[JOI Weekend] 5 Miskonsepsi yang Sering Muncul dalam Diskusi Anime

August 12, 2017 3:44 pm
[JOI Weekend] 5 Miskonsepsi yang Sering Muncul dalam Diskusi Anime

Grafisnya jelek, budget-nya sedikit, studio-nya nggak becus, kritisi seperti itu seringkali digunakan dalam mendiskusikan anime. Hanya saja kritisi seperti itu seringkali kurang membantu karena kurang spesifik, kurang paham dengan masalah dasarnya, ataupun jelas-jelas salah melihat kondisi industri anime saat ini. JOI Weekend kali ini ditujukan untuk menerangkan berbagai miskonsepsi dalam industri anime agar diharapkan kedepannya kita dapat meningkatkan mutu diskusi industri ini.

Kebanyakan data yang digunakan untuk mengerjakan artikel ini diambil dari berbagai interview dan laporan industri dari 2016, yang bisa kalian lihat sendiri di akhir artikel.

Grafisnya jelek

Kritisi ini lebih sering digunakan untuk seri yang karakternya nggak ganteng/cantik, daripada untuk mengkritisi penyutradaraan yang amatiran, editing yang kacau, frame rate yang buruk, storyboarding yang terlalu datar, dan berbagai masalah teknis lainnya. Dari pengalaman saya argumen yang sama sering digunakan juga pada manga dan game.

Secara keseluruhan fanbase industri ini masih kurang mengerti cara memberi kritik yang berkualitas untuk visualisasi sebuah anime. Masih banyak saja yang menggunakan gambar statis untuk menunjukkan jeleknya animasi, atau menggunakan inbetween frame untuk menunjukkan kejelekan yang hanya bisa terlihat bila kalian secara spesifik memencet pause untuk melihatnya.

aqua inbetween

Hal ini bisa dipahami karena secara global, kritikus dan pengamat anime yang berfokus pada produksi dan teknik pembuatannya relatif sedikit. Kami segenap staf JOI sendiri mengaku masih belum bisa memberikan kritik dan opini yang berkualitas mengenai teknik produksi kebanyakan anime.

Saya tidak menuntut semua penonton anime mendalami proses produksinya, namun saya akan menghargai bila kritisi yang diberikan lebih spesifik. Untuk poin di paragraf pertama ada kritik yang lebih baik seperti “kurang cocok dengan desain karakternya” dan “inbetween-nya kelihatan kentara banget”. Berhubung visual tentunya merupakan hal pertama yang diperhatikan penonton, tentunya hal inilah yang pertama kali menjadi alasan kritisi saat penonton kurang nyaman dengan pengalaman menonton mereka.

Desain beda atau lebih jelek dari karya orisinalnya

Alasan kenapa produksi anime membutuhkan Desainer Karakter Anime di stafnya adalah desain yang awalnya berasal dari gambar statis itu seringkali mahal dibuat setelah dianimasikan. Illustrator LN dan mangaka umumnya bisa menggunakan detil yang kompleks pada karakter mereka karena kompleksitasnya bisa diatur tergantung dari halaman dimana karakter tersebut muncul.

Hanya saja untuk menganimasikan detil tersebut agar terus konsisten akan memakan terlalu banyak waktu untuk dibuat, sehingga desain karakter perlu disesuaikan. Jadi untuk kalian yang sudah lama menonton anime pasti menyadari bahwa bahkan di seri aksi sekalipun 80% dari screentime episode umumnya berisikan orang duduk/berdiri manis dan ngobrol, beberapa bahkan menggunakan shot jauh atau extreme close-up untuk menyembunyikan gerakan mulut agar bisa lebih berhemat.

joispec4

Oleh karena itulah studio dengan desain karakter yang simplistik namun distinktif seperti Gainax atau Trigger umumnya memiliki karakter yang aktif bergerak dan aksi yang menarik. Begitu juga dengan seri komedi DEEN yang seringkali off-model, namun pace komedinya baik dan karakternya sangat ekspresif.

