[3 Episode Rule] Megalo Box

May 7, 2018 6:41 pm
[3 Episode Rule] Megalo Box

“Megalo Box” adalah seri dengan beban yang berat di pundaknya. Anime ini dibuat untuk merayakan 50 tahun seri Ashita no Joe, seri yang merupakan ikon besar tahun 70an Jepang yang pengaruhnya pada media anime dan manga masih terasa sampai sekarang. Sering melihat adegan karakter yang “mati” di sudut ring? Adegan tersebut berasal dari Ashita no Joe.

Berbeda dengan pendahulunya, Megalo Box memiliki setting Cyberpunk. Masa depan dengan kesenjangan sosial yang brutal di mana olahraga paling populer di dunia ini adalah Megalo Box, tinju dengan exoskeleton. Joe generasi ini adalah Junk Dog, pria yang hidup dengan bertanding di arena tinju yang sudah diatur hasilnya. Hingga suatu hari dia bertarung dengan juara Megalo Box, Yuri dan kalah olehnya. Lewat pertandingan ini Junk Dog yang sekarang memiliki nama Joe berambisi untuk mengejarnya dalam tiga bulan di pertandingan puncak Megalonia.

A very competent Cyberpunk

Bagi saya seri Cyberpunk yang bagus memerlukan 2 resep ini: 1. Perlawanan terhadap status quo (makanya ada “punk”) 2. Teknologi/aset vital yang hanya dimiliki dan dikuasai beberapa orang saja. Joe dan timnya adalah manusia dari “luar” masyarakat, dan mereka harus melawan individu yang jauh lebih memiliki lebih banyak sumber daya dan seperti yang ditunjukkan episode 4 tidak memiliki Gear yang sangat vital di olahraga ini, ibarat dirinya bermain di olahraga lapangan tanpa sepatu.

Gym Nowhere, atau lebih tepatnya Joe dan Nanbu; harus bertarung atau mati, baik karena pekerjaan yang brutal maupun karena gangster yang sangat ingin investasi mereka kembali. Joe seperti yang ditunjukkan dengan hobinya untuk kena kecelakaan adalah orang yang sangat fatalistik sementara Nanbu lari dari kehidupan sebelumnya dan mulai kehabisan harapan. Misi bunuh diri mereka ke Megalonia adalah perlawanan ke arah hidup mereka saat ini.

Ini kontras yang menarik dari seri klasiknya, yang dibuat saat Jepang mencoba memulihkan diri dari perang dan berubah drastis akibatnya. Megalo Box berfokus pada perspektif orang-orang yang masa depannya tidak jelas dan status manusia mereka terikat erat pada status sosial mereka. Keduanya masih melibatkan perjuangan mati-matian individu kelas bawah, dan untuk adaptasi modern ini saya melihat implementasi konsep Cyberpunk adalah pendekatan yang bagus untuk Joe era ini.

Annoying Downscaling

Gambar yang kelihatan kabur memang disengaja oleh staf produksi. Resolusi sengaja di downscale, lalu di upscale agar visual terlihat lebih “retro”. Saya harap ini nggak jadi tren karena saya merasa metode ini terasa mubazir karena terlalu mengorbankan ketajaman visual. Ini juga ngebuat saya repot nyari gambar yang enak

Most stylish show for the season

Jujur saja keputusan di atas yang walaupun saya kurang suka membuat seri ini memiliki banyak kepribadian berhubung desain karakternya juga terlihat seperti karakter era 2000an. Di aspek aksi anime ini bisa konsisten menampilkan tinju dengan impact yang kuat serta menunjukkan efeknya ke tubuh manusia. Staf produksinya ingin menyajikan dunia dan pertandingan yang kasar, dan sejauh ini Megalo Box sukses menawarkan hal tersebut.

Anime ini diiringi soundtrack techno mabanua yang secara pribadi merupakan OST favorit saya untuk musim ini. Saya ngarep aja bakal ada lebih banyak performa hip-hop berhubung saat artikel ini ditulis baru sekali aja dilakuin.

Verdict: Ashita no Ashita no Joe

Untuk sebuah seri olahraga, cerita tentang seorang underdog (yang namanya aja Junk Dog) memang sebuah klise yang sangat umum, namun sejauh ini anime ini bisa mengeksekusinya dengan baik. Megalo Box dikerjakan oleh staf produksi yang sepenuhnya sadar dengan berat nama Ashita no Joe. Berbagai konsep dari seri klasiknya bisa diadaptasi dengan baik dengan bumbu modern, cuma saya sendiri juga penasaran apakah anime yang sejauh ini menggunakan kata “Death” untuk tiap episodenya juga akan “membunuh” karakter utamanya.