[Review] Valthirian Arc: Hero School Story

October 11, 2018 9:47 am
[Review] Valthirian Arc: Hero School Story

“Valthirian Arc: Hero School Story” dulu memiliki judul Valthirian Arc: Red Covenant pada saat penggalangan dana Kickstarter pada tahun 2017 dulu. Judul diubah agar bisa lebih merepresentasikan isi konten gamenya, namun lewat memainkan game ini perubahan judul nampaknya diakibatkan oleh kompromi terhadap konten yang tidak sempat diimplementasikan. [Disclaimer: Review Code untuk platform Steam diberikan gratis oleh Agate untuk keperluan review]

Di game Valthirian Arc ketiga ini kalian ditugaskan sebagai kepala sekolah sebuah akademi, dan berhubung di dunia ini anak remaja bisa jadi superhero dalam hitungan minggu bila disekolahkan; institusi ini sangat vital untuk menjaga kestabilan negara dan melihat tidak adanya upkeep rutin untuk menjalankan operasionalnya bisa disimpulkan akademi ini lebih disubsidi daripada militer negaranya. But jokes on them, di late game saya ekslusif ngelulusin badut doang.

Gameplay loop seri Valthirian Arc ketiga ini pada dasarnya adalah grinding untuk ngebuat produk murid berkualitas lalu ngejual ngelulusin mereka mendekati akhir semester untuk mendapat dana dan meningkatkan akreditasi akademi. Dengan equipment serta infrastruktur yang lebih baik kalian akan bisa menghadapi misi yang lebih sulit. Untungnya kalian tidak perlu mensurvey minat murid dan bisa menentukan karir mereka sesuka hati.

Progresi waktu berjalan dalam hitungan minggu, yang bisa dilewati dengan cepat dengan pergi memainkan quest, dimana kalian akan memainkan segmen action RPG game ini. Atau lebih lambat dengan menunggu di akademi, saat artikel ditulis tidak ada pilihan untuk skip waktu, jadi kalian jangan sampai ngirim semua murid kalau nggak mau manyun nunggu. Dev sendiri untungnya sudah menanggapi hal ini di forum. Dengan kata lain fundamental dan masalahnya masih sama dengan game sebelumnya, dan inilah kutukan serta berkah game ini.

The simulation part are not in-depth enough

Kalianlah yang menentukan fasilitas sekolah, hanya saja fasilitas sekolah itu lebih untuk memberi buff universal ke aktivitas murid dan membuka akses profesi setelah menemukan staf pengajar dari quest. Di end game kalian seharusnya sudah bisa membangun dan mengupgrade semua fasilitas. Dengan sedikitnya dekorasi dan batasan tempat bangunan, sayangnya hal ini menyebabkan tidak banyaknya kreativitas dalam membangun akademi.

Ada random event di tiap fasilitas sekolah, cuma sayangnya variasinya sangat sedikit dan hasil dari keputusan kalian untuk mengatasinya itu akan selalu sama baik hadiahnya maupun flavor text-nya. Semakin lama saya main saya memutuskan untuk nyuekin fitur ini, it’s not worth it.

Kustomisasi murid itu di equipment, di mana yang vital itu cuma senjata saja dan aksesori itu nggak peduli raritynya nggak pengaruh banyak; profesi serta skill tree yang terbuka di level tertentu, dan nama panggilan. Entah ini di game saya aja atau tidak, namun banyak sekali siswi dan siswa yang punya nama “Seven”. Saya juga menyayangkan tidak banyaknya transparansi soal efek status murid, jadi secara efektif status hanya untuk mengindikasikan profesi mana yang cocok untuk murid. Fisik dan kepribadian (lebih tepatnya voice type) juga sifatnya randomized. Begitu akreditasi naik murid yang level cap-nya lebih tinggi akan datang, jadi jangan terlalu sentimental dengan murid awal kalian.

Tidak ada mode sandbox di game simulasi ini, bahkan setelah kalian menamatkan gamenya. Kalian akan ditendang ke waktu sebelum masuk misi terakhir dan kemungkinan besar kalian sudah kehabisan misi lain untuk dimainkan. Hal ini itu sangat menyebalkan karena tidak ada alasan untuk main lagi untk bereksperimen.

Huge fluctuation on quest quality

Anehnya quest yang bagus dan punya lebih banyak komplikasi menarik serta adegan cutscene yang bukan VN malah berat di late game. Sementara di early game kalian akan lebih sering berdoa saleswoman yang rutin datang tiap minggu punya pilihan senjata atau resep yang bagus, dan mid game itu banyak sekali fetch quest yang saya sering kehilangan banyak waktu karena beberapa kali item yang diperlukan nyangkut dan susah dicari. Quest macam ini sebenarnya bisa diperbaiki kalau saja ada metode/skill untuk menandai item di minimap.

