Menteri Cybersecurity Jepang: “Saya Tidak Pernah Menyentuh PC”

November 16, 2018 9:37 am
Menteri Cybersecurity Jepang: “Saya Tidak Pernah Menyentuh PC”

Pada tanggal 14 Oktober, Menteri yang bertanggung jawab atas Olimpiade Tokyo 2020 dan Paralimpiade, Yoshitaka Sakurada; ditanyai oleh anggota partai oposisi dalam Diet (Parlemen) Jepang. Dalam satu diskusi khusus dengan anggota Partai Konstitusional Demokrat, Masato Imai; Sakurada mengakui fakta yang mengejutkan.

Masato: “Apakah Anda pernah menggunakan PC?”

Sakurada: “Sejak saya berumur 25 tahun, saya menjalankan bisnis sendiri, jadi saya selalu punya sekretaris dan karyawan, oleh karena itu saya tidak pernah menyentuh komputer secara pribadi.”

Masato: “Saya tidak percaya bahwa seseorang yang tidak pernah menyentuh komputer bertanggung jawab atas cybersecurity.”

Sakurada: “Itu ditangani secara komprehensif menggunakan seluruh sumber daya dari departemen saya dan pemerintah nasional. Saya yakin tidak ada kekurangan dari keamanannya. ”

Sebagai pimpinan tugas Sakurada memang lebih berfokus di pendelegasian tanggung jawab ke spesialis di bawahnya. Hanya saja orang yang mengaku tidak pernah menyentuh komputer sekalipun itu kurang cocok untuk mengambil keputusan di disiplin ini, apalagi bila dia bertanggung jawab pada keamanan acara global seperti Olimpiade.

Komentar yang beredar lebih terkejut dengan fakta bahwa seseorang bisa bekerja tanpa komputer di jaman sekarang:

“Apakah dia tidak tahu kita bisa dapat banyak porno dari sana?”
“Lupakan cybersecurity, bagaimana dia bisa kerja di jaman sekarang?”
“Mungkin dia hanya tahu smartphone dan tablet, seperti generasi muda sekarang.”
“Dia ahli cybersecurity. Cara paling mudah untuk mencegah hacking adalah tidak memiliki komputer sama sekali. Jenius! “

Pernyataan menteri berusia 68 tahun itu datang pada saat yang sama ketika Microsoft Jepang memperingatkan peningkatan risiko serangan cyber ke negara tuan rumah Olimpiade. Pada tahun yang sama dengan Olimpiade, Microsoft akan mengakhiri dukungannya terhadap Windows 7. Melihat institusi itu tergolong lamban dalam melakukan update keamanan, apalagi perusahaan dengan tradisi Jepang, 2020 akan menjadi tahun yang berbahaya untuk Cybersecurity Jepang.

Sumber: Soranews