[Review] SSSS.Gridman

December 31, 2018 3:49 pm
[Review] SSSS.Gridman

Anime buatan Trigger itu punya kebiasaan jelek di mana momentum paruh awalnya yang kuat itu tidak digunakan dengan baik sehingga menghasilkan paruh akhir yang lemah. Oleh karena itulah saya bersyukur banget SSSS.Gridman bisa menjaga kualitasnya dari awal sampai akhir, dan saya akhirnya menemukan anime konvensional Trigger yang saya suka secara keseluruhan (anime non-konvensional terbaik Trigger masih dipegang Turning Girls).

SSSS.Gridman untuk ketiga kalinya menceritakan soal seorang anak yang sisi buruknya diperparah akibat manipulasi mahluk dari dunia lain. Anak tersebut dikhianati namun disaat terakhir membantu Gridman untuk mengalahkan sang monster dan bisa mulai memperbaiki diri mereka saat menyadari kalau mereka tidak sendirian dalam penderitaan mereka. Ini adalah cerita yang dialami Takeshi Todo dan Malcolm Frisk di generasi sebelumnya, yang sekarang dialami Akane Shinjou.

Review kali ini akan lebih fokus di cerita dan tema. Untuk detil produksinya bisa kalian lihat pada Midseason Review kemarin.

Let’s talk about the World of Gridman

Berhubung sistem dunia cerita seri ini berlangsung nggak secara penuh dijelaskan. Saya akan beri penjelasan berdasarkan eksposisi yang diberikan para karakter dan pengetahuan saya pada setting ini yang mungkin aja nggak akurat berhubung seri ini usianya udah hampir dua dekade. Kalian kemungkinan besar punya pembacaan tersendiri soal dunianya, namun persepsi saya terhadap dunia ini bakal jadi dasar bagaimana saya melihat konflik dan tema anime ini.

Sejak Midseason Review dulu, sudah ada lebih banyak petunjuk mengenai seri sebelumnya, namun saya masih berpendapat pengetahuan atas prekuel seri ini tidak diwajibkan. Hanya saja detil vital seperti para “manusia” yang disebut langsung sebagai Compoid (lebih tepatnya Replicompoid) oleh Alexis sempat kelewat di subtitle yang saya lihat. Compoid sendiri merupakan sebutan untuk manusia dunia digital yang di seri sebelumnya sudah muncul. Detil ini setidaknya memastikan lokasi dari setting-nya.

Di setting Gridman, dunia terbagi menjadi dunia nyata (adegan ending), komputer (dunia digital tempat cerita terjadi), Hyper (asal Gridman), dan Makai (asal Alexis) yang berfungsi secara independen. Tidak seperti seri sebelumnya di mana Kaiju digunakan antagonis untuk mengambil alih barang elektronik (untuk ngebuat air mancur numpahin asam atau jam digital ngendaliin tangan manusia, because Toku genre is wild), Akane menggunakan Kaiju untuk membuat dunianya sendiri di dunia digital.

Akane merupakan dewa kota digital ini seperti kita merupakan dewa sel kita. Memang mereka bisa ada karena sang dewa, tapi itu bukan berarti si dewa bisa ngendaliin perangai ciptaan mereka. Akane yang sadar kalau dirinya nggak bahagia di dunia yang didesain untuk mencintainya itu akhirnya runtuh dan sesuai rencana Alexis menjadi menu favoritnya.

Sekarang kita bisa mulai ngomong soal sang pasien. Peran Akane bukan hanya sebagai karakter di anime ini, tapi juga fondasi dari dunianya.

Let’s finally talk about Akane

Mari kita lihat Akane lewat hal yang secara eksplisit ditunjukan oleh anime-nya. Seseorang yang menghabiskan banyak tenaga untuk berpura-pura menjadi manusia. Seseorang yang tidak mampu berinteraksi dengan manusia lain. Seseorang yang merespon aksi buruk (baik sengaja atau tidak) orang lain dengan pembunuhan. Seseorang yang hanya bisa melihat dirinya sebagai Kaiju. Dia bisa “hidup” di dunianya karena sudah diberi alat untuk melakukan apapun yang dia mau dan tidak bisa dibenci penduduknya akibat posisinya sebagai dewa. Agar evaluasi ini tidak bertele-tele saya akan fokus di dua karakter yang mewakilkan aspek penting dirinya. Seperti yang ditunjukkan gambar di bawah.

