[3 Episode Rule] Tsuki ga Kirei

May 8, 2017 4:36 pm
[3 Episode Rule] Tsuki ga Kirei

Tampaknya saya lancang dengan menuliskan caption 3 eps rule Alice to Zouroku sebagai anime yang mengutamakan cerita, mungkin karena saya lebih dulu menonton Alice to Zouroku ketimbang Tsuki ga Kirei. Turut serta mengusung kesederhanaan dan mengutamakan cerita, Tsuki ga Kirei bertema romansa yang mengisahkan hubungan Azumi Koutarou dan Mizuno Akane. Lalu apa membedakan Tsuki ga Kirei dengan anime bertema romansa lainnya? Mari kita cari tahu bersama-sama.

First Step: Dari mata turun ke hati

JOI-review-TsukigaKirei-1

Dari mata turun ke hati, mengalir begitu saja. Begitu juga dengan cerita Tsuki ga Kirei ini. Episode satu hadir sebagai episode perkenalan yang menyajikan fondasi cerita dasar dari Tsuki ga Kirei karena itu episode satu terasa sedikit membosankan sebelumnya akhirnya adegan di family restaurant dihadirkan. Untungnya episode dua dan tiga menyajikan cerita yang menarik, yang mengalir dengan indah. Seindah bulan di malam hari.

Harusnya Akane berterima kasih dengan sang kakak, bila tidak mungkin dirinya tidak selangkah lebih dekat dengan Koutarou walau ternyata mendapatkan tugas yang sama dalam sebuah kelompok. Lucunya ayah Koutarou mengakui Akane manis, tampaknya ucapan tersebut menjadi lampu hijau untuk Koutarou #kodedariayah

JOI-review-TsukigaKirei-2

Kealpaan Akane dalam memasukkan Koutarou ke dalam grup chat menjadi pijakan kedua yang mendekatkan Akane dengan Koutarou. Padahal mereka sudah sedekat itu, sayangnya Akane gagal mendapatkan ID LINE Koutarou karena keduanya terbata-bata saat hendak berucap. Alih-alih melanjutkan obrolan, kedua pun malah saling pandang hingga Akane diajak ke WC oleh temannya. Kenapa sih cewek selalu ngajakin temennya untuk pergi ke WC?!

Tampaknya dari saling pandang tersebut mulai timbul benih-benih cinta di hati Koutarou. Pada adegan di toko buku, Koutarou terlihat memandangi seorang idol di sampul majalah yang penampilannya mirip Akane. Adegan di ruang peralatan membuat saya tersenyum-senyum sendiri melihat kedua insan yang tampaknya belum menyadari perasaan suka yang timbul pada diri mereka.

Second Step: Rasa Peduli

JOI-review-TsukigaKirei-3

Berawal dari mata turun ke hati, berlanjut ke rasa peduli dimana hal ini terlihat pada akhir episode satu Akane menunjukkan rasa pedulinya terhadap Koutarou dengan membersihkan noda pada punggung Koutarou.

JOI-review-TsukigaKirei-4

Hal tersebut kemudian dibalas oleh Koutarou dengan menemukan boneka yang selalu membantu Akane dalam mengusir rasa gugupnya. Secara garis besar, episode dua menceritakan bagaimana Koutarou mulai menyadari perasaan suka yang timbul pada dirinya. Hal itu disebabkan pesona Akane sebagai atlit lari yang menyedot perhatian seluruh siswa.

Sayangnya keberhasilan Akane sebagai pelari wanita dari tim merah tidak dibarengi oleh keberhasilan Koutarou sebagai pelari pria dari tim merah. Walau begitu Koutarou berhasil finish di hati Akane.

Third Step: Komunikasi yang intens

JOI-review-TsukigaKirei-5

Komunikasi yang intens berbuah manis diakhir-akhir episode dua. Mendapatkan nama panggilan merupakan tanda kedekatan antara pria dan wanita. Tapi perlu diingat untuk menjaga ritme komunikasi, jangan terlalu sering atau salah satu pihak akan merasa bosan.

JOI-review-TsukigaKirei-6

Tampaknya Koutarou dan Akane berhasil menjaga ritme komunikasi yang baik cuma bisa iri. Setelah melalui dari mata turun ke hati, rasa peduli, dan komunikasi; Akane dan Koutarou berada pada posisi saling membutuhkan.

JOI-review-TsukigaKirei-7

Dari gambar diatas bisa terlihat alih-alih mengkhawatirkan pemecahan rekor waktu lari miliknya sendiri, Akane justru memikirkan hal yang lain. Namun sayang pada saat berada di situasi yang pas, Akane malah tidak bisa menghubungi Koutarou karena HP miliknya mati.

JOI-review-TsukigaKirei-8

Rasa ingin bertemu dengan Koutarou, mengantarkan Akane ke kuil tempat Koutarou berlatih untuk festival Kawagoe. Akhir episode tiga menjadi penutup arc pertama anime Tsuki ga Kirei dimana Koutarou mengutarakan perasaanya terhadap Akane yang menjadikan arc berikut lebih menarik.

Verdict: Kisah Kasih di Sekolah

Entah kenapa salah satu lagu yang pernah dinyanyikan oleh mendiang Chrisye ini terputar saat hendak menuliskan bagian verdict Tsuki ga Kirei. Mungkin karena lagu tersebut benar apa adanya, kisah kasih paling indah itu memang disaat bangku sekolah. Apalagi pada saat kelas tiga SMP dimana pada saat itu sebagian besar remaja untuk pertama kalinya merasakan pubersitas yang memicu rasa menyukai lawan jenis.

Karena belum pernah menjalani kisah cinta sebelumnya biasanya para remaja ini malu-malu dalam mengungkapkan perasaannya dan tidak ingin orang lain tahu kalau mereka tengah menyukai seseorang. Hal inilah yang disajikan oleh Tsuki ga Kirei, yang menjadikan anime ini menarik untuk ditonton bagi siapapun, yang pernah menjalani kisah kasih di sekolah atau pun yang tidak pernah. Juga buat para otaku yang bosan dengan tipe anime yang itu-itu lagi termasuk saya.

Nilai tambah lainnya adalah seiyuu dari Akane, Kohara Konomi yang sejauh ini baru berperan dalam tiga judul anime termasuk Tsuki ga Kirei. Saya tidak menonton dua judul anime yang terdapat nama Kohara Konomi tapi saya merasa bahwa Kohara Konomi adalah Akane. Mungkin bila suatu saat saya mendengarkan Kohara Konomi menggunakan suara Akane di judul lain, saya akan bilang ini suara Akane dari Tsuki ga Kirei.

Etherlite: Menghibur dengan sederhana/10

Story? Ringan. Action? Ga ada. Moe? Secukupnya, ga sampai tahap diabetes. Humor? ada, tapi nowhere near Konosuba. Lalu apa daya tarik anime ini? Good question, it’s a simple and relaxing anime, menceritakan tentang cinta pertama pada masa SMP, dimana masih banyak malu-malu kucing, canggung dan jiwa yang masih labil. Artnya yang soft mengingatkan saya kepada Hourou Musuko, meskipun tema yang diangkat jauh lebih ringan. Tsuki ga Kirei adalah anime yang bisa ditonton dengan santai, sambil senyum-senyum sendiri & gregetan “kenapa ga begini, kenapa ga begitu,” jawabannya juga sederhana: namanya juga masih SMP.