[Review] Maquia: When the Promised Flower Blooms

November 20, 2018 3:55 pm
[Review] Maquia: When the Promised Flower Blooms

Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Mungkin pepatah ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Maquia: When the Promised Flower Blooms” (Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou) menghadirkan kisah seorang Iorph bernama Maquia bagaimana ia bertemu dengan seorang dari ras manusia yang bernama Ariel yang mengubah benang kehidupannya.

Iorph sendiri adalah suatu ras yang memiliki fisik seperti manusia umumnya. Namun yang membedakan mereka dengan manusia adalah usia hidup Iorph jauh lebih panjang daripada manusia umumnya sehingga tidak heran walau sudah berusia ratusan tahun wajah mereka masih fresh awet muda tahan lama.

Scenery Visual yang Memanjakan

Diawali dari kisah kehidupan Maquia sebelum bertemu Ariel dan memulai perjalanan panjangnya, Maquia hanya bekerja menenun kain yang disebut hibiol bersama seluruh ras Iorph di sebuah desa jauh dari jangkauan manusia.

P.A. Works sebagai studio animasi yang bertugas berhasil menggugah hati para penonton dengan berbagai sentuhan indah terutama bisa dilihat di background tiap scene yang ada. Contohnya saja saat scene menenun diperlihatkan detail sehingga kita bisa melihat proses secara jelas bahkan tiap benang bisa terlihat dengan paduan warna-warni yang memukau.

Animasi yang smooth dapat terlihat dari ekspresi karakter yang aktif berubah di berbagai scene. Saya sendiri ga tahan liat ekspresi Maquia baik yang gemesin maupun yang bikin nangis.

Duh pipi tembemnya itu loh

Dari Gadis yang Penakut, Menjadi Ibu yang Dapat Diandalkan

Perubahan karakter dalam movie ini juga dapat terlihat signifikan. Setelah menemukan bayi manusia yang kemudian diberi nama Ariel, Maquia perlahan berubah dari gadis yang penakut menjadi ibu yang bisa diandalkan. Sedangkan Ariel makin tumbuh dewasa.

Tidak hanya Maquia dan Ariel saja, karakter lain seperti Leila, Krim, Izol dan Lang walau hanya bertindak sebagai supporting characters tapi kita masih bisa melihat peran dan perubahan yang drastis. Hal ini tidak lepas dari campur tangan Okada Mari (Toradora, Nagi no Asukara) yang menangani script dan storyboard.

Alur yang super ngebut

Dari sekitar dua jam total durasi yang ada, kurang lebih 1 jam 30 menit dalam movie ini menggunakan alur maju yang merangkum jalannya cerita dalam kurun waktu antara 20 hingga 70 tahun. Tidak heran ada banyak time skip yang perlu dilakukan agar memenuhi durasi tayang yang pas. Penonton dipaksa harus jeli karena dalam alur maju beberapa poin penting tidak mengalami pengulangan, apalagi dengan tempo cerita yang cukup cepat.

Air Mata yang Tak Dapat Terbendung

Satu-satunya flashback yang dihadirkan dalam anime ini adalah pada bagian endingnya. Saya sudah mencoba menahan air mata selama cerita berlangsung, tapi tetap saja, bruh I can’t resist the crying scene. Sepertinya para staff tahu benar kalau menyimpan senjata utama di bagian akhir yang bagian flashback adalah sangat mujarab. Tidak peduli sekuat Anda menahan, pasti akan luluh mengingat perjuangan seorang bunda tidaklah mudah membesarkan seorang anak.


Tangis Maquia yang tak dapat terbendung

Overall

Terlepas dari tak adanya notable OST yang bisa dimasukan ke list, anime ini sangat recommended bagi kalian karena banyak sekali pesan moral yang dibagikan dalam anime ini. Kasih ibu yang tiada tara, arti dari kebebasan, bagaimana nilai sebuah perpisahan adalah contoh yang bisa kita dapat dari anime ini. Satu lagi pelajaran berharga yang bisa kita pelajari dari anime besutan P.A Works.