[JOI Travel] Sejarah Singkat Akihabara

October 26, 2017 11:20 am
[JOI Travel] Sejarah Singkat Akihabara

Mungkin beberapa dari kamu sudah tahu kalau JOI pernah diundang ke Jepang menjadi Cofesta Ambassador. Nugrahadi, Randy, dan Ryuukikun sudah mendapatkan kesempatan masing-masing dan kamu bisa membaca artikel mereka lewat tag Cofesta. Tahun ini, guess who got the chance to go to Japan?

Pada hari pertama saya berada di Akihabara, not the first time obviously, tapi saya benar-benar tidak menyangka kalau godaan iman akan datang tepat dari hari pertama. Saya bersama Edgar dari Cofesta dan Gaby, seorang YouTuber dari Meksiko, menghabiskan waktu seharian di Akihabara.

Untungnya, kami tidak pergi ke Akiba untuk berbelanja, namun lebih kepada belajar sejarah terbentuknya Akihabara itu sendiri. Karena mungkin tidak semua dari kamu tahu kalau Akiba tidak terbentuk langsung jadi distrik otaku, jebret gitu aja.

Selepas perang dunia kedua

Pada awalnya, Akihabara sampai Ueno penuh dengan pasar barang-barang yang kurang, well, legal. Anggap saja taman puringnya Jakarta, penuh barang-barang yang cukup harus dipertanyakan. Selepas kekalahan Jepang di perang dunia kedua, Amerika memerintahkan Jepang untuk memusatkan Akihabara sebagai tempat elektronik dan memindahkan pasar barang ambigu tersebut ke arah Ueno.

Sejak saat itu, Akiba menjadi tempat yang lebih dikenal dengan barang-barang elektroniknya dan Ueno jadi, ermm, pasar barang berkualitas ‘tingkat tertentu‘. Akihabara yang menjadi pusat elektronik tersebut kemudian mendirikan Radio Kaikan. Tempat ini merupakan gedung tinggi pertama yang ada di Akihabara. Rajikan menjadi pusat barang-barang elektronik pertama yang kemudian membuat Akiba mendapat julukan kota elektronik.

Setelah ‘budaya’ otaku mulai menjamur di Akiba, toko-toko yang menjual barang-barang otaku pun mulai berpindah ke gedung ini. Seperti yang bisa kamu lihat, di dalam gedung ini dijual pernak-pernik otaku mulai dari dollfie otakumilitary otakufigure otaku, dan ada beberapa tempat khusus pemain TCG dan pernak-pernik lain yang tidak sempat saya abadikan.

Jangan lupa bila kamu ingin mengambil foto di dalam toko, sebaiknya kamu meminta izin terlebih dulu kepada penjaganya. Kalau kamu tidak bisa berbahasa Jepang, cukup kasih liat kamera dan kamu tanya, “Ok?” mestinya mereka mengerti. Mungkin.

Pada tahun 2010, banyak orang yang mempertanyakan kekuatan gedung ini karena umurnya yang relatif tua, karena itu pada tahun 2014 gedung ini dirubuhkan dan gedung yang kami datangi ini merupakan gedung baru.

Edgar juga mengajak kami untuk melihat Radio Center, sebuah tempat yang tidak pernah saya kunjungi atau saya lirik sebelumnya di Akiba. Tempat ini adalah salah satu bangunan tertua di Akiba, atau setidaknya belum pernah diperbaharui. Saya merasa 30 tahun lebih tua saat masuk ke gedung tersebut.

Dalam gedung tersebut terdapat banyak toko-toko elektronik tua yang kebanyakan family owned. Suasananya bagaikan pasar baru, sempit dan remang-remang, tapi somehow hangat.

Di tahun 70-80an

Pada era in, pejuang-pejuang kemerdekaan Jepang sudah mulai tua dan meninggalkan dunia ini dengan tenang, generasi penerus mereka sudah berhasil mendorong Jepang menjadi salah satu negara tulang punggung teknologi dunia (if not THE ONE). Karena Jepang sudah mulai menjadi salah satu raksasa teknologi di dunia, tentu mereka juga punya uang dong sekarang, and guess how they blew their income away?

Yep, they started to have hobbies, and a child, and also, child with hobbies. Lambat laun seiring dengan perkembangan anime dan manga, Akihabara berevolusi menjadi Akihabara yang kamu kenal sekarang. Tidak hanya electronic city, tapi juga sebuah kota dimana mimpi kamu jadi nyata. That is, at least, if you’re an otaku.

Perubahan tersebut menjadi lebih kentara di tahun 80 dan 90-an, dan menjadikan Akiba what Akiba is at the moment. Apakah Akihabara masih akan berubah? Who knows, yang jelas saya masih sangat puas dengan Akihabara yang terlihat saat ini.

Super potato

Dunia game Jepang berada dalam sebuah keadaan yang gawat; game mereka tidak bisa diterima oleh pasar dunia. Satu demi satu pembuat game tidak bisa bertahan, bahkan Atari pun bangkrut. Namun di tengah masa itu, Nintendo meluncurkan Famicom, atau yang banyak kamu kenal dengan Nintendo Console. Hal ini menyelamatkan dunia game Jepang dari kehancuran yang pasti dan mulai naik kembali ke atas.

Berikut ini adalah foto-foto kami saat mengunjungi Super Potato, salah satu toko game paling tua di Akihabara. Toko ini adalah surga bagi kamu yang demen game lawas. Nggak gamenya, nggak consolenya, ada semua. Belum lagi harganya pun relatif terjangkau dan saya agak tergoda beli PS2 lagi.

It’s probably safe to say that America helped on the creation of Akihabara. Kalau mereka tidak memindahkan toko barang-barang berkualitas ambigu ke arah Ueno dan memusatkan Akiba sebagai pusat elektronik, mungkin Akihabara tidak bisa disebut pusat otaku dunia saat ini. Saya jadi penasaran apakah yang akan terjadi kalau Akihabara tidak dibentuk seperti sekarang. Di manakah tempat yang akan menjadi pusat otaku di Jepang?

Kalau saya boleh menebak, saya rasa sih Nakano yang akan jadi pusat otaku, atau DenDen Town di Osaka, tapi itu kok agak jauh, ya.