulan Agustus mendatang.

Namun kemudian hal ini menuai kontroversi dikalangan penggemar Death Note, karena Netflix menggunakan aktor-aktor asing yang tidak memiliki darah Asia untuk adaptasi Death Note. Istilah ini dikenal sebagai whitewashing dimana aktor atau aktris yang berperan pada adaptasi live-action tidak memiliki kemiripan dengan karakter aslinya. Kasus ini kerap terjadi dibeberapa adaptasi live-action oleh Hollywood. Sebut saja film Avatar The Legend of Aang dan Dragonball, buat yang sudah menonton kedua film ini jelas mengetahui karakter-karakter yang mengalami whitewashing.

Walau ada yang tidak menerima dengan whitewashing, ada pula yang menerima hal tersebut. Salah satunya adalah Sam Yashiba, direktur dari Divisi International Business di Kantor Pusat Kodansha di Tokyo, berpendapat dengan menjawab kontroversi dan memberikan dukungan untuk Johansson.

Sama halnya dengan Ghost in the Shell, para penggemar Death Note juga membuat petisi untuk menolak whitewashing yang Netflix gunakan untuk adaptasi live-action favorit mereka dimana terjadi keanehan karena L pada adaptasi ini berkulit hitam sementara Light Yamagi yang pada serial ini bernama Light Turner diperankan oleh aktor kulit putih.



Petisi yang dibuat pada Care2 Petition memiliki target 15.000 penandatangan dimana pada saat berita ini ditulis telah mencapai angka 14.979 penandatangan yang artinya tinggal sedikit lagi untuk mencapai angka 15.000 penandatangan. Petisi ini juga mengutip kekurangan aktor-aktor Amerika keturunan Asia pada kisah yang penuh dengan budaya, sejarah, dan identitas Jepang sebagai contoh lain whitewashing oleh industri perfilman Amerika.

Petisi ini pun direspon oleh para netizen Jepang, beberapa netizen Jepang mengatakan bahwa aktor-aktor khususnya aktor kulit putih yang ditampilkan pada adaptasi Hollywood tidak menjadi masalah. Berikut ini kutipan beberapa komentar dari netizen Jepang:

“Jika berlokasi di SMA Amerika, maka tidak menjadi masalah bila menggunakan aktor kulit putih.”
“Ini merupakan versi Hollywood, jadi tidak apa untuk menggunakan orang kulit putih.”
“Ini layaknya Godzilla versi Hollywood. Ini versi Hollywood jadi menggunakan orang asing tidak menjadi masalah.”

Namun beberapa netizen Jepang berkomentar tentang hal lain, yaitu penggunaan aktor berkulit hitam sebagai L pada adaptasi Netflix ini. Berikut ini kutipannya:

“Hal yang tidak biasa adalah L berkulit hitam.”
“Bila mengacu pada manga orisinalnya, L berkulit hitam itu sangatlah jauh.”
“Saya merasa ini tidak sesuai dengan karakter L.”

Bila mana petisi online ini menginginkan bahwa aktor Amerika keturunan Asia diberi tempat sebagai pemeran utama pada adaptasi Death Note, warga Jepang cenderung lebih menerima penggunaan aktor-aktor asli Amerika. Satu hal yang ditekankan bila para produser perfilman Amerika merekrut aktor Asia, mereka harus aktor Jepang. Seperti mana yang diungkapkan oleh para netizen Jepang berikut ini:

“Saya merasa menjadi sedikit masalah bila aktor yang memerankan karakter utama pada Speed Racer beralih dari aktor Jepang ke aktor Korea.”
“Sebagai orang Jepang, saya merasa tidak terima bila orang yang bukan Jepang-Amerika memainkan peran orang Jepang.”
“Jujur saja saya lebih memilih kulit putih atau kulit hitam pada versi Amerika daripada aktor Korea atau China berpura-pura menjadi orang Jepang.”

Cukup aneh rasanya bila melihat dua sisi yang berbeda pada poin tersebut dimana pada petisi menginginkan boikot karena Netflix tidak menggunakan jasa aktor Amerika keturunan Asia seperti Edward Zo, sementara banyak netizen Jepang akan marah bila menggunakan aktor Asia yang bukan orang Jepang.

Sumber: Rocketnews