[Review] Nanoha Reflection

January 12, 2018 5:27 pm
[Review] Nanoha Reflection

13 tahun setelah anime Nanoha pertama dan 5 tahun setelah movie terakhirnya, Nanoha 2nd A’s, akhirnya kita dapat movie Nanoha lagi yang masih menceritakan Nanoha dkk (melototin ViVid). Sebagai orang yang dulu sempat menonton trilogi pertamanya beserta dua movie remake sebelumnya, saya cukup tertarik untuk menonton movie terbaru tentang anak-anak SD dengan persenjataan kelas Super Robot Wars ini di bioskop lokal. Sayangnya Signum berhalangan menonton “Nanoha Reflection”, jadi saya yang akan me-review-nya kali ini.

Annoying beginning

Jujur saja, selain intro sebelum judul, saya tidak menikmati 15-20 menit pertama film ini. Cerita diawali dengan para tokoh utama yang masih anak-anak bertamasya bersama teman sekelas dan orang tua mereka dengan pembawaan yang sangat seperti acara anak-anak. Ya, Arisa, Suzuka, dan orang tua mereka sekaligus ibu dari Nanoha entah kenapa muncul di movie ini meskipun sama sekali tak ada peran di ceritanya. Screentime mereka tidak terlalu banyak, tapi saya merasa pacing di movie ini bisa lebih baik seandainya mereka tidak muncul sama sekali. Satu-satunya alasan yang bisa saya pikirkan tentang mengapa mereka muncul di sini adalah untuk menunjukkan kalau tidak hanya Arisa dan Suzuka, tapi juga semua orang yang Nanoha kenal di bumi kurang lebih sudah tahu dan mengerti tentang urusan sihir mereka dan TSAB.

Selain itu, entah kenapa suara Tamura Yukari dan Nana Mizuki sebagai Nanoha dan Fate terasa lebih cempreng dan (maaf) agak menyebalkan di awal cerita. Di pertengahan akhir suara mereka sudah kembali menjadi suara Nanoha dan Fate yang saya kenal. Entah apa yang terjadi, sekedar rusty karena sudah lama sejak movie sebelumnya?

Long okay-to-good action scenes

Untungnya hal mulai membaik begitu adegan action-nya dimulai. Tidak langsung benar-benar bagus karena battle pertamanya masih “tame“, tapi tone movie langsung jadi lebih menarik mulai dari sini.

Sama seperti movie 2nd A’s, porsi action di movie ini cukup banyak. Kualitas animasinya tidak mencapai beberapa anime movie tertentu, setidaknya lebih bagus dari TV series ViVid, tapi mengingat kira-kira 40% movie ini adalah action scene, dan beberapa dipenuhi dengan ke-“lebay”-an yang membuat saya ingat Super Robot Wars atau Dragon Ball, saya cukup bisa menerimanya.

Untungnya para Wolkenritter yang saya kira akan menjadi sampingan atau bahkan jobber ternyata masih mendapatkan scene di mana mereka bisa menunjukkan kemampuan mereka.
Karakter-karakter baru di movie ini berasal dari game PSP Nanoha, meski ceritanya diubah. Saya tidak begitu tertarik dengan Kyrie dan Armitie dengan backstory yang cukup klise dan emo, tapi saya harus akui Kyrie tampak cantik di beberapa closeup. Meski begitu, jujur saja, saya tidak menyangka akan cukup menyukai para karakter “pallete swap” dari Nanoha-Fate-Hayate, Stern-Levi-Dearche, meskipun kemunculan mereka cukup tiba-tiba. Saya sangat menyukai Levi yang menunjukkan kemampuan Nana Mizuki mengisi karakter bego-riang yang jarang sekali dia perani, dan pertarungannya dengan Fate adalah highlight dari movie ini. Bahkan pertarungan inilah yang mendapat insert song dari Nana Mizuki.

Ya, insert song tidak muncul saat semua karakter berbaikan dan bekerja sama mengalahkan satu musuh terakhir, seperti biasanya di seri-seri Nanoha, karena…

It’s actually a 2-parter movie

Satu hal yang mungkin bisa menjadi kontroversi di movie ini, tepat sebelum saya merasa pertarungan paling akhir dimulai, film malah selesai dan akan dilanjutkan di movie berikutnya, Nanoha Detonation yang akan tayang tahun ini di Jepang. Memang masih ada beberapa hal yang masih belum dijelaskan di movie ini, tapi saya cukup terkejut ceritanya dipotong di titik itu.

Yah, setidaknya saya cukup terhibur dengan ide kalau ada kemungkinan movie lanjutannya nanti akan terisi sepenuhnya atas satu final battle besar-besaran. Harusnya nggak bakalan sampai begitu sih, tapi trailer-nya agak mengimplikasikan kalau ide ini tidak salah.

Verdict: STARLIGHT BRE–/10

Film sebelumnya, 2nd A’s, menurut saya adalah hasil terbaik yang bisa dibuat dari usaha meringkas dan merapihkan season kedua TV series Nanoha menjadi satu film. Sayangnya, Nanoha Reflections tidak bisa mencapai kualitas 2nd A’s, terutama di awal filmnya ketika para penggemar lamanya yang umumnya sudah cukup berumur mengingat serinya dimulai belasan tahun lalu malah disuguhi bagian yang terasa seperti film anak-anak. Meski begitu, saya tetap otomatis nyengir melihat seberapa seru/lebay battle-battle di akhir film ini.

Saya nggak akan bilang kalau ini movie terbaik dari seri Nanoha, tapi saya cukup senang dan berharap Nanoha Detonation juga akan ditayangkan di layar lebar Indonesia.