Kualitas buruk akibat kurang budget

Kritik yang tidak sepenuhnya salah, lebih banyak pendanaan jelas dapat meningkatkan atau setidaknya menjaga kualitas kerja staf produksinya. Namun penghalang utama dalam kualitas produksi adalah jadwal kerja yang seringkali tidak realistik dan deadline yang sangat ketat, dan hal ini adalah masalah umum dalam produksi anime yang seringkali jadwalnya harus sejalan dengan usaha promosi seri yang tentunya tidak murah. Saking ketatnya sampai-sampai waktu untuk penjagaan mutu dan pre-produksi nyaris tidak ada.

gaji animator hanya seperempat gaji pegawai kantoran (4)

Ketatnya jadwal produksi dipengaruhi berbagai faktor, namun seringkali hal ini diakibatkan oleh timing pemasaran dan produksi merchandise yang sudah ditetapkan beberapa bulan sebelum produksi sehingga perilisan tidak dapat dinegosiasi lagi.

Budget produksi anime cenderung konsisten untuk semua studio, adanya seri dengan kualitas yang tinggi umumnya dihasilkan oleh staf produksi yang sangat termotivasi (Seperti One-punch Man buatan Madhouse) atau memiliki manajemen yang baik (Seperti Kyoani yang hanya mengerjakan 1-2 karya per tahun)

Ceritanya jelek karena penulisnya tidak becus

Salah satu efek dari jadwal yang tidak realistis seperti yang dijelaskan diatas. Penulisan skrip jadinya tidak sempat untuk ditinjau lebih lanjut atau tidak bisa disesuaikan lagi. Terkadang juga produser dan/atau komite produksi menuntut adanya cerita atau konsep tertentu, yang seringkali tidak sejalan dengan rencana staf produksi lain.

shirobako komite produksi

Apa bila kalian pernah melihat staf yang bertanggung jawab dalam komposisi seri dalam daftar staf produksi, hal ini juga bisa mempengaruhinya. Komposisi seri bertugas untuk menentukan cerita apa yang akan disampaikan anime-nya serta bagaimana pembagian episodenya. Umumnya jabatan ini dipegang oleh sutradara atau penulis, dan komposisi yang buruk umumnya dapat menghasilkan cerita yang berantakan, terlalu lambat, atau terlalu terburu-buru.

Tentu saja untuk sebuah adaptasi kemungkinan bahwa cerita sumber materinya memang tidak terlalu bagus juga ada. Memang standar kualitas cerita bisa saja naik begitu cerita tersebut mendapat “perawatan” dari para profesional, tapi tidak semua orang bisa membuat produk yang berkualitas dari bahan yang sangat sub-par.

Kenapa studio ini nggak bikin [judul/sekuel]?

Perlu diketahui bahwa mayoritas studio anime tidak sepenuhnya mengerjakan seri yang mereka pegang. Bisa saja setengah dari sebuah musim tayang disubkontrak ke studio lain. Studio umumnya diminta oleh komite produksi untuk mengerjakan sebuah seri, dan pekerjaan ini umumnya diberikan ke studio dengan tarif yang termurah kompetitif. Berhubung di Tokyo saja ada sekitar 500 Studio anime, kompetisi untuk mendapat proyek sangat galak. Kecuali kita membicarakan studio besar seperti Kyoani dan Sunrise, yang umumnya bisa mendapatkan tawaran yang lebih baik atau relatif bebas dari campur tangan komite produksi.

miyamori phone shirobako

Begitu juga dengan miskonsepsi bahwa “Studio yang bisa menggambar bagus pasti bisa membuat komedi dan aksi”, beberapa studio memiliki budaya tersendiri yang membuat mereka cocok dengan genre tertentu, seperti Madhouse dengan aksi mereka yang berkualitas dan DEEN yang masih bisa dipercaya untuk mengerjakan komedi. Menyuruh sebuah studio mengerjakan genre tertentu berdasarkan alasan “Grafisnya bagus” itu kontra-produktif.

Untuk sekarang sampai di sini dulu saja poin-poin yang dibahas di JOI Weekend kali ini, kedepannya kita akan membahas poin-poin seperti apakah larisnya BD menunjukkan kesuksesan sebuah seri (nggak juga), pengaruh streaming dan fanbase internasional di industri anime (sangat penting), dan kenapa genre tertentu jadi terlalu banyak di pasar.

Referensi: NLab, AJA