[Review] Liz to Aoi Tori

December 27, 2018 7:21 pm
[Review] Liz to Aoi Tori

Diantara popularitas movie anime lainnya di tahun 2018, nama Liz to Aoi Tori” masih jarang terdengar di kalangan para otaku. Hal ini sangat disayangkan karena Liz to Aoi Tori menyajikan kualitas yang mumpuni untuk menjadi movie of the year-nya anime tahun ini. Berikut sinopsis dan ulasan dari hidden gem yang satu ini.

Sinopsis

Yoroizuka Mizore dan Kasaki Nozomi adalah teman baik sejak SMP. Mereka bergabung dengan klub Band Orkestra SMA Kitauji. Nozomi memainkan flute sedangkan Mizore memainkan oboe. Kini, dalam tahun ketiga SMA mereka, klub mereka memutuskan untuk menampilkan Liz und ein Blauer Vogel (Liz and the Blue Bird). Melalui cerita ini, mereka menyadari bahwa hubungan mereka tidak bisa kekal selamanya.

Ulasan

Bukan Hibike Euphonium

Liz to Aoi Tori mungkin boleh mengambil setting dari Hibike Euphonium tetapi sejatinya movie ini adalah sebuah kisah yang berbeda, terpisah dari kehakikian Hibike Euphonium. Kamu bisa melihat perbedaan yang mencolok antara movie ini dengan movie Hibike Euphonium sebelumnya. Tidak ada embel-embel Hibike Euphonium dalam judul anime ini. Sangat berbeda dengan 2 movie sebelumnya yang menggunakan Hibike Euphonium di awal penulisan judulnya.

Perbedaan selanjutnya adalah bagian staff. Jika kamu fans Kyoani (Kyoto Animation) sejati pastinya kamu menyadari kalau anime ini dikerjakan oleh tangan legendaris. Siapa lagi kalau bukan Yamada Naoko yang berperan menjadi sutradara K-ON. Anime ini juga dikerjakan oleh orang-orang yang sama mengerjakan Koe no Katachi pada tahun 2016 lalu. Sebuah susunan yang jauh berbeda dibanding staff Hibike Euphonium umumnya yang dipimpin oleh Ishihara Tatsuya.

Astonishing art and improved well by Kyoani

Kalau dibandingkan dengan karya Kyoani sebelumnya yakni Koe no Katachi saya bisa melihat betapa jauh berkembangnya art yang dikerjakan Kyoani. Kyoani sukses membuat saya hanyut dalam dunia Mizore dan Nozomi. Sulit untuk dijabarkan melalui kata-kata, hanya bisa mengagungkan betapa indahnya art yang ditunjukan Kyoani.

Kyoani membuat anime dalam 2 tampilan yakni cerita Liz sendiri dan Mizore – Nozomi. Keduanya memiliki ciri khas art sendiri, begitu pula dengan animasinya. Saya masih terngiang bagaimana kibasan ponytail Nozomi bagaikan denting metronome yang memiliki ritme tertentu serta cara burung mengepakan sayapnya. Mizore juga terlihat lebih cantik dengan berbagai detail terutama di bagian rambut dan mata.

This is important.

Perpaduan warna, kontras, dan lainnya terlihat begitu sempurna sehingga saya sulit menemukan kelemahan dari anime ini. Satu-satunya bagian yang rancu mungkin adalah proporsi leher yang terlihat agak panjang tapi setelah menontonnya semuanya itu terlupakan dengan indahnya art yang ditampilkan.

2 Kisah, 1 Tujuan

Liz adalah sebatang kara, hanya hewan-hewan di hutan lah temannya, salah satunya seekor burung biru. Sampai suatu waktu ia bertemu gadis berambut biru yang tidak lain tidak bukan adalah burung biru temannya sendiri.

Penggambaran cerita Liz dan burung biru sangatlah cocok dengan kisah Nozomi dan Mizore. Sebenarnya cerita mereka cukup simpel namun Kyoani sukses membuat kisah ini dramatis. Betapa bahagianya saya cerita ini tidak terganggu dengan peran major dari karakter utama Hibike Euphonium, Kumiko dan gengnya. Fokus cerita hanya untuk Nozomi dan Mizore sedangkan tokoh lainnya hanya supporting roles, tidak lebih.

Finally, the music…

Tidak ada yang bisa menandingi musik Liz to Aoi Tori dari semua anime movie keluaran tahun ini. Sebuah musik dikatakan sukses apabila bisa membuat penonton masuk ke dalam dunia cerita yang ditampilkan.

Kolaborasi flute dan oboe yang luar biasa disertai iringan harpa dan beberapa instrumen pengiring membuat saya terpana. Benar-benar saya bisa merasakan bagaimana makna dari tiap lagu yang dilantunkan. Ekspresi yang begitu dalam tentang rasa sakit, kesedihan, kebebasan bisa tergambar dalam setiap melodi orkestra yang dimainkan. Semua itu masih terus bergema di pikiran dan menggetarkan jiwa saya. Tidak sia-sia Yamaha mensponsori brand Hibike sejak season 1.

Verdict: A Hidden Masterpiece of This Year

Hampir tidak bisa saya temukan kelemahan dalam anime ini. Mungkin satu kekurangannya adalah cerita yang gampang diprediksi karena terlalu simple tapi keseluruhan cerita terutama bagian klimaks di part 3 disusun begitu dramatis sehingga tidak ada kebosanan dalam menontonnya.

Film ini juga dapat ditonton buat kamu yang belum pernah nonton Hibike Euphonium meskipun untuk lebih jelasnya kamu bisa mengecek beberapa detail cerita dalam season 2 agar lebih paham dengan latar belakang masing-masing karakter. Jangan sampai lewatkan untuk menonton anime durasi 1 jam 30 menit untuk rasakan sensasi mahakarya tahun ini.