Prospek Profesi Jepang: “Gaji Akademisi Lebih Rendah daripada Supir Truk”

December 11, 2017 8:29 pm
Prospek Profesi Jepang: “Gaji Akademisi Lebih Rendah daripada Supir Truk”

Satu hal aneh yang mudah diserap dari budaya pendidikan Jepang yang kaku adalah edukasi pada dasarnya digunakan agar seseorang bisa masuk ke universitas unggul dan direkrut oleh perusahaan unggul juga. Memang seringkali profesi mereka tidak sesuai edukasi mereka, namun “jaminan” semacam ini memberikan ketenangan untuk para mahasiswa yang sudah berusaha keras untuk masuk ke institusi pendidikan favorit.

Hanya saja sistem diatas sayangnya punya dampak negatif untuk mereka yang serius dengan disiplin yang mereka kuasai. Sebuah acara TV Jepang mengulas kehidupan 10 orang yang dianggap jenius saat mereka SMA dan kehidupan mereka saat dewasa, salah satu narasumber mereka memancing banyak diskusi karena dia sekarang adalah seorang supir truk.

Dirinya sangat berbakat pada mata pelajaran fisika sampai-sampai dia menjadi salah satu siswa Jepang pertama yang lulus SMA lebih awal lewat program akselerasi dan masuk universitas Chiba. Saat di universitas dia menikah dan punya anak, dan nilai dan kualifikasinya menjaminnya untuk mendapat masa depan yang cerah.

Hanya saja segala hasil riset dan kemampuan akademisinya hanya diupahi 200.000 Yen (24 juta Rupiah) per bulan dan posisinya juga tidak stabil. Tidak terima dengan perlakuan ini dia beralih profesi menjadi supir truk, dimana dia dibayar 300.000 Yen (36 juta Rupiah) per bulan dan posisi serta tunjangan yang lebih stabil.

Hebatnya, dia sendiri masih berkontribusi di bidang akademik dengan mengajarkan fisika dan kimia tiap akhir minggu untuk meningkatkan minat terhadap kedua bidang tersebut. Dia bekerja dari jam 5 pagi hingga 5 sore tiap harinya, dan berkatnya dia bisa memberi rumah bekas dan menganggap dirinya beruntung bisa terus makan bersama keluarganya. Situasinya ini memancing berbagai komentar:

“Perusahaan Jepang paling nggak bisa manfaatin bakat. Di luar negeri dia pasti sukses.”
“Selama dirinya senang nggap apa-apa deh.”
“Orang yang pandai belajar belum tentu pandai bekerja. Mungkin dia kurang cocok sebagai peneliti”
“Universitas Jepang yang salah. Pendidikannya itu tidak menyiapkan mahasiswa untuk masuk apangan kerja”

Profesi akademik itu sebenarnya memang dimanapun bukan profesi yang stabil karena sangat mengandalkan sponsor dan hibah penelitian untuk menghidupi peneliti dan penelitian mereka. Peneliti yang kualifikasinya tinggi sekalipun seringkali kesulitan menghidupi diri mereka bila spesialisasinya sepi peminat.

Perlu ditekankan bahwa ini bukan sindiran terhadap profesi supir truk dan lebih kearah tidak seimbangnya tingkat kualifikasi profesi di Jepang dengan bayaran mereka. Perlu diketahui juga keberadaan profesi supir juga penting agar Jepang bisa mengekspor pahlawan Isekai ke dunia lain. Saya nggak akan kaget bila mereka diberi tunjangan untuk melakukan hal ini.

Sumber: Soranews