[Review] Darling in the Franxx

July 30, 2018 3:54 pm
[Review] Darling in the Franxx

Suka atau tidak, Darling in the Franxx adalah seri besar musim dingin dan musim semi tahun ini. Seri mecha orisinal hasil kolaborasi antara A-1 dan Trigger ini seringkali menghadirkan baik episode yang mengagumkan dan kontroversial akibat metode penceritaannya. Dengan berakhirnya masa tayang anime-nya sudah saatnya staf JOI memberikan penilaian atas seri ini.

Seperti yang sudah dijabarkan pada 3 Episode Rule dulu, Darlifra merupakan dream project Atsushi Nishigori yang mengumpulkan berbagai staf ex-Gainax untuk sekali lagi membuat seri mecha. Tim Nishigori yang merupakan otak di belakang adaptasi anime im@s merupakan staf sentral anime ini, dan format cerita im@s yang cenderung episodik nampaknya mempengaruhi cara Darlifra diceritakan.

Impresi awal saya dan banyak orang untuk Darlifra adalah, “Ini seri yang sangat seksual.” Mulai dari heroine utamanya yang sangat agresif dan penggunaan banyak simbolisme seksual untuk mechanya. Hanya saja masuk ke tengah masa tayangnya anime ini fokus sepenuhnya ke drama interpersonal yang jujur saja merupakan aspek favorit saya, dan masuk ke akhir ceritanya Darlifra serasa kelabakan menguras semua nostalgia terhadap seri Gainax yang saya yakin memperburuk opini penonton yang tetap menyaksikan anime ini sampai akhir.

Saya langsung bilang saja kalau saya spada dasarnya suka dengan anime ini, karena berhasil melakukan satu aspek dengan sangat baik, namun sayangnya gagal pada aspek yang sangat penting untuk seri mecha.

It refuses to commit with important plotpoint

Alasan saya semangat menonton seri ini selama 80% masa tayangnya adalah tiap episode memiliki setup yang menarik untuk progresi cerita kedepannya. Hanya saja memasuki akhir ceritanya saya mulai sadar mayoritas setup penting episode sebelumnya itu antara tidak relevan lagi atau diselesaikan dengan cara yang sangat tidak memuaskan seperti:

  • 02 yang jelas pemberontak sampai-sampai mencuri senjata dari penjaga jarang melawan atasannya lagi.
  • Berserk mode yang merupakan ancaman serius untuk para Pistil ujung-ujung cuma relevan untuk 02 dan untuk Kokoro cuma beberapa detik saja.
  • Plant perlu transfer reguler magma, hanya saja keterbatasan ini tidak pernah relevan lagi.
  • Zorome dan si nenek sama sekali nggak ada lanjutan cerita setelah Plant hancur.
  • Strelizia merah cuma muncul untuk diperkenalkan tapi nggak balik lagi setelahnya.
  • Konflik antara Tim 13 dan APES nggak relevan lagi setelah pimpinan atasnya itu ternyata alien
  • Perang di ruang angkasa dengan Franxx baru hanya muat setengah episode
  • Bumi yang hancur langsung sembuh setelah Klaxosaur balik pulang

Ada juga Ikuno yang berhasil menyembuhkan umur pendek para Parasites, cuma hal ini dicapai setelah menghabiskan hidupnya, ini masih bisa saya terima karena hasilnya sepadan dengan usahanya. Sebelum saya menulis Review ini saya membaca ulang Spotlight yang sudah saya tulis dan menyadari kalau kebanyakan episodenya itu kuat secara individual, namun sangat lemah bila dilihat secara keseluruhan karena Darlifra lebih sering memberikan misteri dan masalah baru dibandingkan dengan membangun dari fondasi cerita yang sudah ada.

It did the worst crime a mecha show can do

Hal terburuk yang bisa dilakukan sebuah seri mecha adalah membuat saya berharap seri ini mengurangi aspek mecha, bahkan membuat saya ingin seri ini tidak bergenre mecha. You made a man wish less for a giant robot, you done messed up. Sebuah seri yang menggunakan mecha 2D di luar produksi Sunrise itu sangat jarang sehingga saya mengapresiasi hal ini di Darlifra, namun memasuki paruh akhirnya anime ini kelabakan menampilkan aksi mechanya melihat banyaknya penurunan frame rate saat adegan aksi berjalan.

GO BACK TO THE FARMING

Sudah saya bilang di atas kalau seri ini ingin kembali membuat seri mecha khas Gainax, namun obsesi seri ini untuk mengulang plotpoint cerita pendahulunya, yang di akhir seri tancap gas biar bisa full Gunbuster/Diebuster malah jadi beban. Usaha untuk membuat homage untuk era tersebut membuat Darlifra malah jadi kehilangan identitasnya sebagai seri mecha.

The supporting character stays great

Para karakter pendukung seri ini merupakan aspek favorit saya dari Darlifra. Dibandingkan dengan hubungan 02 dan Hiro yang jalan di tempat sejak episode 16, anggota Plant 13 lain memiliki arc dan payoff yang jauh lebih menarik. Malah hubungan Mitsuru-Kokoro saya bilang jadi dapat lebih berkualitas daripada pasangan utamanya. Naomi yang keliatan kayak karakter sekali pake langsung buang bahkan dapet happy ending.

