[Review] Project Itoh: Empire of Corpses

August 10, 2018 6:26 pm
[Review] Project Itoh: Empire of Corpses

Selamat hari Jumat, kembali kita berjumpa di rubrik yang tidak biasa, karena biasanya sekarang saya menulis Waifu Wednesday, namun karena kesibukan luar biasa saya mohon maaf, 2 minggu ini tidak pernah sempat membahas waifu. Kali ini kita berjumpa kembali di 1 rubrik yang juga sudah lama tidak saya tulis, yaitu Review. Saya tidak ingat review terakhir saya apa, sudah lama banget rasanya, tapi saya harap tulisan saya tidak melempem.

Review kali ini adalah untuk sebuah movie, Project Itoh: Empire of Corpses, film ini merupakan film ketiga dari trilogi novel buatan Satoshi Itoh. Empire of Corpses merupakan karya ketiganya, namun sayang dia tidak sempat menyelesaikan ceritanya karena dia meninggal akibat Kanker di usia 34 tahun. Dikabarkan Empire of Corpses baru 8 halaman saat Itoh meninggal, namun rekan sejawatnya Toh Enjoe melanjutkan novel tersebut dan meraih penghargaan spesial dalam Nihon Taisho Award.

Kalau kamu belom nonton film ini, film ini bisa ditonton di Ponimu, situs streaming legal yang baru saja membuka layanannya di akhir bulan Juli lalu. Bila kamu tidak punya kode dari CSF Challenge atau Preliminary Survey, Ponimu memberikan waktu 3 hari gratis untuk menikmati anime-anime yang mereka suguhkan. Saat ini hanya ada 3 seri anime yang Ponimu tawarkan termasuk Project Itoh: Empire of Corpses.

Sekilas mengenai Empire of Corpses, berikut adalah sinopsis dari seri ini yang dapat kamu temukan di situs Ponimu Indonesia:

Di London abad ke-19, teknologi mayat hidup telah dikembangkan sehingga orang mati dapat dipekerjakan. Seorang mahasiswa medis brilian bernama John Watson diundang bergabung dengan kelompok rahasia pemerintah UK, Institusi Walsingham, dan diberikan misi rahasia untuk mencari dokumen legendaris yang disebut “Catatan Victor”. Dr. Victor Frankenstein meninggalkan dokumen tersebut seabad lalu, dan dokumen tersebut dipercaya berisi detil teknologi rahasia untuk menciptakan “The One”, mayat hidup pertama yang dapat berbicara dan memiliki keinginan sendiri.

Petunjuk pertama membawa Watson ke pedalaman Afghanistan. Alexei Karamazov, seorang pendeta militer Rusia sekaligus insinyur jenazah yang jenius, tiba-tiba memimpin sepasukan mayat bersenjata modern dan melakukan pemberontakan. Bagaimana Alexei dapat menciptakan mayat hidup tipe baru? Apakah Alexei telah mendapatkan Catatan Victor dan menggunakan metode-metode yang tercatat di dalamnya? Watson memulai petualangan besarnya mencari Catatan Victor bersama dengan seorang mayat bernama Friday.

Zombie was never my forte to begin with, dibandingkan pocong, kuntilanak, setan Ju-On, atau setan mana juga, saya lebih takut dengan possibility adanya zombie. Dengan teknologi yang mungkin belum diketahui, membuat zombie juga lebih ‘realistis’ dibandingkan disuruh nyari jin atau tuyul. But this film kept me ‘entertained’ during the hours it played.

The story is having a hard time keeping up with itself

Kita mulai dengan bagian yang agak menyudutkan dulu, yaitu cerita dari Empire of Corpses itu sendiri. Di atas kertas, premis Empire of Corpses terdengar cukup rumit, masyarakat yang hidup berdampingan dengan zombie sebagai pekerja kasar. Orang-orang yang mati tidak lagi dikubur namun bisa menjadi kuli, pekerja harian, atau bahkan tentara untuk perang. Terima kasih kepada teknologi Dr. Frankenstein, Necroware, kini manusia bisa berguna bahkan setelah mereka mati.

It smells disaster from the get-go, perfect. Nggak ada orang normal yang akan membangkitkan mayat keluarganya untuk jadi pekerja, nggak ada. But let’s brush that aside dan membahas apa yang lebih penting, alur dan cara mereka membawa film ini.