Rikka tinggal di toko di mana “hal-hal yang tidak berguna dibuang”. Dia mencintai Akane bukan karena cuci otak atau manipulasi lain, tapi karena memang itu tugasnya sebagai “Rikka”. Seperti sel darah merah yang tugasnya mengantar oksigen dan nutrisi. Kepercayaan diri, self-esteem, dan aspek sejenisnya diwakilkan oleh Rikka atau mungkin lebih tepatnya “dibuang” menjadi Rikka. Akane yang sudah bebas dari Alexis sudah tidak memerlukan lagi dunianya dan Rikka, dan Rikka berharap Akane tidak memerlukan dirinya lagi karena Akane harus bisa bergerak dengan keyakinannya sendiri.

Anti saya lihat sebagai sisi “jujur” Akane. Dirinya berantakan, kasar, rakus, dan lebih seperti binatang liar. Dengan semua keburukan ini, Anti bisa lebih produktif dibandingkan Akane karena dirinya jujur dan tidak pernah takut menghadapi tantangan dan terus belajar. Sampai Rikka sendiri mau repot-repot mandiin aspek jujur ini. Pada akhirnya Kaiju ini bisa menjadi setengah “manusia” di akhir episodenya. Sehingga ada harapan untuk Akane sekalipun untuk bisa maju juga, melihat musim kotanya sekarang beralih ke musim dingin dari musim panas, nampaknya dia sudah mulai bergerak.

Return of OG Gridman

Selama ini aksi duel Kaiju seri ini itu didesain agar Gridman dan Kaiju bergerak seperti ada orang di dalamnya, yang secara harfiah terjadi di episode 10. Namun di episode akhir ini baik Alexis dan Gridman menggunakan animasi 2D khas Trigger yang energetik. Durasi aksinya memang lebih pendek dari animasi Trigger pada umumnya, tapi klimaks emosionalnya berhasil dicapai dengan baik. Lucunya, saya ngerasa ngedapetin ijin buat mainin “Yume no Hero” itu bagian paling sulit dari produksi finale ini.

Saya sering denger klimaksnya anime itu dianggap sebagai Deus ex Machina, namun Fixer Beam adalah loadout paling standar Gridman di seri sebelumnya. Setelah mengalahkan Kaiju di dunia digital, Beam digunakan untuk menyelesaikan masalah utama episode itu (seperti mengembalikan jam GMT dan membuat senapan laser tag berhenti nembakin laser beneran, again Toku genre is wild). Bisa dibilang “upgrade” terakhir Gridman itu terjadi karena dia ingat kalau dia itu posisinya sebagai healer dan selama ini dia cuma inget pake skill DPS aja. Dari dulu Gridman memang datang lebih untuk memperbaiki masalah daripada bertarung melawan Kaiju.

Verdict: Take Care of Yourself

Saya memegang teguh posisi kalau sebuah seri perlu minta penontonnya untuk ngecek materi diluarnya agar bisa ngerti dengan isinya, seri itu gagal menggunakan waktu tayangnya dengan baik. Namun walaupun untuk penonton yang buta soal sejarah seri Gridman sekalipun, saya optimis cerita tentang gadis yang hanya bisa melihat dirinya sebagai Kaiju karena menjadi manusia itu terlalu menyakitkan masih bisa ngena dengan penonton pada umumnya.

Saya juga kurang senang dunia tanpa Akane tidak lebih ditelusuri lagi, namun berhubung direncanakan bakal ada lebih banyak bonus audio-drama yang disiapkan untuk BD saya rasa untuk dapat detail tentang Hibiki Yuta yang asli kita masih menunggu lebih lama. Sejauh ini audio drama ngasih banyak banget karakterisasi untuk karakter pendukungnya.

Sebelumnya di pertengahan musim ada isu yang digoreng jadi tuntutan plagiarisasi Obari, seperti yang bisa kalian lihat di atas Masami Obari sendiri akan berkontribusi pada bonus BD SSSS.Gridman. Kalaupun benar ada konflik besar sekalipun sekarang paling tidak sudah ditanggulangi dan berakhir dengan tentram. Dari panel Trigger di Malaysia dikatakan Trigger dan Tsuburaya masih akan bekerja sama. Melihat cocoknya Akira Amemiya dan Keiichi Hasegawa dalam mengerjakan proyek ini, saya sangat menantikan proyek selanjutnya.