[JOI Weekend] 5 Lagi Miskonsepsi yang Sering Muncul dalam Diskusi Anime

April 14, 2018 5:42 pm
[JOI Weekend] 5 Lagi Miskonsepsi yang Sering Muncul dalam Diskusi Anime

Kembali lagi di JOI Weekend dimana sama seperti sebelumnya, kami akan menjabarkan berbagai poin-poin miskonsepsi yang sering muncul saat mendiskusikan industri anime. Kali ini kita akan lebih fokus tentang indikator anime yang menguntungkan.

Kebanyakan Genre di Pasar

Ini lebih karena kuantitas anime yang tayang tiap musimnya sekarang sudah naik drastis. Musim dingin 2018 kemarin saja ada hampir 50 seri yang tayang. Begitu juga dengan semakin mudahnya akses fans untuk menontonnya langsung berkat internet dan “jalur alternatif lain”. Sebenarnya hal ini berlaku ke semua konten kreatif, kitanya saja yang harus lebih cermat mencari konten yang unik.

Bisnis manapun tentunya akan mengejar tren yang sedang “panas”, hanya saja jarang sekali ada seri yang sukses besar karena mengikuti tren. Anime yang benar-benar sukses adalah anime yang menjadi “pemimpin” sebuah tren, bukan sekadar pengikut. Sebagai contoh, siapa sih yang bisa memprediksi anime tentang berkemah adalah seri yang paling populer di musim dingin kemarin? Singkatnya untuk kalian yang merasa sebuah genre itu membunuh media ini, tenang saja karena pasar bisa mengoreksi dirinya sendiri.

Penjualan BD mempengaruhi kesuksesan sebuah seri

Penjualan domestik untuk DVD dan BD membentuk 5% dari total penghasilan industri ini sehingga kuantitas penjualannya kurang cocok dijadikan faktor kesuksesan sebuah seri. Hanya saja walaupun minat terhadap media fisik ini terus turun, penjualannya bisa dijadikan salah satu indikator popularitas sebuah seri. Untuk mengatasi penurunan ini, umumnya penjualan fisik dibarengi oleh tiket acara atau merchandise eksklusif ataupun menjual volume dengan 3-6 episode per keping agar banyaknya boks volume musim anime bisa ditekan.

Mayoritas anime itu adalah iklan sebuah franchise yang umumnya bisa sukses karena komite produksi sadar “iklan” tersebut perlu diberikan sumber daya yang memadai agar para calon fans tidak melihatnya sebagai sekedar iklan saja. Anime bisa dikatakan sukses kalau nilai sebuah franchise bisa naik secara keseluruhan berkat popularitas yang tahan lama, penjualan merchandise, ataupun peningkatan popularitas staf bernilai proyek tersebut (baca: seiyuu). Singkatnya kalau merchandise laku, sumber materinya laris, dan live event bisa sering diadakan serta rajin sold-out tiket, seri itu sukses walaupun nggak ngejual satupun BD.

Kalau kalian merasa bahwa kesuksesan di atas lebih menguntungkan komite produksi dan saluran TV dibandingkan studio, memang itu situasi industri saat ini. Margin untuk studio itu sangat kecil jadi mereka harus meningkatkan kuantitas produksi dan/atau melakukan penghematan produksi yang tentunya akan menurunkan kualitas anime-nya seperti kasus Märchen MädchenTentu saja ada studio yang bisa sehat seperti Sunrise (yang punya uang Gundam dan Love Live), Kyoani (yang tiap tahun hanya mengerjakan 1-2 seri yang lisensinya mereka pegang), dan A1 (yang walaupun kualitas outputnya sangat fluktuatif, merupakan studio pribadi Aniplex). Namun mereka adalah pengecualian dari ratusan studio anime Jepang.

