[Review] I Want to Eat Your Pancreas

December 24, 2018 5:44 pm
[Review] I Want to Eat Your Pancreas

“Uwahahaha…”

-Yamauchi Sakura

I Want to Eat Your Pancreas merupakan sebuah film movie anime adaptasi dari novel karangan Sumino Yoru dengan ilustrasi oleh Loundraw yang berjudul Kimi no Suizou wo Tabetai (君の膵臓をたべたい). Sebelumnya novel keluaran tahun 2015 ini sudah mendapat adaptasi manga dengan judul sama dengan aslinya yang digambar oleh Kirihara Idumi di tahun 2016 dan juga live action yang berjudul “Let Me Eat Your Pancreas” pada tahun 2017. Kamu bisa menemukan novel dan manganya di toko buku seperti Gramedia. Film live actionnya sendiri telah tayang sebelumnya dalam Pekan Sinema Jepang 2018 beberapa waktu lalu.

Bersyukurlah wahai Indonesia, anime debutan September 2018 ini sendiri nantinya akan tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 26 Desember 2018, lebih cepat 2 bulan daripada yang di Amerika. Dan untungnya, JOI diberi kesempatan oleh Moxienotion untuk mencicipi movie ini yang tayang premiere pada tanggal 20 Desember kemarin di CGV Grand Indonesia sehingga dapat menulis review ini (thanks to Encore Films too). Sebenarnya apa yang menjadi rahasia mengapa series ini tergolong cukup sukses hingga mendapat adaptasi yang begitu lengkap untuk sekelas novel pertama yang dibuat seorang penulis yang mulai menulis sejak SMA?

Sebelum membahas anime ini, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu. Biasanya dalam menulis sebuah review saya selalu menghindari spoiler, namun untuk series yang ini sangat sulit untuk melakukannya sehingga review ini akan memuat section khusus untuk spoiler. Buat kamu yang mau menghindari spoiler bisa skip bagian spoiler yang telah diberi tanda peringatan setelah 4 poin yang dibawah ini dibahas.

Sedikit tentang pankreas

Saya sangat setuju apabila judul lah yang membuat series ini begitu menarik. Jarang sekali ada yang membahas organ kecil didekat hati ini. Jika membahas organ dalam manusia, kebanyakan orang berpikir mengenai organ vital seperti otak, jantung, bahkan ginjal.

Pankreas berkontribusi besar dalam mengatur kadar gula dalam darah dan menghasil beberapa enzim untuk pencernaan, salah satunya insulin. Dalam real life sebenarnya manusia dapat hidup tanpa pankreas. Beberapa penyakit yang menyerang pankreas juga sudah dapat diatasi oleh ilmu kedokteran masa kini. Lantas mengapa Sakura bisa kena vonis mati dalam kurun waktu setahun gegara pankreas?

Dalam animenya tidak disebutkan dengan jelas penyakit pankreas apa yang diderita Sakura. Namun besar kemungkinan itu adalah kanker pankreas. Penyakit ini bisa dibilang silent killer karena seringkali tidak terdeteksi ketika masih baru tumbuh dan baru ketahuan saat sudah mencapai tahap yang parah. Operasi untuk mengangkat pankreas juga sulit karena berisiko fatal pada pasien. Saya sendiri sudah merasakan kehilangan orang penting karena penyakit yang satu ini. Kemungkinan kedua adalah pankreatitis. Penyakit ini membuat jaringan pankreas mati sehingga tidak dapat berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Kedua penyakit ini berpotensi menyebabkan kematian bagi penderitanya.

Aku dan Si Kapal Pemecah Es

Setelah mendapat pelajaran biologi dari BlueHeaven-sensei, kini kita geser topiknya ke pelajaran Bahasa Indonesia. Jelas sekali dalam anime ini mengambil sudut pandang orang pertama dari tokoh utama yang disebut “Aku” (“Me“/”“).Kamu akan diperlihatkan sepanjang film berlangsung bagaimana jalan cerita kedua tokoh utama yakni si “Aku” dan Yamauchi Sakura berjalan menurut sudut pandang si “Aku”. Monolog akan selalu dibawakan oleh si “Aku”.

Kedua tokoh utama memiliki sifat yang bertolak belakang. Sang “Aku” lebih cenderung introvert, menutup dirinya dengan orang luar, lebih menyukai novel ketimbang bersosialiasi. Sedangkan Sakura, ia adalah gadis hiperaktif, ceria, mudah bergaul dengan sesama dan suka terlibat dalam masalah.

Hubungan mereka sulit dijelaskan dengan kata-kata seperti cinta maupun persahabatan. Sakura selalu mengikuti “Aku” begitu juga sebaliknya. Sakura ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan “Aku”, sementara “Aku” tidak bisa menolak permintaan si gadis yang tervonis mati dengan penyakit pankreas ini. Ibaratnya, “Aku” adalah kapal daun yang hanyut terbawa arus sedangkan Sakura adalah kapal pemecah es. Barangkali inilah yang disebut pelajaran fisika mengenai konsep kemagnetan dimana apabila kutub selatan bertemu dengan kutub utara akan membuat benda saling tarik-menarik.

