[Review] Blame! Movie

May 31, 2017 3:46 pm
[Review] Blame! Movie

Melihat Netflix yang mulai ikut mendanai produksi anime, saya sendiri cukup kaget melihat Blame! menjadi pilihan mereka. Daya tarik terbesar dari manga karya Tsutomu Nihei ini adalah banyaknya architecture porn dan hal-hal unik di dalam Megastructure yang ditemui Killy, jadi saya cukup penasaran cerita macam apa yang akan dijadikan film.

Yang perlu kalian tahu untuk “mengerti” setting Blame! adalah sistem internet di masa depan dan pengendali semua infrastruktur bumi, NetSphere; menjadi gila akibat serangan hacker, pemberontak, dan berbagai faksi yang kurang menyukai monopoli teknologi tersebut. Untuk menghentikan serangan, sistem tersebut terus membangun struktur baru yang besarnya sudah menutupi tata surya, dan menggunakan Safeguard untuk memburu semua mahluk tanpa Net Terminal Gene, sebuah gen yang dimiliki manusia “murni” untuk mengakses dan mengendalikan NetSphere.

Blame! Movie killy

Killy, tergantung teori mana yang kalian percaya; adalah sebuah proto-Safeguard dengan “kemanusiaan” atau manusia yang tubuhnya di-upgrade dengan teknologi Safeguard. Fokus utama dari seri Blame! adalah petulangannya untuk menemukan manusia dengan Net Terminal Gene dan melindunginya sampai sistem Megastructure bisa dijinakkan. Hal ini cukup sulit dilakukan karena kebanyakan “manusia” yang tersisa adalah mutan, hasil kloning, android, dan semacamnya.

Film ini menggunakan arc Electrofisher dari manga-nya sebagai pondasi. Untuk kalian yang sudah membaca manga, ini adalah titik dimana sistem Safeguard milik Killy sudah kembali aktif dan dia menjadi lebih efektif dalam menjalankan misinya. Hanya saja untuk adaptasi film ini sudut pandang utama penceritaan adalah para Electrofisher yang diberikan lebih banyak karakterisasi.

It’s a good introduction to the setting

Pada dasarnya, template umum cerita Blame! adalah “Killy menembaki dan menjelajahi megastructure sampai dia hancur/menemukan Net Terminal Gene.” sehingga tiap arc sifatnya self-contained, Backstory-nya sendiri tersebar di banyak spin-off dan wawancara dengan Nihei. Singkatnya, Blame! sangat cocok untuk sebuah adaptasi seri yang sifatnya episodik. Namun kecil kemungkinannya penonton akan bisa mengerti apa yang terjadi di episodenya tanpa menonton ulang sampai  3-4 kali. Bahkan saya tidak yakin adaptasi sebanyak 3 season anime sekalipun akan cukup untuk memberi penjelasan yang memuaskan.

Film Blame! walaupun tidak memiliki karakter mahluk silikon merupakan adaptasi yang bagus untuk memperkenalkan setting-nya. Awalnya saya bahkan mempertimbangkan “bisa mengerti apa yang terjadi dalam sekali nonton” sebagai kritik untuk seri buatan Tsutomu Nihei ini. Karakter sentral seperti Cibo, Sanakan, dan Killy diperkenalkan dengan cukup baik, walaupun jujur saja dua karakter pertama tersebut lebih moe dari yang saya ingat, kemungkinan besar karena Nihei sudah membuat Sidonia jadi desain karakter wanita-nya juga jadi disesuaikan.

Blame! Movie - 00 Sanakan

Wouldn’t say no to smug Sanakan though

Tone cerita film juga keseluruhan lebih optimistis daripada manga-nya, dimana para Electrofisher sekedar tidak mati semua dan bukan berhasil mencapai tempat yang aman seperti di film. Bahkan yang teluka parah sekalipun kemungkinan besar selamat, berhubung Nanomachine dari Megastructure terus bekerja untuk membunuh bakteri, sehingga mati karena infeksi dan penyakit itu cukup jarang di dunia ini.

There’s more characterization for better or worse

Untuk sebuah seri yang terkenal sangat minim eksposisi dan tokoh utama yang penyendiri, para karakter film ini memiliki lebih banyak kepribadian. Bahkan untuk standar protagonis seri Tsutomu Nihei, Killy di sini tergolong bawel. Untungnya film ini berhasil memperlihatkan dia sebagai karakter yang jelas-jelas bukan manusia.

Blame! Movie - 00 zuru

Fokus ke para Electrofisher bisa dimengerti karena di manga-nya sendiri Killy sering diberikan sidekick (Cibo, USB-dude) untuk menyediakan dialog. Hanya saja para Electrofisher at best memiliki kepribadian yang datar, dan separah-parahnya dibebani sub-plot roman yang nggak penting banget.

Beberapa momen karakter seru dari manga-nya seperti Cibo yang menyatu dengan Builder ataupun juga sayangnya tidak muncul disini. Secara keseluruhan saya melihat tambahan karakterisasi yang ada cukup fungsional. Saya sendiri juga tidak yakin film ini bisa memiliki respon mainstream yang baik bila dialog dan karakternya seminimal manga-nya.

3D anime frame rate problem is still pervasive

Saya penasaran kenapa Netflix nggak nunjuk ke Voltron dan bilang ke ke Polygon Pictures “Frame rate 3D-nya bisa kayak gitu?” Karena seperti kebanyakan anime 3D, frame rate animasinya sangat rendah. Untungnya kejelekan ini hanya kentara di sesi dialog dan eksposisi, karena pada sesi action yang melibatkan Electrofisher (yang gerakannya cepat akibat armor mereka), Safeguard (yang gerakannya memang tidak alami), dan penembakan Gravitational Beam Emitter kualitas animasinya cukup berkualitas.

Blame! Movie cibo

Kelak studio animasi Jepang akan sadar bahwa menggunakan 3D untuk meniru 2D adalah hal yang sia-sia, untuk sekarang kita masih harus menderitai frame-rate rendah.

Verdict: Finally an animated GBE

Untuk memperkenalkan seri yang cukup sulit dijelaskan, film ini cukup baik untuk penonton baru. Untuk fans lama sendiri akhirnya kita bisa melihat GBE yang dianimasikan, dan Polygon Pictures berdedikasi untuk mempresentasikan senjata ikonik tersebut dengan spektakuler.

Blame! Movie gbe

Saya terakhir kali membaca seri ini saat masih SMA, berkat film ini dan berbagai informasi baru yang sudah saya tangkap, saya jadi sangat tertarik untuk membaca ulang. Saya rasa untuk sebuah seri yang mengadaptasi cerita yang sudah lama tamat, film Blame! Ini sukses mencapai tujuannya.