She got married with Ikuno. Don’t mess with my headcanon

Begitu juga dengan Futoshi yang bisa dapet istri dan bukan “idola”, Goro yang kesabarannya dibayar dengan pantas, dan Miku-Zorome selaku pasangan paling sehat seri ini yang, well, pretty much stays healthy to the end.

Yang membuat saya suka dengan drama interpersonal seri ini adalah berkat backdrop dunia yang melihat kemanusiaan sebagai beban. Banyak banget seri mecha yang masalahnya bisa langsung selesai kalau aja ada psikolog, psikiater, atau minimal konselor yang bermutu di dunianya, namun Darlifra “diberkahi” dunia di mana manusia sudah lupa cara jadi manusia, jadi para Parasites benar-benar harus mulai dari nol untuk mencari tahu cara membebaskan dari dari beban emosional mereka.

Pada akhirnya saya lebih puas dengan para Parasites yang bisa jadi manusia baru dunia yang mulai pulih dibandingkan dengan hubungan 02-Hiro dan perang dengan VIRM. Di episode akhir saya lebih sering ngarepin adegannya balik ke Parasites yang bertani daripada perang Klaxosaur-VIRM di ruang angkasa.

Verdict: Free from weekend spoiler minefield at last

JOI Spotlight Header

So much salt from this one scene

Kaptain

Berkat seri ini saya black out dari sosmed di sekitar jam tayangnya di Sabtu malam selama masa tayangnya. Karena seakan-akan ada kompetisi untuk memposting isi episode baru dengan konteks yang dikarang sendiri. Sebagai seri besar yang berlangsung selama dua musim tentu saja postingan tersebut jadi menyebar kemana-mana seperti epidemi, hal ini juga yang membuat diskusi seri ini selama tayangnya sangat melelahkan, karena susah sekali mencari diskusi yang para anggotanya sudah mencerna isi episode dengan kepala dingin.

Darling in the Franxx adalah sebuah seri yang ingin membangkitkan lagi suasana mecha era Gainax, namun ujung-ujungnya dibebani oleh motivasi tersebut. Seri mecha yang pada akhirnya aspek favorit saya bukanlah mecha-nya, dan bahkan anime ini juga kehabisan ide bagaimana mengembangkan hubungan pasangan utamanya sampai akhir masa tayangnya. Namun saya bersyukur cerita tentang “manusia yang harus belajar jadi manusia” tetap mendapat cukup fokus dan secara pribadi aspek ini dieksekusi dengan baik olehnya.

bukan_randy

Saya rasa “kontroversi” Darling in the Franxx sebenarnya berasal dari perkenalan pertama yang salah langkah. Pada episode-episode pertama, saya juga sempat merasa kesal dan tidak suka, sebelum akhirnya berubah pendapat pada sekitar eps 4-6. Semua ini terjadi karena mixed message di episode awal, di mana intro 02 cukup seksual, tapi kenyataannya romantikanya dengan Hiro ke belakangnya itu cukup standar; di mana desain mecha dan cockpitnya sensual dan sangat over-the-top seperti Kill la Kill, tapi malah dibawakan dengan serius dan tidak pernah disinggung; di mana anime ini dimulai sebagai anime mecha, tapi anime ini lebih berfokus ke perkembangan remaja menjadi dewasa, masalah relationship, dan nature vs nurture. Dari sana, banyak orang yang langsung mengdrop Darlifra di awal/tidak pernah menonton sama sekali lalu disiramkan bensin dengan post-post spoiler adegan “kontroversial” tanpa konteks di media sosial yang membuat saya yakin kalau kebanyakan netizen sini masih belum cukup dewasa untuk menghadapi masalah relationship & pregnancy. Dari kebanyakan orang yang meng-post spoiler Darlifra di sosial media, kebanyakan justru adalah orang-orang yang tidak menonton/tidak mengikuti serinya lagi.

Jika seri ini memang ada dosa, dosanya adalah seri ini gagal sebagai anime mecha. Jika Suisei no Gargantia hanya menggunakan aspek mechanya di bagian paling awal dan paling akhir, Darlifra lebih banyak menggunakan aspek mechanya di awal, lalu terus menjadi makin sedikit dan kurang bagus makin ke belakangnya. Bahkan saya sendiri agak sulit membayangkan akan seperti apa bila seri ini masuk ke game SRW, bukan dari ceritanya, tapi dari seperti apa adaptasi unit-unit mechanya, karena mungkin selain Strelizia, hampir semua unit yang ada di sini memiliki ciri-ciri yang sangat sedikit di battlenya tanpa ada jurus/teknik/achievement yang mencolok. Hal ini juga berujung dengan klimaks battle yang sangat lemah karena kualitas battlenya juga hampir tak ada.

Aspek terkuat seri ini ada di perkembangan karakter-karakternya. Hebatnya, Darlifra berhasil membagi screentime & character development yang cukup merata ke semua karakter sampingannya, di mana kebanyakan seri mecha lebih sering fokus di main hero & heroine beserta 1-2 karakter lain. Seperti yang Kaptain sudah bilang di atas, meski klimaks battle terakhir Hiro & 02 melawan Virm itu lemah, kisah pertumbuhan squad 13 setelah terlepas dari franxx dan perang itu sangat menarik dan juga menjadi payoff yang memuaskan setelah apa yang mereka lalui.