Cerita dalam anime ini hanya menampilkan sedikit karakter sesuai dengan novelnya. Sekitar 80% isi dari anime ini berpusat pada kedua tokoh sentral. Tokoh pembantu disini memiliki peran seminim mungkin. Hanya Kyoko, teman terdekat Sakura sejak dari SMP yang memiliki peran cukup besar dalam bagian 20% tersebut.

Animasi yang luwes dan art yang diluar prediksi

5 menit pertama saya dihadapkan dengan bagaimana ekspresi Sakura yang begitu smooth. Hal ini kemudian dipertahankan sampai anime selesai. Gerakan karakter terlihat luwes, benar-benar animasi yang sangat baik dipertontonkan oleh Studio VOLN yang masih sedikit dalam kuantitas anime yang dibuat.

Namun jujur saya sempat kecewa melihat beberapa art yang diluar ekspetasi saya. Mungkin saya terlalu banyak berharap kalau-kalau anime ini bisa bersanding dengan Kimi no Nawa ataupun karya Makoto Shinkai lainnya. Detail beberapa bangunan sebenarnya cukup baik, namun saya terganggu dengan bagaimana beberapa latar belakang yang diperlihatkan masih kurang sempurna, barangkali saya yang sensian tapi tetap itu cukup membuat kokoro saya agak retak.

Sumika dan beberapa efek suara yang menonjol

Sumika telah meramaikan dunia anime tahun 2018 dengan penuh warna. Mereka berkontribusi dalam lagu pembuka Wotakoi yang terkenal dengan gaya nyelenehnya dan nada penuh keceriaan.

Dalam anime ini Sumika membawakan 3 lagu yang masing-masing berjudul: “Fanfare“, “Himitsu“, “Shunkashuutou“. Ketiga lagu ini dibawakan dengan sangat baik namun yang paling saya sukai adalah “Himitsu”. Untuk lebih jelasnya nanti akan dijelaskan dalam spoiler section.

Saya sangat mengapresiasikan bagaimana tim audio bekerja dengan sangat baik. Efek suara yang begitu detail bisa masuk dengan harmonis di gendang telinga saya membuat saya terkagum. Beberapa back song pengiring ketika karakter sedang berada di cafe atau semacamnya terdengar sangat jelas membuat saya perlu menyampaikan kalau mungkin ini adalah bagian terbaik dalam anime ini.

It’s impossible for me to write this without spoiler, so here’s the spoiler section

Di section ini saya akan mengungkap plus-minus anime ini lebih mendalam dengan spoiler berat tentunya. Sangat dianjurkan untuk menonton animenya terlebih dahulu selain membaca novel dan manganya untuk membaca section ini. Silahkan scroll sampai kalimat bercetak tebal kembali muncul apabila kamu ingin menghindari spoiler.

 

 

 

 

 

Disini saya akan mengkaji lebih dalam anime ini dengan bumbu spoiler. Karena banyak hal yang perlu saya bahas jadi kita langsung saya tanpa basa-basi.

Pertama adalah soal penyelewengan adaptasi. Kalau melihat manga, karakter Sakura digambarkan sebagai sosok LSBH. Di animenya Sakura memiliki rambut berwarna coklat. Tentu saja ini membuat saya kecewa. Namun apabila melihat bagaimana mereka menganimasikan karakter yang disuarakan oleh Lynn ini, saya ga bisa banyak protes. Karakter “Aku” juga terlihat lebih lemah dan plain dibanding dengan aslinya. Perbedaan rupa karakter juga sebenarnya terlihat pada karakter seperti mantannya Sakura maupun Kyoko. Lebih jelasnya kamu bisa liat manganya langsung.

Selain desain karakter, penyelewengan juga terjadi dalam beberapa scene. Ada beberapa scene yang membuat terlihat buruk dari sebelumnya namun juga ada yang membuat anime ini terlihat lebih baik dari aslinya.

Saya beri contoh pertama soal scene ketika “Aku” lari dari rumah Sakura kemudian dicegat oleh mantannya Sakura. Disitu terlihat begitu fail-nya penolakan yang diutarakan Sakura kepada si mantan setelah mengucapkan “sayonara!”. Jika mereka ingin merubah scene itu seharusnya dibuat lebih dramatis dengan membuat si mantan lari terbirit-birit sambil meneriakan kekesalan. Dalam novel dan manganya dengan jelas adegan tersebut digambarkan Sakura menggotong “Aku” kerumahnya sedangkan Takahiro (hell yeah damn you Takahiro penulis Yuusha series) sang mantan terpaku berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Untuk adegan improvisasi yang bagusnya tentunya ada di scene hanabi. Scene ini tidak tertulis di novel maupun manga karena sejatinya setelah perpanjangan 2 minggu opname Sakura, “Aku” tidak pernah menyetujui Sakura untuk keluar dari rumah sakit untuk jalan-jalan. VOLN sangat peka ingin merealisasikan kemungkinan untuk keinginan terakhir Sakura yang terwujud sebelum ia meninggal dengan memberinya adegan cukup mewah dengan 3D fireworks dan lagu “Himitsu” yang dimainkan Sumika. Benar-benar scene yang menusuk kalbu, Best scene of this anime.

