Pendatang Baru Semakin Sulit Bekerja di Industri Seiyuu

June 14, 2017 3:33 pm
Pendatang Baru Semakin Sulit Bekerja di Industri Seiyuu

JOI sudah banyak mengulas tentang kesulitan yang dideritai industri animeterutama di mayoritas studio produksinya. Baik manajemen atas dan animator di bawah dibebani oleh lingkungan kerja yang buruk dan gaji rendah, namun seringkali ada narasi bahwa para seiyuu tidak tersentuh oleh berbagai kesulitan tersebut.

Hanya saja itu hanya berlaku untuk para seiyuu yang tentunya sudah mapan, sebuah artikel dari situs Nikkan Taishuu mengekspos sisi yang kurang mengenakkan dari industri ini, terutama untuk para pendatang baru yang baru mulai kerja.

Seorang staf produksi dari studio anime yang namanya dirahasiakan mengatakan bahwa “Kebanyakan seiyuu sekarang itu gadis muda yang cantik.” Dulu penampilan seiyuu tidak sepenting bakat mereka dalam menyuarakan karakter, namun sekarang “penampilan yang menarik” adalah kriteria utamanya. Hal ini karena seiyuu diutus agar lebih sering hadir di pangung acara, dimana dulu mereka lebih sering bekerja di balik layar.

Standar upah dari pendatang baru umumnya adalah 15.000 Yen (1,8 juta Rupiah) setiap kali mereka bekerja, untuk meningkatkan volume kerja mereka harus hadir di acara panggung, menjual merchandise, dan mengadakan konser. Staf tersebut mengatakan agar bisa sepenuhnya bisa menghidupi diri sebagai seiyuu, aktivitas tersebut harus menjadi target kerjaKegagalan dalam hal ini seringkali menuntut pendatang baru tersebut mengambil kerja sambilan agar tetap bisa menghidupi diri.

girlish5

Kemampuan networking juga lebih penting dibandingkan bakat akting. Seiyuu yang disukai manajemen atas agensi akan lebih sering diberi pekerjaan oleh mereka, hal ini juga berlaku pada staf produksi anime, dimana mereka juga harus berupaya agar disukai sutradara dan produser anime tempat mereka bekerja agar mereka mendapat lebih banyak tawaran kerja.

Meningkatnya popularitas mobage juga memberikan lebih banyak lapangan kerja. Namun seringkali bayarannya lebih kecil daripada anime akibat skala produksi yang lebih kecil. Hanya saja pekerjaan ini cenderung diminati karena ada kemungkinan mobage tersebut diadaptasi menjadi anime.

Satu hal lagi yang menyulitkan pendatang baru adalah maraknya berbagai idol yang juga bekerja sebagai seiyuu. Para idol yang sudah memiliki banyak fans dan dukungan yang lebih besar dari agensi seringkali mengurangi kesempatan para seiyuu baru untuk mendapatkan pekerjaan.

Veteran seperti Megumi Hayashibara sendiri cukup vokal dalam mengkritisi industri seiyuu saat ini, dimana veteran sekalipun sering diminta mengisi suara untuk karakter yang terlalu derivatif dan terlalu klise. Dia juga memperingatkan bahwa hidup sebagai seiyuu seringkali melibatkan transisi yang tiba-tiba dari jadwal yang luar biasa sibuk dan aktif, menuju turunnya popularitas dan tawaran kerja seiring waktu berjalan.

Sumber: ANN