Mangaka Takashi Yoshida Mengkritik Cara Penerbit Melawan Pembajakan Manga

February 14, 2018 4:43 pm
Mangaka Takashi Yoshida Mengkritik Cara Penerbit Melawan Pembajakan Manga

Penjualan fisik manga turun 12% di Jepang pada tahun lalu. Banyak yang menyalahkan situs manga bajakan atas masalah ini, namun mangaka Takashi Yoshida lewat wawancaranya dengan Huffington Post merasa usaha penerbit untuk menutup situs pembajakan manga tidak efektif.

Yoshida merasa penerbit gagal merespon secara proaktif. Untuk meredam pembajakan, dia merasa penerbit harus “berkompetisi untuk menang”. Pembaca akan selalu memilih alternatif yang paling praktis dan sederhana untuk membaca manga, sesuatu yang mudah diberikan oleh pembajak.

Reproduksi konten tanpa ijin itu ilegal di Jepang, namun membacanya saja itu legal. Yoshida berpendapat bahwa industri manga perlu mengevaluasi apakah faktor utama turunnya penjualan adalah karena situs bajakan, karena walaupun berbagai situs sudah ditutup, penjualan manga terus turun sejak tahun 2005.

Yoshida merasa metode penjualan manga sudah ketinggalan jaman selama 20 tahun. Industri sudah tidak mengerti dengan para pembeli yang perlu diberikan harga dan ketersediaan yang sesuai dengan jaman juga. Yoshida yang merupakan mangaka dari Yareta kamo Iinkai memiliki posisi unik di mana dia sepenuhnya memegang hak cipta seri tersebut. Futabasha memang memplubikasikan volumenya secara fisik, namun Yoshida bertanggung jawab atas distribusi digital, adaptasi video, dan berbagai lisensi karya tersebut. Seperti seri live-action dari karyanya yang sudah tayang Januari kemarin.

Yoshida mengatakan bahwa pengguna situs bajakan bukanlah penduduk Jepang pada umumnya, namun fans manga dari luar. Usaha penerbit untuk menutup situs tersebut hanya akan membuat fans luar merasa dikucilkan. Kombinasi dari kegagalan dalam menarik pembaca baru secara domestik dan mengacuhkan fans dari luar dilihat Yoshida sebaga alasan utama industri ini akan runtuh.

Menurut Yoshida, solusi dari masalah ini adalah layanan untuk mendapat akses katalog manga online setelah membayar tarif tertentu. Dia tahu situs semacam itu sudah ada, namun dia merasa katalognya masih terbatas. Penurunan harga untuk manga digital juga merupakan salah satu usaha yang bisa dilakukan.

Dia juga menyarankan penerbit menghilangkan sampul plastik di penjualan ritel manga. Hal ni dapat membuat pembaca tertarik untuk mendatangi toko buku fisik. Yoshida juga ingin penerbit lebih selektif memilih seri mana yang pantas memperoleh banyak cetakan.

Walaupun sudah memberikan banyak saran, Yoshida pesimis sarannya akan didengarkan. “Yang saya katakan ini bukan hal baru. Sudah banyak yang memberikan saran sejenis, namun tidak ada perubahan”. Posisinya juga tidak besar dibandingkan dengan berbagai profesional penerbitan, jadi dia tidak merasa rekomendasinya akan dianggap serius.

Seperti yang sudah dibuktikan layanan online seperti Spotify, Steam, dan Netflix masalah pembajakan itu adalah masalah jasa. Apabila konsumen kesulitan mendapat akses ke produk, mereka akan beralih ke alternatif yang umumnya tidak legal. Ketiga contoh yang saya berikan memberikan akses yang praktis serta harga yang terjangkau, dan kalian tentunya bisa melihat posisi mereka sekarang ini.

Untuk manga lokal, tentunya kita sudah ada Mangamon.id yang sekarang sedang memberikan promo menarik.

Header: Huffingtonpost JP

Sumber: ANN