Sultan Beneran vs Gaya Hidup Sultan, Dompet Situ Masih Sehat?

March 29, 2018 4:53 pm
Sultan Beneran vs Gaya Hidup Sultan, Dompet Situ Masih Sehat?

Bila mendengar kata sultan, mungkin kamu tidak akan lagi me-refer kata sultan dari KBBI yang berarti sebuah pemimpin tertinggi dari sebuah kesultanan. Panggilan sultan lebih lumrah diberikan kepada orang-orang yang ‘sugih’ di antara circle-circle kalian. Misalnya, kamu berada di komunitas mainan, maka dia yang paling sering dan banyak membeli mainan akan dipanggil Sultan. Misalnya kamu berada di komunitas mobage, tentu yang paling sering keluar doku (red: uang) otomatis memiliki gelar tersebut.

Intinya, kata sultan identik diberikan bagi mereka yang dengan mudah mampu untuk memenuhi kebutuhan tersier mereka. Mereka yang punya uang lebih dan sengaja disisihkan untuk leisure time atau hobi mereka, dan masih bisa hidup dengan mapan. Karena itu, kata sultan kini juga dapat dilihat sebagai sebuah simbol status sosial. Namun di jaman di mana lomba pansos makin marak, kata sultan bisa berubah jadi bumerang bagi kamu.

Sultan ‘beneran’, atau setidaknya mereka yang punya financial power seperti sultan tentu sudah punya perhitungan sendiri atas semua pembelian mereka. Bisa juga mereka tidak perlu menghitung pembelian tersebut karena mereka memiliki sumber daya yang tidak terbatas. Namun saya khawatir dengan adanya orang-orang yang mengincar status sultan, mereka harus mengorbankan prioritas penting lain demi mengejar status sosial belaka.

Kenapa status Sultan begitu menarik?

First things firsthaving the status itself sounds really good. Dengan status sultan, kamu bisa mendongkrak posisi sosial kamu sekaligus menjadi sebuah ego boost yang bikin hari kamu jadi lebih indah. Orang akan memandang kamu berbeda dari orang kebanyakan, dan siapa sih yang tidak ingin dipanggil sultan oleh orang lain? Emang yang namanya status sosial belakangan ini jadi lebih penting dari makan 3 kali sehari.

Di antara tahun 2010-2014, saat saya masih mengoleksi figure dan gelar ‘sultan’ belum lahir, mereka yang punya purchasing power lebih tinggi kerap dipanggil ‘paman’ atau ‘immortal‘. Kadang pun demi mendapat status tersebut, ada ajang pamer loot yang mungkin bisa dilihat sebagai perang siapa yang beli barang paling banyak.

Demi mengejar status sultan pun seseorang jadi harus melewati batas normal. Makan nasi kecap misalnya, harusnya hanya becandaan, namun saya yakin tidak sedikit orang yang melakukan hal tersebut. Kalau kamu memprioritaskan kebutuhan tersier sambil mengesampingkan kebutuhan primer, ada sesuatu yang salah denganmu.

Misalnya, saya memiliki kenalan yang sama-sama berada di dunia mainan (it is called figure for those who didn’t want to call them ‘toys’) dan sepertinya lebih self-conscious dengan statusnya dibandingkan dengan dompetnya. Saat itu, sebuah toys fair sedang digelar di Jakarta, dan beliau terlihat sibuk dengan belanjaannya. Namun saking inginnya dia disebut dengan sultan, dia bahkan ‘nyerobot’ barang PO orang lain supaya belanjaannya terlihat lebih banyak, padahal saat itu barang tersebut bukanlah hak miliknya. Saat ditanya kenapa dia melakukan hal tersebut, jawabannya hanya satu, “Biar gue kelihatan kaya sultan.

Well, no bro, you’re not.

When too much is just too much

Apapun hobi kamu, be it toys and figuresmobile gamemodel kits, dan lain sebagainya, tentu selalu ada harus yang harus kamu tarik untuk membatasi semua itu. Umumnya, seseorang akan membagi gaji bulanannya dengan 50/20/30 rule. Aturan ini mengharuskan seseorang untuk membagi 50% gaji ke dalam pembiayaan hidup bulanan dan 20% gaji sebagai saving priorities atau hutang jika kamu punya hutang. 30% dari gaji tersebut baru boleh dihabiskan untuk lifestyle bulanan.

Namun kasus yang sering saya temui, lebih banyak orang yang langsung menghabiskan gaji bulanannya untuk lifestyle mereka hingga menggerus budget yang lain. Karena itu candaan nasi kecap lama-lama malah jadi kenyataan.

Memang di Indonesia, pembagian gaji bisa jadi lebih susah dibanding standar luar negeri. Mungkin kamu harus menggunakan 70% gaji untuk biaya hidup bulanan, mungkin juga lebih. Mungkin kamu cuma bisa memakai 15% untuk tabungan dan hampir tidak tersisa gaji untuk kebutuhan gaya hidup. Tapi jangan kamu gunakan uang dari kebutuhan hidup menjadi uang untuk menghidupi hobi kamu.

Spend responsibly

Karena itu sebagai seorang manusia normal, kamu harus ingat untuk spend responsibly, jangan seenaknya mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Misal kamu melihat objek hobi kamu dijual dengan harga 1.000.000 IDR didiskon sampai 700.000 IDR, artinya bukan kamu nge-save 300.000 IDR, tapi kamu harus mengeluarkan uang 700.000 IDR. Kalau ada budget, silahkan; kalau tidak ada budget, harap mundur perlahan.

Kamu juga harus sadar dengan purchasing power diri kamu sendiri, jangan menjadikan teman atau sultan lain sebagai patokan. Misalnya kamu hanya bisa membeli 2-3 barang setiap bulan, maka janganlah kamu beli lebih dari itu kecuali ada rezeki berlebih. Kalau teman atau sultan lain bisa beli 10 barang setiap bulan, artinya dia memang lebih berada dari kamu.

Syukuri apa yang ada dan jalani hobi kamu dengan penuh tanggung jawab. Ingat untuk apa kamu menjalani hobi tersebut, apakah untuk diri kamu sendiri atau untuk membuat orang lain terkesima dengan apa yang kamu miliki. Masa depan lebih penting dari sekedar gelar sultan. Misalnya apa yang kamu inginkan harganya memang lebih tinggi dari budget bulanan, ya jawabannya cuma nabung.

Atau ya kerja sampai kamu bisa jadi sultan beneran.

Atau jadi sultan yang ini.

Photo by Artem Beliaikin on Unsplash