Perlu diketahui juga bahwa pembajakan lewat DDL maupun torrent itu sudah sangat jarang bila dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Pada tahun 2017 kemarin, mayoritas pembajakan dilakukan lewat situs streaming. Dan selagi kita bicara tentang streaming…

Streaming nggak berguna dan penonton internasional nggak ada pengaruhnya di produksi anime

Lebih dari 35% penghasilan industri anime datang dari luar negeri pada tahun 2015 kemarin. Dengan semakin gencarnya investasi dari perusahaan luar negeri dalam produksi anime, kemungkinan besar persentase tersebut akan terus naik dari tahun ke tahun.

ss+(2017-05-08+at+09.32.31)

Perlu diketahui juga bahwa pada beberapa tahun terakhir ini produser anime yang paling produktif adalah Tencent dan Crunchyroll, dua perusahaan dari luar Jepang. Keduanya merupakan investor yang memiliki cukup pengaruh pada komite produksi anime. Jadi mereka selaku pemilik salah satu situ streaming internasional itu sekarang sangat penting dalam industri anime.

Begitu juga dengan perusahaan besar seperti Netflix dan Amazon yang punya cukup banyak sumberdaya untuk membuat dan mendanai produksi anime sendirian, jadi mereka tidak harus berurusan dengan komite dan bisa sepenuhnya bekerja langsung dengan studio. Oleh karena itulah sejauh ini anime buatan mereka walaupun tidak semuanya sesukses Devilman crybaby, setidaknya punya gaya yang cukup distinktif. Dengan kata lain, investasi dan minat dari luar Jepang akan lebih mempengaruhi anime yang akan diproduksi di masa depan dibandingkan dekade lalu.

Semua investasi ini dikatakan membuat studio Jepang jadwalnya penuh sampai 2020 nanti. Hanya saja melihat industri ini yang mulai kekurangan veteran dan sangat sulit regenerasi akibat kondisi kerjanya yang masih perlu banyak diperbaiki, dikhawatirkan sebuah crash akan terjadi akibat semakin banyaknya kuantitas anime tiap musimnya. Entah industri mana yang akan terjadi lebih dulu, keruntuhan atau menemukan model kerja yang lebih waras.

Ceritanya Anti-Mainstream/Mainstream

Di Jepang sendiri, semua seri yang bukan dari Jump atau seri keluarga lainnya (seperti Pokemon dan Yokai Watch) terhitung sebagai non-mainstream, sehingga saya sendiri kurang mengerti maksud dari kata “anime-nya anti-mainstream” karena mayoritas anime musiman itu pada dasarnya bukan produk mainstream.

Tentu saja tren tentang apa yang mainstream dan apa yang bukan akan terus bergeser, berhubung kita dapat kasus seperti studio Sunrise yang ingin seri mecha kembali laku. Atau seperti Jojo yang fans awalnya harus menderitai translasi yang “got a feeling so complicated, no dignity” namun sekarang punya cukup banyak komentator untuk menanyakan tiap kolom komentar media tentang apakah karya mereka itu referensi Jojo. Atau juga seperti fans lama Typemoon yang kaget anak-anak Jepang lebih kenal Mecha Elizabeth dibandingkan Pokemon.


Karakternya cowok semua jadi pasti fujobait

Kalau opini ini sebenarnya lebih banyak dilayangkan pihak yang cuma bisa melihat permukaan sebuah seri namun ingin buru-buru memberikan opini yang lantang terhadap seri tersebut. Kritik ini juga anehnya diberikan pada seri josei, shoujo, dan otome sehingga anehnya ada orang yang merasa tersinggung tentang keberadaan seri yang dikhususkan untuk demografi wanita.

Pictured: Seri fujobait berdasarkan standar tersebut

Apa kalian tahu kalau setengah dari pembaca Weekly Shonen Jump di Jepang adalah perempuan? Bahkan seri raksasa seperti One Piece mayoritas pembacanya di Jepang adalah perempuan. Namun saya rasa kalau ada yang mengatakan One Piece itu fujobait, mayoritas orang akan merasa sang pemegang opini tersebut kehabisan kritikan.

Sekian dulu untuk JOI Weekend kali ini. Apakah kalian masih sering mendengar argumen lain yang kurang membantu saat mendiskusikan anime? Sampaikan di kolom komentar di bawah.

Referensi: NLabAJA