Beberapa improvisasi juga telihat dalam beberapa scene seperti “Aku” yang memungut buku Sakura di rumah sakit setelah jatuh (aslinya buku tetap pada bangkunya), adegan berandalan yang menabrak nenek tua (di novel adegan ini ada di sebuah toko saat mereka liburan dengan tokoh pemalak tante-tante), atau “Aku” yang sudah ketahuan namanya yakni Shiga Haruki mengejar Kyoko pada last scene sebelum credit. Hal ini tidak ada dalam manga maupun animenya, kalau untuk live actionnya saya belum cek.

Sebagai penutup dari spoiler section, saya ingin membahas klimaks dalam anime ini. Apalagi lagi kalau bukan bagian dimana Haruki membaca keseluruhan isi dari “Kyouboubunko” (ada banyak terjemahan mengenai judul dari buku jurnal ini jadi saya menggunakan judul aslinya saja). Seharusnya saya bisa menangis dalam scene ini. Dua kali sebelumnya saya membaca manga chapter 9 ini, dua kali juga saya menangis namun tidak demikian yang terjadi ketika menonton anime ini. Mungkin karena adegan last wish yang membuat saya gagal mencucurkan air mata. Entah mungkin karena pengaruh BGM, tangisan nanggung Haruki yang dicut monolog, atau penggambaran pohon sakura yang disertai background warna warni dan baju Sakura yang kurang cocok dimata saya. Saya berharap hanya sedikit orang yang seperti saya dibagian klimaks ini.

Should be white dress, I think

Ini adalah akhir dari spoiler section. Silahkan lanjutkan membaca bagian artikel ini yang bebas dari spoiler.

Verdict: 8/10 Recommended

Bersiaplah dengan berbagai humor yang menggelitik, adegan dorong-dorongan dan unlimited smug face. Anime ini dibuat agar penonton dari kalangan remaja hingga dewasa bisa menikmati cerita yang dibuat Sumino Yoru ini. Jika ditanya apa sih yang bisa kita dapat dari sebuah anime yang karakter utamanya mati ini? Sebuah pelajaran kehidupan tentunya. Kamu bisa menemukan banyak quote dari Sakura yang lebih bermakna daripada kalimat pertama dalam artikel ini.

Jika kamu berminat untuk menontonnya, anime bisa segera kamu tonton selama libur akhir tahun mulai tanggal 26 Desember di bioskop yang menyediakannya. Jangan sampai lewatkan untuk menonton anime ini kalau emang kamu seorang otaku.

WildPanda: Film yang menyenangkan untuk ditonton di Akhir Tahun

Saya menonton ini dengan ekspetasi yang biasa saja karena sudah lama sejak menonton trailernya dan menaruh ekspetasi yang biasa saja akan memberikan kesenangan yang lebih. Di akhir film saya mendapatkan sebuah pengalaman yang mengajarkan sebuah pandangan hidup dalam menghadapi kematian dan dalam menjalani hubungan dengan orang lain.

Konsistensi animasi dan keindahan gambar latar belakang yang ada cukup memanjakan mata. Desain karakter oleh loundraw diterjemahkan dengan apik menjadi karakter-karakter yang bergerak dengan luwes di layar dan berbagai macam ekspresi wajah yang pas banget.

Performa Lynn sebagai Yamauchi Sakura sangatlah bagus dan benar-benar terasa berbagai macam emosi dan keusilan Sakura kepada “Me”, banyak sekali momen usil maupun yang mengguncang hati dibawakan dengan sangat pas sehingga terasa sekali karakter dari Sakura. Performa Mahiro Takasugi sebagai Me yang tenang dan snarky sangat berimbang dengan Lynn. Dengan hampir mayoritas penonton cuma menonton 2 karakter ini berbicara satu sama lain maka performa Lynn dan Takasugi membuat dialog antara Sakura dan “Me” enak untuk ditonton.

Soundtrack gubahan Seibu Hiroko berhasil dalam mengiri berbagai emosi yang dibawakan oleh berbagai adegan di film ini. Tidak ada adegan di film ini yang membuat saya berpikir “Wah lagunya gak pas nih”, yang ada lagu-lagu yang dibuat menjadi ambient di adegan nongkrong di cafe sangat pas dan membuat makin terasa sedang mengobrol dengan sakura di cafe.

Film ini sangat layak ditonton untuk hiburan akhir tahun dan menyambut tahun yang baru. Anda tidak akan dikecewakan dengan cerita dan animasi yang ada di film ini.