Sejumlah Asisten Produksi Anime Berbagi Masalah Pekerjaan Mereka Melalui Survey

May 3, 2019 9:57 am
Sejumlah Asisten Produksi Anime Berbagi Masalah Pekerjaan Mereka Melalui Survey

Sebuah blog yang dijalankan secara pribadi, Sakuga Blog merilis hasil survey mengenai produksi animasi pada hari Selasa lalu. Tercatat ada 25 asisten produksi anime yang menjadi responden dari survey ini.

Bekerja Lembur

Berdasarkan hasil survey, 96% responden bekerja lembur, dengan 72% mengatakan mereka “selalu” melakukannya. Hanya 20% mengatakan mereka tidak bekerja lembur pada akhir pekan dan hari libur nasional. Ditambah lagi, terhitung mencapai 76% responden tidak mendapat uang hasil kerja lembur mereka. 44% responden juga mengatakan mereka kadang-kadang bekerja lembur tanpa dibayar, sementara itu 32% responden mengatakan mereka “selalu” melakukannya. Salah satu responden juga menuturkan bagaimana mereka berekspektasi akan ada panggilan dari kantor mereka. “Kalian tidak akan bisa jalan-jalan jika sesuatu terjadi dan kalian harus membantu untuk (produksi) episode lainnya juga.”

Kekerasan Kekuasaan

Lebih jauh lagi, 76% responden menuturkan mereka sering mendapat kekerasan (secara fisik atau psikis) dari atasan mereka. 56% responden juga mengatakan hal itu kadang-kadang terjadi, sementara itu 20% responden menganggap hal itu selalu terjadi.

Salah satu testimoni dari responden: “Aku keluar dari pekerjaanku di studio tidak hanya karena upah lembur yang tidak dibayarkan, tetapi juga gajiku sebesar 100.000 yen. Ada juga beberapa kasus dimana atasannya memberikan beban pekerjaan yang sangat berat kepada para pekerja baru hingga mereka kehabisan tenaga, dan kemudian secara tiba-tiba memecat mereka tanpa memberikan alasan… Di studio pertama yang menjadi tempatku bekerja dulu, aku mendengar terdapat kasus bunuh diri sebelum aku bergabung mereka. Studio tersebut menggunakan kartu absen yang mencapai 500 jam bekerja. Kami diberitahu untuk memilih dipukul atau ditendang, dan ternyata ada orang lain yang mengalami cedera akibat dari benturan atau cekikan disana. Aku hanya berharap hal tersebut dapat diperbaiki.”

Komentar Positif

Sakuga Blog sendiri mendapat testimoni positif dari salah satu responden . Responden tersebut bersimpati terhadap keadaan buruk yang dialami oleh para pekerja, namun juga menulis “…kalau boleh jujur topik soal “lembur” sering sekali ditanyakan, waktu yang kuhabiskan untuk bekerja tidak menyakitkan. Saat kata-kata tidak bisa membantu tapi dibayangkan dengan hubungan lembur itu, pengalamanku tidak sama dengan (pekerja) yang lain jika mereka membicarakan tentang waktu lembur. Tentu saja aku tidak berpikir orang yang menghargai waktu diluar pekerjaan mereka harus dipaksa untuk bekerja. Ini masalah bagaimana anda memilih jalan hidup kalian.”

Asisten produksi lainnya juga mengatakan bahwa studio tempat ia bekerja sudah memulai memberikan cuti kepada staf dengan harapan untuk mengurangi waktu lembur. “Namun sistem produksi anime sendiri tidak berubah,” asisten produksi ini juga menulis, “saat kami mendapatkan sebuah seri dengan penjadwalan yang buruk, hari-hari libur itu akan menguap saja dan kami hanya bisa mengendap bekerja lembur setiap harinya. Aku dalam situasi dimana studio sendiri yang memperbaiki kebijakan mereka, akan tetapi proses produksi dan bagaimana mereka membuat anime belum juga sesuai.”

Kondisi Pekerjaan Lainnya

Survey tersebut juga menerangkan status pekerjaan dari asisten produksi yang menjadi responden. 92% responden mengatakan mereka berstatus karyawan penuh atau karyawan kontrak (dipekerjakan dalam durasi satu produksi atau lebih). 92% juga mengatakan mereka mendapatkan uang transport secara penuh atau sebagian. Setengah dari mereka juga mengatakan telah mendapat bonus dan kenaikan gaji. Hal ini sangat kontras dengan para animator, dimana sebagian besar dari mereka tidak berstatus karyawan.

Sakuga Blog menekankan tempat bekerja dan pengalaman dari responden sangat bervariasi, sehingga sampel terkecil dari survey ini tidak seharusnya menjadi perwakilan dari keseluruhan.

Latar Belakang

Pada 5 April lalu, asisten produksi dari studio Madhouse bergabung dengan serikat pekerja dan memulai proses perundingan bersama. Asisten produksi yang tidak diketahui identitasnya tersebut menginginkan kompensasi dari kerja lemburnya, selain itu juga menginginkan permintaan maaf dari Madhouse akibat dari kekerasan di lingkungan kerja yang ia alami. Asisten produksi yang berjenis kelamin laki-laki ini bekerja selama 393 jam selama sebulan di waktu genting, dan beberapa waktu lalu harus dilarikan ke rumah sakit akibat dari kelelahan. Simak artikel kami mengenai kasus ini.

Pada tahun 2010 lalu, salah satu asisten produksi dari studio ternama A-1 Pictures meninggal dunia akibat bunuh diri. Perwakilan dari badan investigasi menuturkan bahwa korban mengakhiri hidupnya dikarenakan depresi berat akibat dari bekerja lebih dari waktunya.

Sumber: Sakuga BlogANN