[JOI Travel] Tokyo International Music Market 2017 Part 2

November 4, 2017 2:56 pm
[JOI Travel] Tokyo International Music Market 2017 Part 2

Technically, ini adalah konser hari ketiga karena kedatangan saya landing di hari Senin bertepatan sekali dengan konser hari pertama. Kelelahan di hari pertama + pilek yang sudah saya derita sejak sebelum berangkat masih menyerang kepala saya. Jadi saya putuskan untuk beristirahat dan untuk tidak memaksakan diri.

Sama seperti di hari sebelumnya, kami menunggu konser dimulai, hanya saja karena kali ini kami baru saja menghadiri TIFFCOM 2017 dan Tokyo International Anime Festival 2017, and it’s raining, hard. Kami jadi naik taksi, salah satu moda transportasi Jepang yang sudah cukup lama saya impikan namun nggak akan pernah saya naiki sendirian. Mahal banget sih.

Artis-artis di hari kedua TIMM ini tentunya berbeda dari hari pertama. Artis-artis yang tampil jelas berbeda, ditambah genre musik yang dibawakan juga sangat berbeda dengan hari pertama konser. Hari pertama lebih banyak artis yang ngerock, sedangkan hari kedua lebih banyak band yang membawakan lagu yang lebih santai-santai groovy.

Namun bagaimana penampilan mereka dibandingkan dengaan hari pertama? Berikut adalah pendapaf saya mengenai masing-masing performer hari tersebut.

SITH

Entah apakah yang membuat band ini punya ketertarikan berlebih kepada seri Star Wars atau gimana. Namun sebenarnya SITH adalah kependekan dari She in the Haze. Tapi nggak cuma namanya yang bikin bingung, begitu juga dengan performa dari band yang satu ini.

Suara vokalisnya pun sering kali tenggelam dalam suara instrumen yang dimainkan. Idenya menarik dan mungkin bisa disukai, tapi sayang bagi saya mereka tidak perform dengan baik atau setidaknya sound system-nya bukan yang terbaik. Karena setelah saya mendengarkan lagu-lagu mereka kembali, ternyata lagu-lagu mereka cukup keren dan enjoyable. Penampilan mereka juga visually yang terbaik malam itu.

Kalau bisa saya ibaratkan, mereka itu kaya jelangkung, dateng ga dijemput pulang ga diantar. Soalnya dateng-dateng tahu-tahu mereka malah bikin kaget, tapi gak tau ngomong apa dan kayanya masih di tengah jalan tau-tau mereka kelar. Lah?

Ash da Hero

Kayanya band yang satu ini lupa melakukan sound check karena sempet-sempetnya mereka latihan di antara waktu jeda. Sistem TIMM cukup menarik karena seharusnya kami bisa menikmati tiap artis tanpa jeda. Jadi kemungkinannya hanyalah: Ash da Hero yang tidak siap, atau band jelangkung sebelum ini yang tahu-tahu pulang nggak dianter.

Tapi akhirnya penantian tersebut terbayar dengan baik, band yang satu ini memiliki kekuatan yang besar. Lagu-lagu yang mereka bawakan memang rock and roll yang kental dengan suara klasik yang mirip dengan Dragonforce agak-agak Metallica. Yang jelas, penampilan mereka membuat penampilan SITH yang sebelumnya kalah jauh, at least for me.

These guys will bring real rock and will revive any lame parties for you.

faky

Kalau mendengar nama faky, yang teringat oleh saya adalah lil fang yang berkolabirasi bersama BACK-ON dalam ser Gundam Build Fighters yang tayang beberapa bulan silam. Seri Gundam yang hampir langsung menggaet perhatian saya tersebut memang memiliki kenangan yang dalam, begitu pula lagu-lagunya. Karena itu saya cukup kaget saat mendengar suara faky yang sebenarnya.

Faky yang sebenarnya adalah 4 orang gadis yang bernyanyi dengan alunan EDM, atau electronic dance music. Masing-masing dari gadis tersebut memiliki suara spesialisasinya sendiri-sendiri dan actually enjoyable, mungkin pake banget.

I Don’t Like Mondays

Agak berbeda dengan band-band yang sebelumnya, saya agak tertegun saat I Don’t Like Mondays maju ke atas panggung. What is this vibe, where do I get this vibe before? Sekilas lagu-lagu mereka yang groovy ini mengingatkan saya dengan band disco rock lain dengan nama Bradio.

Mungkin lagu-lagu ini bisa disebut dengan modern disco? Great groovy music that I wouldn’t mind hearing again later on. Memang akhirnya saya menemukan diri saya menulis review ini sambil mendengarkan lagu-lagu mereka.

Banana Lemon

Jujur, Banana Lemon mungkin adalah band yang paling membuat saya ngelongo di acara hari tersebut. Pada awalnya, saya kira mereka hanya punya penampilan eksterior saja dan akan lebih banyak mengandalkan penampilan eksterior tersebut. Tapi saya salah, jujur saya bungkam saat akhirnya mereka menarik suara. Holy s***yes I did swear just now. Tarikan suara mereka mungkin bisa dibilang world class, apalagi saat itu mereka tampil live, membuat impact suara mereka makin nampol di sanubari.

Video di atas adalah video saat mereka latihan dance, namun mungkin lebih baik bila kamu mendengarkan lagu mereka langsung di Spotify. Lebih bagus lagi sih kalau kamu nonton mereka pas live, karena damn suara mereka benar-benar salah satu yang terbaik.

Tapi sayang, sepertinya orang-orang Jepang tidak begitu suka dengan Banana Lemon, karena mereka terlihat kurang bersemangat saat keempat wanita tersebut tampil di panggung.

Nulbarich

Band terakhir malam tersebut merupakan band yang menurut informasi saya adalah band terbaik malam itu, Nulbarich. Saya sebenarnya belum pernah mendengar nama band ini sebelumnya, jadi ekspektasi saya agak ditekan sebanyak mungkin. Band ini memulai sesi terakhir tersebut dengan alunan jazz yang agak santai, dan ternyata mereka adalah band slow groovy yang cukup menarik.

Namun mungkin karena selera saya, saya lebih memilih untuk dapat band yang ngerock sekalian buat hari terakhir dari rangkaian konser ini, saya jadi agak kecewa, but definitely a good way to end the night. Mungkin malah the best way buat cooldown setelah seharian capek bekerja dan kamu hanya ingin chilling out

So far, secara general Bentham mungkin masih menjadi band favorit saya dari rangkaian konser 2 hari tersebut. Namun Ash da Hero dan lagu “You Gotta Power“-nya menjadi lagu terbaik yang saya dengar. Energi dari lagu tersebut bisa membuat saya semangat kembali. Shout out juga untuk Banana Lemon yang awalnya saya ragukan, tapi ternyata suaranya luar biasa menawan.

Jangan lupa JOI juga masih punya rangkaian artikel-artikel menarik dari perjalanan ke Jepang, misalnya TIFFCOM dan Tokyo International Anime Festival, atau Digital Content Expo yang memperlihatkan betapa majunya Jepang dibandingkan kita. Kayanya kita udah ketinggalan beberapa puluh tahun dari negara yang luar biasa ini.