Ini yang bikin saya males sama fetch quest

Dari Kickstarter dan halaman toko Steam ada fitur yang menjelaskan kalau ada sistem faksi, saya langsung bocorkan saja kalau cuma ada satu rute cerita dan misi khusus faksi itu cuma story mission biasa, namun dari aset yang ada dan perkembangan cerita diakhirnya fitur ini kelihatan banget dipotong. Pemotongan ini juga alasan saya nggak banyak bicara soal cerita game ini, kalau tidak salah Rhianna Pratchett pernah mengatakan kalau menulis seperti game itu seperti jadi paramedis, dan kualitas dialog yang fluktuatif serta plotpoint yang nggak jalan kemana-mana menunjukkan jahitan yang buru-buru agar “pasien” bisa hidup.

Untuk aspek stabilitas, selama 15 jam main saya sudah 4 kali crash di awal misi. Pathfinding baik untuk karakter kalian dan musuh sering menyebalkan, namun kadang membantu. Saya juga merasa efek aksinya terlalu sibuk, jadi begitu sampai di akhir game dan skill yang digunakan mulai lebih spektakuler, sulit untuk melihat aksi para karakter dan monster yang dilawan.

Saat bug pathfinding ngebantu banget

Balancing needs much work.

Berhubung untuk mempromosikan murid kalian perlu menyelesaikan quest untuk mendapat instruktur, early game itu adalah sebuah balapan untuk menyelesaikan quest yang relevan agar pesanan pemerintah bisa dipenuhi dengan optimal, makanya saya bilang equip itu penting. Saking pentingnya sampai-sampai tingkat kesulitan awal kalian itu bergantung dengan item yang dijual secara acak oleh saleswoman yang datang, karena dia sering menjual equip late-game dengan harga terjangkau. Berhubung batasan pengunaan equip itu dari class saja, tidak ada alasan untuk membuat atau membeli barang dengan rarity di bawah ungu (rarity standar RPG berlaku: Putih>Biru>Ungu>Emas)

Saya bersyukur craftingnya cukup simpel

Tingkat kesulitan quest itu ditandai dengan bintang satu sampai lima, yang seringkali nggak membantu karena ada misi bintang tiga yang jauh lebih alot dari bintang empat. Ini kombinasi dari early game dimana murid kalian memang masih pada jelek dan DPS serta HP musuh yang seringkali tidak wajar. Sangat disayangkan berhubung tiga garis subquest besar di akhir game kualitasnya jauh lebih bagus namun kalian harus melewati quest yang tidak enak dulu. Masih soal quest saya rasa map jenis Ruins itu underused walaupun punya musik yang bagus.

Verdict: Functional but uninspired

Lebih banyak sumberdaya yang digunakan untuk mengadaptasi sistem ke engine baru daripada untuk memperbarui gameplaynya dengan baik. Saya sendiri cukup kagum saat sadar kalau komentar saya dengan misi terakhirnya itu sama dengan Valthirian Arc 2, “Loh kok udah end game?”, “Kamu siapa?”, dan “Kenapa kok build-up nya gini doang?”. Ambisi game jadi harus diredam agar game yang fungsional bisa dirilis sesuai jadwal.

Optional quest kualitasnya lebih bagus dari main quest di segala aspek

Beberapa komplain saya di atas, seperti errand quest yang jadi jebakan di awal game; untungnya sudah ditanggapi developer dan game ini juga tergolong rajin diupdate. Jadi masalah teknis idealnya akan berkurang seiring waktu. Hanya saja game ini itu rasanya sudah terluka secara permanen akibat fitur dan konten yang tidak sempat diimplementasi, sehingga hasilnya adalah game yang tidak banyak meningkat dari pendahulunya namun untungnya masih fungsional.

Dengan tarif hampir IDR 96.000,00, Valthirian Arc: Hero School Story menawarkan sekitar 15 jam main untuk genre simulasi yang khusus tema sekolah hero ini masih belum banyak, dan untuk genre simulasi (dan uniknya board game) tema itu sangat penting. Di Steam sendiri kompetisinya yang mirip ada Darkest Dungeon, Tale of Wuxia dan Academagia, di mana ketiganya simulasinya kompleks dan punya learning curve yang brutal juga, jadi untungnya game ini punya niche sebagai alternatif yang aksesnya lebih mudah.