‘Trigun Maximum’, Sebuah Sekuel Klasik yang Harus Kamu Kunjungi Kembali

April 18, 2018 10:50 am
‘Trigun Maximum’, Sebuah Sekuel Klasik yang Harus Kamu Kunjungi Kembali

Judul seri Trigun pastinya sudah menjadi salah satu judul yang melekat dengan baik di ingatan otaku-otaku ‘berumur’. Kamu pastinya masih ingaat dengan seri yang satu ini pernah menjadi pengisi waktu di sore hari sepulang sekolah. Trigun merupakan salah satu anime yang sempat ditayangkan oleh stasiun TV, Trans TV bersamaan dengan NinkuJuubei-chanFlame of Recca, dan masih banyak lagi.

Bila kamu merupakan seorang penonton setia dari seri tersebut, mungkin kamu tertarik untuk melanjutkan membaca kelangsungan kisah Vash the Stampede lewat sekuelnya, Trigun Maximum. Kali ini, JOI kembali bekerja sama dengan Mangamon untuk mengulas sekuel seri klasik yang satu ini. Jangan lupa, bagi kamu yang ingin membaca seri ini pun juga bisa menghubungi halaman Facebook JOI untuk mencicipi volume pertamanya.

Trigun Maximum adalah sebuah sekuel langsung dari trilogi Trigun sebelumnya, seri ini memperkenalkan Vash yang saat ini sudah ‘semi-pensiun’ dan ingin menghabiskan sisa umurnya di situasi yang tenang dan damai. Namun sayang, sepertinya dia tidak bisa istirahat dengan semudah itu. Vash harus kembali ke medan peperangan setelah Wolfwood mengembalikan pistolnya kepadanya.

It was released almost 20 years ago

Feel old yet? Ya, Trigun Maximum dirilis pertama kali pada tanggal 1 Juli 1998, hampir 20 tahun lalu dan mungkin kamu sekarang sudah mulai merasa kalau seri ini tua banget. Prekuelnya rilis pada tahun 1996, jadi kamu bisa bayangkan betapa mudanya kamu saat Trigun pertama kali keluar, mungkin kamu juga malah baru saja lahir.

Having said that, Trigun sudah bisa dipastikan memiliki gaya gambar yang sangat berbeda dibandingkan dengan kebanyakan manga saat ini. Gambarnya jauh lebih rough dan desain karakter yang tidak ‘sehalus’ karakter dewasa ini. Membaca Trigun terasa seperti membaca kapsul waktu, apalagi dengan gaya penceritaan dan aksi khas tahun 90-an yang terkadang flow-nya tidak jelas, but that’s the charm.

The absurdity of the classic

Rasanya sekarang jarang sekali saya melihat sebuah manga dengan karakter yang cukup absurd seperti dalam seri Trigun. Kebanyakan pembaca memilih karakter dengan muka yang ganteng ‘borderline’ trap, jadi bisa punya harem dengan lebih mudah. Karakter old school yang keren dan liar seperti Vash mulai tersingkirkan oleh kikisan waktu. Namun itu juga yang menjadi sebuah sinar bagi karakter Vash (or my personal favorite, Jin dari Oudorobou Jin), rasanya seperti menemukan harta terpendam.

Rambut yang gila dengan kostum yang tidak kalah grandiose, ditemani dengan aksi-aksi di luar nalar yang akan dilakukan Vash mungkin akan membuat kamu tertegun sejenak. Karakter selain Vash pun memiliki ke-absurdan masing-masing, misalnya pistol Punisher milik Woldwood yang berbentuk salib segede gaban yang digunakan untuk membuat manusia menjadi daging cincang. Atau the stun gun milik Milly Thompson yang beratnya amit-amit. These kinds of things made me realizes why I miss the old stuff once in a while.

Trigun adalah salah satu contoh dari seri klasik yang saya sangat rekomendasikan, kamu bisa menemukan pesona seri klasik yang jarang ada di seri-seri baru. Membaca Trigun bahkan membuat saya mengingat-ingat lagi saat masih menonton Cowboy Bebop atau membaca Get Backers. Seri-seri yang kelihatannya absurd di standar sekarang, tapi sebenarnya adalah standar anime dan manga di masa lalu.

Membaca Trigun juga rasanya tidak akan semudah membaca manga-manga pada umumnya, karena kadang Yasuhiro Naitou ngegambar seenak jidatnya. Normalnya manga akan digambarkan per panel dengan flow yang beraturan, namun Trigun tidak jarang menggambarkan aksinya tanpa peduli flow tersebut. Memberikan sebuah ilustrasi pertarungan yang lebih ‘raw’ tapi kadang susah dibaca.

It’s still a great classic though.

Kadang-kadang penempatan komedi dari Trigun yang ‘tidak pada tempatnya’ terasa merusak flow dari seri ini, saya lihat beberapa pembaca di internet pun menjadi tidak suka dengan keputusan penempatan komedi-komedi tersebut. But those uncertainties is definitely what defining the classic series are, mungkin gaya becanda mereka saja yang berbeda dan mereka tidak suka adegan-adegan serius diselipi dengan sedikit guyonan.

Kalau kamu ingin membaca Trigun, jangan lupa message admin kami di halaman Facebook JOI, sayangnya kali ini tidak ada giveaway untuk menulis review-nya, tapi kamu tetap bisa mendapatkan kupon untuk membaca volume pertamanya.