Jarang ada adaptasi novel yang bisa membawa semua ceritanya ke dalam movie, jadi saya sudah mengantisipasi kalau-kalau film ini memang terasa cepat atau terpotong-potong. It did, but it might be worse than you think. Kalau kamu tidak benar-benar memahami ceritanya, mungkin kamu akan hilang arah. Di satu scene, mereka sedang berada di London, namun di scene lain mereka tahu-tahu loncat ke Rusia, besoknya Jepang, tapi tiba-tiba mereka malah ke Amerika. Itu cuma perpindahan tempatnya saja dan belum mengenai ceritanya.

Banyak karakter yang tadinya saya kira akan menjadi karakter penting dalam cerita ini terbuang sia-sia. Tiba-tiba mati lah, tiba-tiba jadi gila lah, tiba-tiba ternyata cyborg lah, you’ll have a hard time keeping up with who is important and who isn’t. Belum lagi dengan cerita yang terasa agak lompat-lompat dan kemunculan karakter-karakter yang super tiba-tiba.

To be fair, kalau kamu bisa mengkaitkan cerita dan petunjuk-petunjuk yang ada di dalam movie ini, this movie is by no means bad, at least it’s a good popcorn flick movie. Saya cukup menikmati film ini sambil menebak-nebak ceritanya akan dibawa kemana, all the while trying to tie the loose ends on this movie behind my head. Namun sayang memang eksekusi flow cerita Empire of Corpses ini kurang sempurna.

Wit Studio delivered what Wit Studio is known for

That is a good action scenes with incredible panorama shots, Wit Studio adalah studio yang memproduksi seri Shingeki no Kyojin, dan kamu pasti sudah tahu kualitas dari anime tersebut. Apalagi saat mereka loncat-loncat melawan para Kyojin dan betapa detil dan fluidnya adegan high speed mereka. Empire of Corpses pun mendapat perlakuan yang sama, secara visual movie yang satu ini sangat memukau ditambah memang kualitasnya dibuat untuk layar lebar.

Banyak detil-detil gambar yang bisa memanjakan mata dan desain steampunk yang menjadi salah dibuat dengan teliti. Saya cukup yakin kalau kamu kecewa dengan ceritanya, senggaknya mata kamu bisa dimanja dengan gambar-gambarnya.

There’s a waifu, the only waifu

If waifu game is what kept you on the field, Empire of Corpses punya Hadaly Lilith, seorang wanita berbadan tinggi semampai dengan proporsi tubuh ideal. Dia adalah sekretaris dari presiden USA, jadi kita tahu kalau presiden Amerika Serikat punya taste yang superior. Hadaly merupakan cahaya terang di antara kegelapan, wanita di antara pria, kembang di antara kambing. Namun ada satu rahasia dari Hadaly yang belum terungkap, apa ya kira-kira?

Bagaimana dengan kepribadian wanita yang satu ini? Lebih baik coba kamu tonton sendiri saja filmnya di Ponimu.

Verdict: Kill the Zombies/10

Sebagai sebuah movie, Empire of Corpses bisa dinikmati dan menurut saya jauh dari kesan buruk. Kualitas gambar yang tinggi dipadu dengan mulus dan fluid-nya animasi Wit Studio menjadi pemanja mata yang sangat baik. Walaupun memang ceritanya agak susah dimengerti karena manajemen alur yang kurang sempurna, ceritanya masih bisa dicerna.

Kelebihan lain dari film ini adalah adegan-adegan aksinya yang cukup thrilling dan menegangkan, Empire of Corpses mengeksekusi bagian ini dengan baik. Pengalaman Wit Studio kembali berbicara dalam hal ini, ditambah dengan eksekusi pengambilan gambar yang baik.

Kalau kamu gemar dengan aksi-aksi yang cepat dan badass, serta menggabung-gabungkan cerita berdasarkan petunjuk-petunjuk yang ada dalam film, Empire of Corpses adalah pengisi waktu yang sempurna. Kamu akan disibukkan dengan petunjuk-petunjuk dalam film, serta plot twist-plot twist yang akan muncul di waktu-waktu yang tidak terduga.

I don’t like zombies, but I like this movie.